Oleh : Prayitno Ramelan - 23 Januari 2009 - Dibaca 1879 Kali -
Kamis pagi penulis bermain Golf di Rancamaya, Bogor bersama para pegolf senior dalam acara pertemuan bulanan Club Golf ASGA. Pemain yang berjumlah 167 orang rata-rata sudah berumur diatas 55 tahun,karena itulah syaratnya menjadi pemain kelas senior. Pada saat bermain hujan mendadak turun, para pemain meneduh di shelter, terjadilah obrolan antar pemain-pemain senior tadi.
Yang ikut berdiskusi bermacam-macam kalangan, ada yang mantan jenderal marsekal, laksamana, ada mantan menteri, mantan dirjen, mantan jaksa tinggi, mantan Hakim, pengusaha besar, profesor, pokoknya segala macam kalangan dengan berbagai disiplin ilmu ada disitu.
Topik diskusi adalah tentang kematian, bagus juga dibahas, karena kalau orang sudah menjadi tua maka dia harus berfikir tentang persiapan menghadapi kematiannya, dicabut ruhnya. Saat diskusi ada salah satu golfer yang menyampaikan garis besar tentang kematian bagi manusia. Manusia didalam hidupnya akan menghadapi tiga macam ancaman kematian, yaitu ancaman kematian psikologis, ancaman kematian biologis dan kematian sebenarnya dimana ruh meninggalkan tubuhnya. Dari informasi tersebut penulis mencoba menterjemahkan dan mengulasnya menjadi artikel ini.
Kematian psikologis, adalah suatu kondisi dimana seseorang dalam hidupnya sudah tidak mempunyai semangat hidup, tidak mempunyai gairah. Secara psikologis dia merasa bahwa hidupnya sudah tidak mempuyai arti bagi siapapun, tidak berguna. Dia merasa sudah tidak dihargai, baik didalam keluarganya, dipergaulan dan dipekerjaan. Intinya dia sudah jenuh menghadapi hidup. Hal ini bisa terjadi kepada siapapun, tidak melihat umur, bisa terjadi pada orang yang sangat muda ataupun yang sudah tua. Atau bisa juga terjadi kepada orang yang mempunyai banyak persoalan, dimana dia tidak mempunyai jalan keluar dari persoalannya, maka diapun akan mengalami kematian psikologis tadi. Biasanya bagi orang yang imannya tidak kuat akan mengambil jalan pintas dengan bunuh diri. Bagi mereka yang mengalami kematian psikologis, pada umumnya sudah tidak dapat berprestasi dalam hal apapun.
Kematian Biologis, adalah suatu kondisi dimana seseorang masih dalam keadaan hidup, tetapi kondisi fisiknya membuatnya dia tidak berdaya, hidupnya banyak tergantung kepada bantuan orang lain ataupun alat-alat kedokteran. Kondisi tersebut disebabkan karena yang bersangkutan mengalami kecelakaan, terserang penyakit berat, terserang stroke, terserang kelumpuhan, kebutaan. Kondisi ini jelas terasa sangat menyiksa seseorang, khususnya dalam masalah kejiwaan.
Kematian yang sebenarnya, yaitu kematian dimana ruh seseorang meninggalkan tubuhnya. Kematian ini adalah abadi, karena tubuh yang sudah tidak bernyawa tadi sudah tidak ada gunanya, kemudian dikubur, dikremasi atau dibakar.
Bagaimana menyikapi ancaman tiga kematian tadi?. Untuk menghindari kematian psikologis, manusia sebaiknya harus menjaga ritme kehidupan, menjaga perasaan, menjaga hubungan yang harmonis dikeluarga, dipergaulan, dikantor. Semangat harus tetap terjaga, dia harus lebih terbuka. Sebagai mahluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri, dia harus bergaul, mempunyai teman, sahabat. Dalam sebuah pernikahan suami seharusnya menghargai, mencintai dan menempatkan istrinya pada porsi yang sepantasnya.
Demikian juga sebaliknya, istripun harus memperlakukan suami seperti suaminya memperlakukan dirinya. Kebutuhan rasa aman dan nyaman sangat didambakan seorang wanita. Wanita mahluk yang membutuhkan kasih sayang, cinta dan belaian kasih yang diwujudkan. Sampai dimasa tuapun manusia membutuhkan rasa bahwa dia adalah mahluk yang berguna. Dengan demikian maka kejenuhan hidup sebagai awal dari kematian psikologis, kecil kemungkinan akan menyerangnya.
Kematian biologis kadang sulit diramalkan. Serangan penyakit berat dan kecelakaan adalah awal dari kematian biologis. Oleh karena itu maka manusia didalam hidupnya harus terus waspada, hati-hati. Penyakit berat tidak datang secara mendadak, biasanya terjadi karena akumulasi beberapa penyakit yang dipandang ringan. Manusia harus waspada terhadap makanan, pola hidup, serangan stress, semuanya bisa menjadi penyebab kematian biologis tadi. Banyak manusia karena kesibukannya menganggap ringan gangguan kesehatannya, kecukupan istirahat dan pentingnya olah raga, menghindari sesuatu yang bisa merusak tubuhnya seperti “merokok”. Dengan menjaga semua ini paling tidak kematian biologis akan dapat terhindarkan.
Kematian yang sebenarnya adalah sebuah kondisi yang tidak dapat dihindarkan oleh manusia, bila telah sampai waktunya kemanapun akan bersembunyi, malaikat pencabut nyawa pasti akan datang menghampirinya. Dihari kiamat nanti manusia akan dimintai pertanggungan jawab atas semua yang telah dilakukannya didunia. Oleh karena itu semasa hidup manusia seharusnya sadar bahwa dia harus berbuat baik, menjauhi pikiran jahat, selalu meningkatkan amal dan ibadah. Dengan demikian hidupnya akan tenang dan pasrah dalam menghadapi kematian yang abadi.
Jadi kesimpulannya semasa hidup manusia harus menjaga baik jasmani maupun rohaninya, menjaga ahlaknya, menjaga pola hidup yang baik, menata pikirannya, menjaga semangatnya. Jangan mengikuti nafsu dan ambisi saja, untuk apa jadi pejabat atau tokoh apabila sudah tua, kalau nanti harus menghadapi dua kematian awal tadi sebelum menghadapi kematian yang sebenarnya. Semoga tulisan ringan ini ada manfaatnya bagi kita semua. Amin
PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.
Share on Facebook Share on Twitter
59 tanggapan untuk “Ancaman Tiga Kematian Bagi Manusia”
isabel,
— 23 Januari 2009 jam 3:11 am
Bapak yang terhormat, saya sangat berterima kasih atas nasehat dan obrolan bapak2 tentang kematian ini,saya rasa banyak orang tentu mengalami hal kematian psikologis karna terlalu banyak tekanan dalam hidup ini,sayapun pernah mengalaminya dan masukan dari bapak ini sangat membantu orang yang mau membacanya dan menyadarinya,semoga Tuhan memberkati dan mendengar doa kita smua.Amin
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 5:08 am
Isabel, terima kasih atas tanggapannya. Memang orang tua terlebih kalau sudah kakek-kakek seperti kami ini. salah satu yang bisa diberikan kepada anak, keturunan dan juga kepada masyarakat adalah sedikit peringatan dan nasehat bagaimana mensikapi dan menjalani hidup. Walau bukan ahli ilmu2 yang mengkhususkandiri dalam kehidupan, tetapi orang tua memiliki pengalaman yang sering banyak gunanya bagi yang muda. Saya sangat menghargai kejujuran anda yang mengakui pernak mengalaminya…dan yang patut anda syukuri kalau bisa meloloskan diri dari ancaman tersebut. Harapan saya sama seperti anda, mengingatkan bahwa semakin lama tekanan hidup akan semakin berat…kita harus mampu mengatasinya. Begitu ya Isabel Tanamal…saya sangat sependapat…”doa” itulah yang perlu kita kerjakan terus selama hidup apapun agama yang kita anut. Salam Isabel…tetap tabah.Salam>Pray
R.Ngt.Anastasia Ririen Pramudyawati,
— 23 Januari 2009 jam 5:13 am
..maturnuwun sanget, Bapak..Pengkategorian yang sungguh pas..
karena hakekat setiap diri yang (pasti) terdiri atas raga..sukma.. dan ketergantungan mutlaknya pada Kuasa Sang Khalik.Tiga centre point menyatu yang acapkali tidak utuh dimasukkan ke kotak peduli sebagian pribadi.Perhatian penuh pada aspek raga.. abaikan sukma ..lupa Sang Khalik. Bisa juga sebaliknya.Yang berbuntut Disharmoni diri.
Tiga centre point di atas musti ada, dihargai penuh sang diri, agar tercipta Harmoni yang utuh, di diri.. demi Hidup & Kehidupan.
‘nuwun
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 5:20 am
@Bu Dokter Anastasia, terima kasih tanggapannya, iya betul kadang manusia dalam hidupnya kadang lupa menjaga raganya, kadang lupa menjaga sukmanya , sering lupa dengan sang penciptanya…yang anda sebut disharmoni. Dunia hanyalah sebuah panggung sandiwara yang apbila kita tidak waspada kita tidak menjadi manusia yang seutuhnya tetapi hanya sebagai pemain sandiwara saja…hanya dikuasai nafsu egonya. Begitu ya>Salam.
Chappy Hakim,
— 23 Januari 2009 jam 5:44 am
Wah, mengerikan sekali tuh analisis ?! Tapi kalau golf di rancamaya, ajak-ajak dong !Wassalam,CH
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 5:48 am
Pak Chappy, wah pagi-pagi sudah membaca kompasiana nih pak, saya juga kaget waktu kemarin ngobrol-ngobrol enteng dengan para Golfer itu, yang memberi tahu tentang kematian adalah Pak Mardi Gaharu, kemudian saya coba ulas. sebagai sedikit sumbangan kepada masyarakat. Saya tadi malam membuat artikel ini…memang ngeri juga ya. Golf ASGA tiap bulan dilaksanakan, next month I will inform you deh…home base di Rancamaya. Kata Bang Mardi olah raga bagi orang2 tua yang cocok adalah jalan kaki, tetapi akan lebih sempurna lagi golf, karena golf adalah penggabungan antara fisik dan otak….badan sehat, memperpanjang kemungkinan terserang pikun…Begitu ya Pak.Salam>Pray.
Kusdiyono,
— 23 Januari 2009 jam 7:29 am
Salam hormat Pak…Kalo seseorang mengalami kematian biologis, tidak tertutup kemungkinan ia juga akan mengalami kematian psikologis, yang pada akhirnya menjadi kematian yang sebenarnya. Betul tidak, kira-kira pendapa saya ini.Mohon ijin, jika suatu saat artikel Bapak saya letakkan di blog saya ?
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 7:42 am
Mas Kusdiyono, salam hangat dipagi yang cerah ini. Memang bisa juga seseorang yang karena mengalami kematian biologis kemudian semangat hidupnya hilang, dia tidak mempunyai harapan, dan dia juga mengalami kematian psikologis. Tetapi ada juga seseorang yang walaupun mengalami kematian biologis dan tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi dengan tekadnya, keimanan dan dukungan keluarga, sahabat tetap kuat secara psikologis. Dia mengalami kematian biologis tidak bisa berbuat apa-apa sebagai layaknya manusia normal, akan tetapi dia masih bisa memberikan petuah, nasehat kepada anak keturunannya. Jadi tidak otomatis keduanya menyatu Mas. Tentang artikel2 saya yang akan diletakkan ke Blognya, monggo Mas Kus, begitu artikel sudah diposting di kompasiana, berarti sudah menjadi milik publik juga. Beberapa artikel saya juga sudah diposting dibeberapa blog, ada juga yg situsnya PKS (karena saya membahas PKS). Berarti apa yg saya tulis ada menfaatnya bagi masyarakat ataupun organisasi, yah namanya sampun sepuh Mas, diusia senja ini hanya inilah sedikit sumbangan pemikiran saya. Begitu ya.Salam>Pray.
wijaya Kusumah,
— 23 Januari 2009 jam 7:51 am
Terima kasih pak atas pencerahannya. Saya menjadi lebih siap menghadapi kematian. Karena itu saya harus hidup untuk dapat membahagiakan orang lain dalam berbuat kebajikan.Sehingga ketika ajal menjemput, amal kebaikan kitalah yang akan menghampirinya. Salam.
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 8:05 am
Pak Wijaya Kusumah, terima kasih tanggapannya Pak Guru. Syukur Alhamdulillah ungkapannya, memang kadang kita sangat takut menghadapi kematian itu, banyak misteri didalamnya, terlebih karena merasa qolbu ini masih terasa sangat kotor. Memang yang utama sebagai seorang muslim kita harus “beriman dan beramal soleh” begitu kan Pak Guru?.Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita ya Pak, dosa kedua orang tua kita, juga dosa kaum muslimin dan muslimat yang telah mendahului.Amin…Salam>Pray.
Rahardjo,
— 23 Januari 2009 jam 8:19 am
Pak Pray yang saya hormat, terima kasih sekali artikelnya saya sungguh sangat terharu malah sampai “mbrebes mili” membacanya karena saya juga sudah kepala 6 apa yang bapak ulas sangat mengena, seisi rumah sudah saya suruh baca dan akan saya diskusikan dengan teman2 yang masih dikantor, terimakasih dan salam juga untuk Pak Mardi Gaharu.Kalau ketemu digolf salam juga untuk Slamet Yes Prihatin No (mantan Dirjen ranahan), itu sohib saya Pak!
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 8:44 am
Mas Rahardjo, wah kok dalam sekali dan halus perasaannya…tapi ya itulah Mas, kalau sudah tua kita tidak usah macam-macam kali ya…menjaga jasmani ini sebagai tempat ruh kita bersemayam, kalau “wadak” ini tidak kita jaga, maka ruh jelas akan tidak betah lama-lama bersemayam didalamnya. Syukur kalau tulisan ini bermanfaat, memang yang pertama mengatakan Pak Mardi Gaharu itu, kemarin juga main satu flight dengan saya…kemudian tadi malam saya renungkan, saya ulas, maka jadilah artikel ini. Ok, nanti saya sampaikan salam kepada Bang Mardi (my best friend) dan kalau ketemu akan saya sampaikan salam untuk Marsda TNI (Pur) Slamet Prihatino yang mantan Dirjen Ranahan Dephan…sohib ya. Ok Mas Rahardjo.Salam>Pray.
Pesan Sponsor : “Stop Merokok Sangat Berbahaya” itulah salah satu artikel saya dalam blog kompasiana ini yang sangat erat berkait dengan artikel ini…..Maaf nij para perokok, kapan mau sadar???
Deddy Rosadi,
— 23 Januari 2009 jam 9:01 am
Selamat pagi pak pray,Artikelnya menyentuh sekali. Seperti kontra, antara golf sebagai simbol kemapanan dan kesenangan tapi topik bahasan kematian. Saya di usia 30an ini berpikir apakah itu juga bisa menimpa saya. bagaimana jika tujuan-tujuan hidup kita belum tercapai, tapi kematian itu sudah datang.Semoga jalan kita selalu di rahmati-Nya. Amin.Salam hormat untuk Pak RT saya.Wassalam.
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 9:18 am
Dedy Rosady, terima kasih tanggapannya, baru ini ada warga RT yang muncul menanggapi artikel saya. Iya betul, golf bagi saya adalah sebuah sarana, sarana olahraga, melatih otak agar tidak pikun dan menyenangkan hati, sehingga menjadi rilex. Kan sekarag masih muda ya…jalan masih panjang, saya almost 62 yrs old. Tapi seperti yang saya tulis diatas, kita harus hati-hati dan waspada dalam hidup ini, karena ancaman bisa menyerang siapa saja tanpa batas umur. Oleh karena itu kalau kita sudah bisa berfikir, kita harus menentukan hidup kita mau kita apakan, mau dibuat hitam ya jadi hitam, mau merah, jadi merah, biru ya jadi biru. Pilihan bekerja, berkeluarga , pola hidup semuanya terserah kepada kita. Makin “smart” kita, wawasan luas maka Insyaallah kita akan bisa meminimalisir bahaya- bahaya tadi. Begitu ya Dedy, salam utk keluarga.Salam>Pray.
yulyanto,
— 23 Januari 2009 jam 9:26 am
Ada satu lagi yang ketinggalan Pa’ Pray, “MATI SURI”……percaya gak percaya sich…he…he…..
Salam Blogger,http://www.yulyanto.com
Dibawah ini adalah artikel yang saya ambil dari salah satu BLOG mengenai “Religi”:URL: http://bulir.blogspot.com/2006/10/pengalaman-mati-suri.html
Friday, October 13, 2006Pengalaman Mati Suri
Kesaksian Warga Bengkalis yang Mati Suri dalam Temu Alumni ESQ”Menyaksikan Orang Disiksa dan Ingin Kembali ke Dunia”Laporan Idris Ahmad - Pekanbaru
Pengalaman mati suri seperti yang dialami Aslina, telah pula dirasakan banyak orang. Seorang peneliti dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Virginia Dr Raymond A Moody pernah meneliti fenomena ini. Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki pengalaman yang hampir sama. Masuk lorong waktu dan ingin dikembalikan ke dunia.
Berikut catatan Riau Pos yang turut serta mendengarkan kesaksian Aslina dalam temu Alumni ESQ (emotional, spiritual, quotient) Ahad (24/9) di Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru.
Catatan ini dilengkapi pula dengan penjelasan instruktur ESQ Legisan Sugimin yang mengutip Al-Quran yang menjelaskan orang yang mati itu ingin dikembalikan ke dunia, serta penelusuran melalui internet tentang Dr Raymond.
Bagi pembaca yang ingin mengetahui perihal Dr Raymond dapat membuka situs http://www.lifeafterlife.com dan hasil penelitian Raymond tentang mati suri dapat dibaca di buku Life After Life.
Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri.
Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang kepada dirinya.
Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid). Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit Mahkota Medical Center (MMC) Melaka Malaysia . Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi.
”Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,” jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak. Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ”Aslina seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut, red). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir,” ungkapnya. Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiaanya.
”Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur,” begitu ia mengawali kesaksiaanya setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang. ”Saya telah merasakan mati,” ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu.
Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. ”Terasa malaikat mencabut (nyawa, red) dari kaki kanan saya,” tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. ”Saat di ujung napas, saya berzikir,” ujarnya. ”Sungguh sakitnya, Pak, Bu,” ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru.
Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalaimualaikum kepada ruh Aslina. ”Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar,” ujar Aslina mencerita pengalaman matinya. Lalu malaikat itu bertanya: ‘’siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu.” Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. ”Tak ada teman kecuali amal,” tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau. Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya berkudis, badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang tersebut.
Aslina melanjutkan. ”Bapak, Ibu, ingatlah mati,” sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan ”Ayah”. ”Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya,” tanyanya. Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ”Wahai ayah, janji saya telah sampai.” Mendengar itu ayah saya saya menangis.Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. ”Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu.” ruh Aslina pun menjawab. ”Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai”. Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada.
”Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,” ujarnya bak seorang pendakwah. Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, di sebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. ”Siapa kamu?” lalu perempuan itu menjawab.”Akulah (amal) kamu.”
Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton, tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya.”Siapa manusia ini?” Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang. Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat bahkan tak bisa mengucapkan dunia kalimat syahadat ketika di dunia. Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain.
Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh. Tampak pula orang berkepala babi dan berbadan babi. Orang tersebut adalah orang yang suka berguru pada babi. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia. Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subnallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar. Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya. Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.
Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat) baik,red). Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan azan seperti azan di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya. ”Saya mau shalat.” Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina. ”Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,” ungkap Aslina.
Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak ”husnul khatimah” itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. ”Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.”Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu berkata. ”Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.” Manusia-manusia itu juga memohon. ”Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.”Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah.
Setelah kesaksian Aslina, instruktur Pelatihan ESQ Legisan Sugimin yang telah mendapat lisensi dari Ary Ginanjar (pengarang buku sekaligus penemu metode Pelatihan ESQ) menjelaskan bahwa fenomena mati suri dan apa yang disaksikan oleh orang yang mati suri pernah diteliti ilmuan Barat.
Legisan mengemukakan pula, mungkin di antara alumni ESQ yang hadir pada Ahad (24/9) malam itu ada yang tidak percaya atau ragu terhadap kesaksian Aslina. Tapi yang jelas, lanjutnya, rata-rata orang yang mati suri merasakan dan melihat hal yang hampir sama. ”Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua,” ujarnya.Legisan menjelaskan penelitian oleh Dr Raymond A Moody Jr tentang mati suri. Raymond mengemukakan orang mati suri itu dibawa masuk ke lorong waktu, di sana ia melihat rekaman seluruh apa yang telah ia lakukan selama hidupnya. Dan diakhir pengakuan orang mati suri itu berkata: ”Dan aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya.”
Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan ”aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya,” Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu’muninun (23) ayat 99-100: (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:”Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).”(99). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.(100).
Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39: ”Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”Usai pertemuan alumni itu, Aslina meminta nasehat dari Legisan. Intruktur ESQ itu menyarankan agar Aslina senatiasa berdakwah dan menyampaikan kesaksiaannya saat mati suri kepada masyarakat agar mereka bertaubat dan senantiasa mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Setelah acara, banyak di antara alumni yang bersimpati dan ingin membantu pengobatan sakit gondoknya. Para hadirinpun menyempat diri untuk berfoto bersama Aslina. Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari kesaksiaan Aslina.***
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 9:43 am
Yulyanto, kemana saja kok tdak ada kabarnya…yg ada di Face Book terus. Terima kasih tanggapan dan artikel tentang mati suri itu….memeng kasus itu ada dan terjadi, tetapi hanya beberapa oang saja yang mengalaminya ya Yul. Memang menakutkan membaca yang disampaikan oleh Aslina. Semuanya diskusi disini bukan untuk menaku-nakuti, tetapi untuk memberikan kesadaran bagi para pembaca, yah barangkali sibuk tidak sempat merawat tubuh dan jiwanya, atau juga mungkin lupa ya. Ok deh Yul, sekalilagi terima kasih…saya tidak mengomentari artikel tersebut…serem. Salam>Pray.
chia tanuwidjaja,
— 23 Januari 2009 jam 9:57 am
menyentuh sekali apa yang bapak tulis.kadang manusia sampai menjadi serigala bagi manusia yang lain demi mengumpulkan harta benda, sampai kebanyakan bingung mo nyimpen duitnya dimana.padahal ketika ajal datang, harta benda tidak bisa dibawa, cuma kafan doang, kalo dikremasi, malah tinggal abu doang…
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 10:11 am
Chia…terima kasih telah memberikan tangapan. Itulah manusia, kita heran ya dengan besarnya ambisi dan nafsu mengenai harta itu. Kan ada hukum “bosen”, begitu kebutuhan primernya terpenuhi maka kebutuhan sekundernya akan menjadi kebutuhan primer…begitu seterusnya. Nah…jadi kapan puasnya ya Chia???Justru didalam hidup manusia harus banyak membaca, hingga wawasannya bertambah, kalau tidak ya dia akan tetap maju terus, menggapai sesuatu dengan nafsu yang tak terkira…akhirnya dia akan terjerumus sendiri menuju kekematian 1,2 atau 3 tadi. Ok deh, pengingatan kafan itupun sering hanya disambut dengan senyum…tapi itulah manusia. Yang penting ya Chia, perlu diketahui….”Penyesalan tempatnya tidak pernah dimuka, tetapi selalu dibelakang”. Begitu ya.Salam>Pray.
Amir,
— 23 Januari 2009 jam 10:17 am
Bapak yang saya hormati, Terima kasih atas artikelnyasemoga ini bisa membuat kita semua jadi lebih baik ‘karena kematian adalah tujuan akhir kita’
WassalamAmir
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 10:24 am
Mas Amir, terima kasih juga sudah menanggapi. Memang tujuan dibuatnya artikel ini hanyalah agar pembaca kembali mengingat apa arti kematian itu. Disaat dinegara kita sedang dirundung malang, malang karena nampak mulai lunturnya rasa saling menghormati, saling menghargai, masih besarnya nafsu untuk kepentingan pribadi, kelompok, bahkan yang sering membuat prihatin dilakukan dengan menghalalkan cara. Memang semua akan berakhir diujung perjalanan hidup sebagai tujuan akhir seperti yang anda katakan…kematian. Salam hangat>Pray.
viant,
— 23 Januari 2009 jam 11:02 am
pembagian ilmu yang bagus pak Pray, menyadarkan kita.., tapi berapa lama kita sanggup “sadar” akan itu semua (yang ada dalam artikel), memang manusia tempatnya lupa (tapi ada juga yg menyebutkan lupa koq terus-terusan), tapi itulah kenyataan, seperti saya pernah diajarkan “rasakanlah sesuatu dengan hatimu dan lakukanlah sesuatu dengan otakmu, jangan kau balik atau kau tukar2 diantara keduanya, karena itu menyebabkan kau menjadi tidak tunduk dan patuh kepada Tuhan-Mu”, dan beberapa tahun belakangan ini baru saya mengerti apa maksudnya, inilah hidup.. nyata dan bukan sinetron, bollywood atau hollywood, tapi kita lebih sering setiap hari melihat itu semua (sinetron, bollywood dan hollywood) dikehidupan nyata keseharian kita, semoga di setiap keseharian kita (terutama bagi saya pribadi) selalu teringat apa yang namanya mati.. (terima kasih pak Pray telah mengingatkan saya kembali..)
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 11:14 am
Viant, terima kasih telah menanggapi. sangat bersyukurlah apabila manusia sudah memahami apa arti sebuah kehidupan dan untuk apa dia hidup. Kadang seseorang hingga tuapun tidak mengerti dan dia terus mencarinya. Kemudian banyak dari mereka yang tersesat dan berbuat semaunya, tergelincir….disinilah peran agama dan petuah dari orang tua, guru dan para sesepuh itu.Semoga terus menyadarinya ya Viant, dan semoga sukses.Salam>Pray.
Pepih Nugraha,
— 23 Januari 2009 jam 11:30 am
Terima kasih Pak Pray ulasannya yang bermakna dalam. jadi, kematian psikologis dan kematian biologis sebenarnya masih bisa diperbaiki, Ya Pak. Kadang pada kematian biologis, saya pernah baca orang yang sekian tahun koma, ternyata bisa hidup kembali. Kematian ruh meninggalkan raga yang tidak terelakkan. Namanya kematian, tiga-tiganya memang menyeramkan, cuman yang kematian psikologis itu kita sendiri yang bisa mengobatinya, kematian biologis barangkali bisa sembuh karena adanya Tangan Tuhan lewat dokter, dan kematian saat ruh meninggalkan raga tidak ada obatnya (kita pasti mengalaminya). Sebuah artikel yang menggugah…
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 12:44 pm
Mas Pepih, memang kalau kita amati dua kematian tersebut kadang ada yang bisa diperbaiki seperti kisah yang disampaikan oleh penanggap Isabel. Betul juga kematian biologis tanpa campur tangan Tuhan akan sulit diperbaiki secanggih apapun ilmu kedokteran itu. Menurut pendapat saya, sebaiknya manusia berusaha secara preventif dalam menghadapi ancaman kematian tadi, sehingga bisa meminimalisir kematian psikologis dan biologis. Kalau kematian sebenarnya tindakan yang terbaik adalah, sebelum maut menjemput manusia sebaiknya selalu berbuat baik, dalam Islam “beriman dan beramal soleh”, begitu bukan?. Kemarin sebelum menuliskannya, agak lama juga saya merenungkannya, karena selama ini kita hanya tahu kalau kematian adalah kejadian seseorang ditinggalkan oleh ruhnya. Terima kasih.Salam>Pray
nuni,
— 23 Januari 2009 jam 1:04 pm
Selamat siang Pak Pray,
Terima kasih kembali diingatkan akan kematian. Jadi ingat harus semakin rajin menabung amal untuk bekal pulang pak, mumpung masih diberi kesempatan.sekitar 2 minggu ini saya sempat “mati psikologis” karena dikejar-kejar pembimbing untuk menyelsaikan proposal penelitian (hehehe….). Untung akhirnya mulai kemarin sudah hidup lagi karena sudah selesai dan sudah diterima pembimbing jadi bisa kembali bertemu kompasiana.
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 1:23 pm
Nuni, terima kasih sudah memberikan tanggapan. Iya betul kita nabung mumpung masih bisa. Wah, kok dikejar pembimbing bisa mati psikologis, padahal jawabnya mudah saja, “sabar, saya sedang usahakan”…tapi mana mau tahu ya pembimbing itu ya Nuni. Pantas sudah agak lama kok menghilang dari kompasiana dan FB. Syukur kalau proposal penelitiannya sudah beres, saya ikut mendoakan, semoga lancar proses programnya dan saya ikut bangga nanti kalau Nuni jadi Doktor…jangan lupa “learn to Relax and Enjoy Life”. Itu pesannya Pak Chappy. Salam>Pray.
adhy,
— 23 Januari 2009 jam 1:29 pm
ternyata Om Pray tidak hanya jago mengamati politik, tp juga mengamati kehidupan…
salam hormat
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 1:41 pm
Adhy, yah sebagai orang tua bisanya tutur, kan disini kita tujuannya sharing idea, memberikan apa yg terbaik untuk masyarakat, mengingatkan, kan sudah almost 62 nih Adhy, termasuk kegiatan amal…terima kasih ya.Salam>Pray
aramichi,
— 23 Januari 2009 jam 1:53 pm
Yth bapak Prayitno Ramelan
Hidup memang tidak pernah sederhana ya pak, kematian juga menyangkut orang yang ditinggalkan, orang yang merasa kehilangan karena orang yang dicintainya mengalami kematian baik psikologis, biologis maupun kematian yang sebenarnya. Sampai batas tertentu manusia bisa berusaha tapi akan sampai batasnya manusia hanya bisa menerima dan menjalani takdirnya. Seperti bapak bilang kita harus berbuat baik agar bisa tenang dan pasrah menghadapi kematian.Jadi yang terpenting bukan hanya kematian tapi bagaimana kita mengisi kehidupan dan mencari makna hidup. Ketika hidup kita isi dengan membahagiakan dan memberi kepada orang lain, hidup menjadi bermakna tapi ketika hidup kita isi dengan menyusahkan dan menyengsarakan orang lain hidup kita menjadi hina.
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 2:07 pm
Mas Aramichi, iya memang ternyata hidup tidak sederhana. Benar dalam hidup harus mempunyai arti, bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat bagi masyarakat dan bermanfaat bagi bangsa dan negaranya. Bukan sebaliknya seperti yang anda katakan…kita akan menjadi hina. Begitu ya.Salam>Pray.
Darmanto,
— 23 Januari 2009 jam 3:45 pm
Terima kasih buat artikel pak Pray yang menarik & mengingatkan kepada semua orang bahwa siapapun juga pada akhirnya nanti pasti akan menghadap keharibaan Sang Khalik, hanya tinggal waktunya saja yang belum kita ketahui kapan datangnya, dan karenanya dalam menunggu tibanya malaikatul maut menjemput roh kita sepatutnyalah kita mengisi dengan amal dan ibadah yang bermanfaat buat diri kita maupun masyarakat.
Kematian psikologis tidak seharusnya terjadi dan dialami oleh seseorang apabila dia memiliki keimanan. Dalam hidup kita janganlah selalu melihat keatas, sehingga nantinya akan membuat kita merasa rendah diri dan merasa hidup kita tidak berarti karena tidak mampu mencapai yang orang lain dapatkan (diatas). Hendaknya kita bersyukur atas segala karunia berlimpah yang telah diberikan oleh Allah SWT dan melihat kebawah karena masih banyak orang lain yang mungkin keadaannya lebih menderita dan sepatutnya kita saling berbagi dengan mereka.
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 3:47 pm
as Darmanto, terima kasih tanggapannya. Iya benar kita harus melihat kebawah, tidak keatas, karena banyak orang yang masih susah. Dan betul kita harus mensyukuri nikmat yang diberika oleh Tuhan kepada kita. Tetap mau berbagi kepada sesamanya ya.Salam>Pray.
nuni,
— 23 Januari 2009 jam 3:49 pm
“mati psikologisnya” dalam tanda kutip koq pak jadi belum yang sebenarnya. Karena saya nyusun proposal koq nggak selesai-selesai padahal penelitian sudah jalan jadi ada beban moral sama pembimbing. Maklum sekolahnya disambi kerja pak jadi disana dioyak-oyak pembimbing disini dioyak-oyak bossss. Alhamdulillah beban sudah lepas, jadi sekarang sudah “hidup” lagi. Sesuai saran Pak Pray mumpung long week end mau relax sesaat pak. Terima kasih.
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 3:50 pm
Iya, kok Nuni, I know…maksudnya sementara offline dulu dari kompasiana ya. Benar itu, sangat perlu relaxation, saat long week end, kan agak lama dari Sabtu sampai Senin…Have a nice long week end. Salam>Pray.
iskandarjet,
— 23 Januari 2009 jam 3:57 pm
“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” [QS. al-A'la (87) : 17]
Sedikit mengomentari kategori kematian psikologis yang bisa dialami oleh siapapun, mulai dari orang kaya, orang miskin, orang sehat, orang renta. Kematian ini boleh saja diawali dengan post power syndrom, di saat seseorang merasa kehilangan kekuasaan, keterkenalan, kesibukan dan ritme hidup yang dulu dijalaninya di usia produktif.
Begitu pensiun, dia seperti orang yang dicerabut dari jalan tol yang ramai dan dinamis, dan dipaksa masuk ke tempat sepi menanti datangnya akhir hayat. Mulai dari titik inilah hidupnya mulai goyah dan kehilangan arah. Tidak ada target yang harus dicapai, tidak ada perencanaan yang harus disusun panjang, tidak ada tekanan terstruktur dari atasan. Artinya, dia merasa tidak ada lagi alasan untuk terus menghirup napas di bumi ini.
Tapi kondisi seperti ini tidak berlaku bagi orang yang memahami betul (dalam bahasa agama disebut mengimani, meyakini) akan hadirnya Hari Akhir. Tidak berlaku bagi mereka yang mengejar kebahagiaan Akhirat lebih dari kesenangan dunia yang fana. Setiap orang beragama memang tahu ada hari kiamat, tapi tidak semua orang meresapi dan mengimaninya dengan benar.
Sekedar memberi contoh, ibu saya merupakan salah seorang yang bisa membebaskan dari kematian psikologis. Di usianya yang menjelang 70 tahun, tidak ada gairah hidup yang surut dan tidak ada kata istirahat atau berkurangnya aktifitas. Tetap ada semangat dalam hidupnya. Semangat untuk meraih kebahagiaan akhirat. Kesungguhan untuk bisa menikmati manisnya balasan Allah yang akan diberikan kepada ummat-Nya.
Ibu saya senang bercerita, semata-mata untuk memberikan tauladan bagi anaknya. Sehari saja dia bangun lewat dari jam 3, esok paginya dia pasti mengeluh. Waktunya untuk beribadah malam jadi berkurang. Apalagi kalau badannya kurang sehat, dia langsung sedih karena tidak bisa lagi menikmati ibadah harian. Siangnya dia mengisi waktu luang dengan membaca, mengajar dan aktifitas sosial lainnya.
Jadi beruntunglah orang yang diberi umur panjang, namun dikurangi dari kesibukan dunia. Dia bisa melampiaskan kerinduannya kepada Allah dengan beribadah dan bersedekah. Karena sesungguhnya kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.
Wallahu a’lam.
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 4:06 pm
Iskandar, Terima kasih telah memberikan tanggapan. Apa yg disampaikan jelas melengkapi apa yang sudah terekam dalam artikel tersebut, inilah sukanya apabila sebuah artikel juga ditanggapi oleh penulis sesama, pasti ada tambahan wawasan, sekaligus dengan contoh2nya, salam untuk ibunya ya…Ibu saya juga masih fresh dan masih hebat walau sudah berumur 87 tahun,…terima kasih sekali lagi.Salam>Pray.
yulyanto,
— 23 Januari 2009 jam 4:10 pm
Alhamdulillah, kabar saya baik Pa’ Pray,
Memang sudah agak jarang posting di Kompasiana nech pak!…, biasalah Pak, “Blogger Kelas Pekerja”, lagi sibuk sama kerjaan…
Tapi, saya masih tetap konsisten “Nge-Blog” disini kok, sekedar berbagi dengan para “Blogger Kompasiana” yang semakin hari semakin bertambah dan tulisannya pun makin seru dan berkelas…..
Meskipun dah jarang posting, setiap hari pasti saya sempetin untuk mampir di salah satu “Rumah Maya” saya ini pak!….. Sudah cocok hawanya, dan sangat bersahabat auranya…….
BTW, Pa’ Pray sudah mulai menjadi “Seleb Blog Kompasiana” nech, banyak penggemarnya, terbukti dari banyaknya komentar yang masuk pada hampir semua tulisan yang bapak sharing…..
Luar biasa dan selamat pak, gak sia-sia usaha Bapak menggagas “Public Blogger” ini…….
Salam Blogger,YULYANTO*…dah gak sabar menghadiri “Kopdar Kompasiana”…, tuk ketemu Pa’ Pray…. he…he….*
Blogging at:http://www.yulyanto.comhttp://www.kompasiana.comhttp://mybusinessblogging.com/stock-market/http://mybusinessblogging.com/indonesia-business/
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 5:02 pm
Iya betul Yul, jangan kalahkan urusan pekerjaan, itu pokoknya, blog ini adalah hobinya kan…nah kalau saya dibalik…blog ini “main” saya, kalau kerja adalah hobi…he,he,he payah ni orang tua satu ya Yul. Betul kita akui bahwa public blogger itu banyak yang “hebat-hebat”, ada dokter, profesor, ada ahli ekonomi, sosial, kemanusiaan, budaya, semuanya menampilkan informasi dan sangat penting untuk diketahui masyarakat penggemar kompasiana. Kini yang dikenalkan Mas Pepih dengan Citizen Journalism juga makin menambah wawasan kita. Disamping itu para journalis dan guest blogger juga muncul dan semakin menempatkan kompasiana sebagai “indie media” yang patut diperhitungkan. Memang ampuh Mas Pepih dan para admin atau pengelola Kompasiana ini. Mendatang wadah ini benar bisa diharapkan sebagai tempat panambah wawasan, pencerahan ang santun dan semakin terpelajar. Pembaca semakin banyak, rating yang terekam di Alexis semakin membaik. Persahabatan semakin mengkristal bagi penulis dan penanggap, keduanya berinteraksi hingga artikel menjadi semakin lengkap. Banyak pembaca yang mengatakan bahwa mereka juga punya hobi membaca tanggapan2 yang beraneka ragam. Alhamdulillah kalau artikel-artikel saya banyak yang menanggapi, artinya kan banyak dari kita yang “care” terhadap masalah yang saya angkat. Ok, walau Yulyanto adalah sahabat virtual saya, kita kan belum pernah bertemu, tapi kita seperti sudah mengenal lama. Terima kasih ya…Salam juga untuk your wife>Pray.
nda ndot,
— 23 Januari 2009 jam 5:48 pm
Sore pak Prayit,
sekedar menambahkan saja. kalau pak Pray berbicara tentang kematian saya akan bicara soal hidup. tentang orang2 yang tidak akan pernah mati.orang2 yang demikian adalah orang yang begitu besar jasa2nya dan karya2nya yang bermanfaat untuk orang banyak. orang2 ini akan terus dikenang, namanya akan selalu hidup meski jasadnya telah terkubur sekian puluh tahun. oleh karena itu, selalu berbagi ilmu, pengalaman, tetap berkarya dan memberikan sumbangsih baik tenaga, pikiran atau karya2 lain untuk kemaslahatan merupakan jalan untuk kita untuk tetap hidup…
soal golf, kata temen saya yang golfer, beliau bilang golf itu untuk mengalahkan diri sendiri, mengendalikan emosi dan belajar respect kepada partner main kita (beliau tidak menyebut lawan main). selain mengajari kami swing yang benar, beliau juga mengajarkan etika dan tata krama selama bermain golf. wah ternyata ada juga yah filosofinya.
tapi buat saya next time aja deh buat golf. travelling, martial art dan fotografi cukup lah buat second life sementara ini..sekedar untuk menyeimbangkan hidup..have a good week end pak..
Prayitno Ramelan,
— 23 Januari 2009 jam 6:52 pm
Nda-Ndot, terima kasih Mas tanggapannya. Betul itu, selama kita hidup maka kita juga harus memikirkan nanti kalau kita mati apa yang ditinggalkan???Harimau mati meningalkan belang,gajah mati meninggalkan gading, nah kalau blogger mati yang ditinggalkan adalah karya tulis yang terekam di sebuah atau beberapa blog, menyebar kemana-mana. Justru itulah Nda ndot, saya bersemangat menulis agar ada kenangan untuk masa nantinya entah kapan?Sebuah karya yang dibuat dengan kejujuran…itu saja kok.Wah untuk second lifenya hebat tuh…travelling, martial art dan fotografi. Sama ya kita sependapat bahwa hidup harus diseimbangkan agar kita bisa menikmati hidup itu…Have a good week end juga ya…3 hari ni. Salam>Pray
Novrita,
— 24 Januari 2009 jam 12:04 am
Wah…. rame nih forum pak Pray, padahal yang dibahas bukan tentang politik yang notabene adalah spesialisasi pak Pray (kalau yang ini saya sih yang mengkategorikan demikian..)Banyak comment yang masuk semakin menambah bobot artikel ini.
Menjelang usia tahun ke -62 bukan berarti meredup, tapi semakin semangat. Itu hal yang patut kita contoh.
Kematian memang tidak harus dipersiapkan oleh yang sepuh saja, tapi oleh kita semua di setiap angkatan usia. Kematian bisa menimpa kita kapan saja. Untuk itulah kita semestinya terus meningkatkan kualitas ibadah kita selagi kita masih hidup dan ‘hidup’sebagai bekal nantinya.
Terima kasih pak Pray…. untuk bisa mengemas dan menyajikan artikel pencerahan ini.Pasti Dewo akan semakin bangga .akan Eyang Kakung nya… Btw, it’s 24 january 2009 … It’s Dewo birthday pak…
Prayitno Ramelan,
— 24 Januari 2009 jam 1:30 am
Terima kasih banyak ya Novrita atas tanggapannya, wah sampai lewat tengah malam masih menyempatkan diri menanggapi. Maaf tadi saya pulang sudah ngantuk sekali, maklum kalau Jumat malam kan seperti biasa “learn to relax and enjoy life”…MEOK istilahnya Pak Chappy, Makan Enak Omong Kosong…sambil gabung dengan komunitas Jazz, saya coba menyanyikan lagunya Chrisye(Alm) yang dinyanyikan oleh Ariel Peterpan itu…dengan irama Bosas, wah pada heran kok Ariel jadi tua dan gemuk. Terus karena tidak PeDe minta didukung Caroline ex Dewa Dewi …lengkap deh tu lagu. Inilah bukti bahwa karya seseorang semasa hidup akan terus dikenang, seperti karya-karya dari Chrisye itu. Lho kok menenggapi arikel kematian larinya ke Jazz…?? Iya benar Novri, manusia harus mikir kalau suatu saat dia akan mati juga, dan mengingat semua agama mengajarkan agar kita harus berbuat baik dan beribadah semasa hidup (tidak ada kan Agama yang mengajarkan kita agar berbuat jahat), maka kita ya harus berbuat baik. Oleh karena di Face Book saya juga menulis tentang kematian itu, baca note saya? “Peluklah Ibumu dan ciumlah dia semasa masih bisa, karena suatu saat nanti dia akan meninggalkanmu”…itu kalimat saya dapat dari acara Pak Mario Teguh. Btw, terima kasih ucapan ultah untuk my grandson, he is 3 years old to day. Salam Hangat dan Selamat Berlibur.>Pray.
palawija,
— 24 Januari 2009 jam 4:01 am
Terima kasih pak Pray telah menambah wawasan qt sbg manusia sayangnya belum ada orang yang berpengalaman mati yang sebenarnya bukan mati suri ya jadi tidak bisa diceriterakan sebenarnya yang penting kita tahu bahwa Tuhan penyayang umatnya spt lagunya Titik Puspa, kita dikandung ibu 9 bln dan lahir ke dunia kita tidak ingat/merasa sakit atau tidak senang atau tidak pada waktu itu baik selama dlm kandungan maupun saat lahir dan menangis kita tidak tahu juga arti tangisan yang sebenarnya, demikian juga klo kita mati nantinya bagaimana hanya Tuhanlah yang maha tahu .
Prayitno Ramelan,
— 24 Januari 2009 jam 7:10 am
Mas Palawija…iya benar, cerita mati suri memang sudah beberapa tertulis, seperti kisah yang diposting Yulyanto diatas, tapi kalau yang mati benaran dan hidup lagi saya juga belum pernah membacanya. Dan emmang itu hanya menjadi rahasia dan Tuhanlah yang maha Tahu. Jadi Mas, ya sudah kita jalankan saja perintah ibadah dan menjauhi larangan2 dari agama yg kita anut, terus berdoa, selama hidup harus berbuat baik, membersihkan hati, menolong mereka yang susah, beramal, mencintai keluarganya, santun, tidak memfitnah, berbakti kepada bangsa dan negara…dan banyak lagi ya kalau mau disebut. Intinya jadi orang baik, kira-kira begitu ya. Begitu ya Mas.Salam Hangat>Pray.
Kepada para teman, sahabat yang merayakan, Selamat Tahun Baru Imlek 2560/2009, “GONG XI FAT CHOI”, semoga semua sukses dan berhasil usahanya dan Rukun keluarganya. Salam Hangat…Prayitno Ramelan
TITAH SOEBAJOE,
— 24 Januari 2009 jam 7:23 am
Saya seneng Cak, sampeyan nulis segala macem, mulai politik sampai mati. Tapi yang saya heran itu banyak orang berbicara mati, tapi belum pernah mengalami mati. Lha yang sudah mati tidak pernah mau bicara pengalamannya. Kenapa itu Cak. He,he,he, sepuarne Cak
Prayitno Ramelan,
— 24 Januari 2009 jam 10:39 am
Mas Bajoe….iya ini iseng buat sharing idea saja, kan memang mati itu rahasia kan ya, yang banyak disiskusikan banyak orang yg belum pernah mati, ada beberapa mati suri, menakuitkan ya cak, coba baca postingannya Yulyanto itu dalam tanggapannya diartikel ini…menakutkan sekali. Kalau sudah tua.lama2 memang takut juga ya..tapi benernya kalau orang mati kan tidak urut umur kan ya…kita pasrah saja deh…..Selamat liburan ya.
Darmanto,
— 24 Januari 2009 jam 2:26 pm
Semalam Kick Andy di Metro TV membahas tentang kematian juga, dimana dibahas mengenai seseorang yang disebabkan oleh penyakit yang dideritanya sudah ‘divonis’ tidak akan berumur panjang lagi oleh dokter. Yang sangat menarik adalah mereka tetap semangat dan berjuang untuk tetap hidup hingga ajal menjemput dan dalam sisa hidup yang masih ada mereka melakukan sesuatu untuk dapat terus dikenang oleh yang masih hidup….sangat menarik & inspiratif sekali.
Prayitno Ramelan,
— 24 Januari 2009 jam 10:49 pm
Itu sebuah contoh kepasrahan yang luar biasa ya Mas Darmanto, biasanya kalau seseorangmendapat vonis tentang sisa umur maka langsung akan “down”, panik, tidak tahu harus bagaimana, umumnya semangatnya akan drop, tidak ada gairah, stres berat hingga depresi, tapi ada orang-orang tertentu yang dengan pasrah bisa menerimanya. Ini yang harus kita kagumi, tekanan yang dialami sebenarnya jauh lebih berat dibandingkan dengan mereka yang mengalami kejenuhan atau tekanan ekonomi, tapi karena imannya kurang kuat, kadang yang sudah divonis tidak akan berumur panjang jauh lebih tenang dan mampu semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Begitu ya. Salam>Pray.
yulyanto,
— 24 Januari 2009 jam 11:07 pm
Okay Pa’ Pray…
Suatu hari nanti saya juga berharap bisa seperti P’Pray, blog utamanya, kerja hobby-nya…. he…he…he… semoga…
Oh iya, happy birthday buat Grandson-nya ya pa, dan salam juga buat keluarga…..
Keep Blogging http://www.yulyanto.com
Prayitno Ramelan,
— 25 Januari 2009 jam 6:14 am
Yul, kalau sudah tua kan tidak harus kerja nine to five terus, wah capek deh…saya sudah 35 tahun begitu…kemana-kemana lagi tugasnya, nah disaat usia senja ini kerjanya Golf, Ngeblog, dan hobinya kerja sedikit2. Dan terima kasih ucapan birthday untuk my grandson Dewo. Salam juga untuk keluarga ya Yul. Pray.
Julius Cesar Hassan,
— 30 Januari 2009 jam 8:07 pm
Selamat Malam Pak Pray,Terima kasih atas artikel yang sangat menyentuh ini,Untuk menghadapi Kematian disarankan Bagi Umat Islam agar mendatangi Orang yang Wafat / Meninggal,sebagai peringatan bagi yang Hidup, bahwa Ia akan seperti itu.Jika kita Mati suatu hari kelak, jangan Lupa yang akan dihisab ALLAH adalah NIAT Kita. Jika kita Melakukan sesuatu, Apakah yang menjadi NIAT Kita ? Kalau Niat nya Baik, itu Belum Cukup, Apakah juga dilakukan secara Baik dan inipun Belum Cukup, Apakah Dengan Menggunakan kata – kata yang Baik pula. Jika semuanya ini sudah Baik, maka InsyaAllah akan mendatangkan Hal –hal yang Baik pula, jadi Tidak Usah Takut selama Kita masih Hidup….., Kesempatannya selalu Tersedia. Walaupun Kita tidak Tahu kapan Malaikat Maut akan menjemput Kita.Allah bukanlah Zat yang senang menghukum hambanya, yang menghukum hamba allah atau kita adalah perbuatan – perbuatan Buruk yang kita lakukan sendiri pada saat kita Hidup di Dunia ini. Semoga jika kita harus menghadap yang Maha Kuasa alias Mati nanti dalam Keadaan Baik dan dikenang sebagai Orang Baik. Aaammmiiieeennn…
Prayitno Ramelan,
— 30 Januari 2009 jam 11:09 pm
Mas Julius, terima kasih telah menanggapi dan memberikan pendapatnya. Saya sependapat, kalau kita “melayat” orang meninggal, seharusnya kita disadarkan bahwa siapapun juga hanya tinggal menunggu waktu dan giliran ya. Dan terima kasih tentang penjelasannya, jelas akan bermanfaat bagi kita yang membaca. Kita swemua memang kalau bisa meninggal dalam keadaan baik, meninggalkan suatu kebaikan yang bermanfaat bagi yang ditinggakan. Begitu ya…Salam>Pray.
Julius Cesar Hassan,
— 31 Januari 2009 jam 9:51 am
Jika kita sebagai Hamba Allah, mendapatkan atau dipertemukan dengan Peristiwa yang Kurang Baik / Tidak Baik, Kita perlu berpikir sejenak bahwa Peristiwa ini terjadi karena ada salah satu dari 3 Hal diatas yang Belum Baik , ( Niat – Cara Cara– Kata Kata )…..
Apakah dengan Peristiwa – Peristiwa Di Dunia saat ini, termasuk Peristiwa diTanah Air Kita ( Wabah Penyakit, Gunung Meletus , Gempa sampai dengan Tsunami, Pertikaian antara kelompok Ras, Suku dan Agama ), berhubungan dengan 3 Hal – Hal Baik diatas ? Hanya Allah Yang tahu…..
Marilah mulai saat ini, Kita sebagai anggota masyarakat untuk berintrospeksi, demi Hidup dan Kehidupan bermasyarakat , berbangsa dan bernegara yang lebih Baik, lebih Aman dan lebih Sejahtera.
Prayitno Ramelan,
— 31 Januari 2009 jam 11:42 pm
Julius, bagus pendapatnya tentang Niat, cara dan kata…..awalnya ada dihati, pelaksanannya dipikirkan oleh otak…mulutlah yang menheluarkan kata-kata…ada nasehat “hati-hatilah dengan mulutmu, karena mulutmu adalah harimaumu, apabila tidak hati2 maka harimau itu akan memakanmu”…karena itu dalam berkampanye para elit agar menjaga dan mengendalikan mulutnya…begitu ya.>salam.Pray
evy,
— 18 Februari 2009 jam 2:18 am
saya senang sekali bisa membaca tulisnnya, saat ini memang saya sedang mengalami ancaman yang diberikan oleh satu keluarga karena sakit hati ( menurutnya ) saya sangat shock apalagi sudah menyebutkan anak - anak saya. akhirnya saya berpasrah saja kepada yang maha kuasa, dan saya terus melakukan apa yang ada di dalam tulisan ini. semoga saya mendapatkan apa yang saya inginkan yaitu dapat mengahdapi ancaman ini dengan legowo, boleh takut tapi bukan ketakutan, boleh santai tapi tidak lengah, tetap waspada bukan curiga dan tetep berdo’a. terimakasih pak…
Prayitno Ramelan,
— 18 Februari 2009 jam 5:04 am
Mbak Evy, terima kasih dengan tanggapannya. Saya faham anda sebagai seorang wanita telah shock mendapat tekanan berupa ancaman dari sebuah keluarga karena sakit hati. Manusia itu didalam hidupnya akan sellalu mendapat ujian dan cobaan, kini tinggal terserah bagaimana dia mensikapi semuanya itu. Selain itu hal yang terpenting adalah bagaimana anda mengambil keputusan, kini dalam menghadapi ancaman, hadapi masalah itu, dudukan dulu hati anda pada posisi jangan takut. Anda didunia ini takutlah pada Tuhan, jangan pada manusia. Kan Evy tinggal dinegara hukum jadi orang tidak bisa berbuat semaunya, mengancam, mau berbuat kekerasan, tinggal lapor polisi. Kalau bisa anda cari keluarga yg sangat berpengaruh, minta dia menjadi mediator untuk menyelesaikan masalah. Langkah yg anda lakukan dalam menghadapi ancaman itu sudah benar, tidak usah tertekan batin itu, yg rugi diri sendiri, tidak usah terlalu membenci, yg rugi kan juga diri sendiri, mereka yg dibenci enak2 tidur, kita yg membenci membawa gambaran orang itu setiap saat. Begitu ya Evy, tetap bersemangat!! Jangan lupa terus berdoa.Semoga bermanfaat. Salam>Pray
taufik,
— 2 April 2009 jam 8:36 am
assalamu ‘alaikum, innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun “sesungguhnya kita berasal dari tuhan dan akan kembali ke tuhan”bagi orang yang sudah syahadatain/menyaksikan wujud tuhan ruhnya akan moksa/ kembali ke tuhan tetapi bagi orang yang belum syahadatain ruhnya akan gentayangan/ menjadi jin makanya bijaksana sekali orang jawa dahulu selalu menyajikan sesuguhan apa yang disukai orang yang sudah meninggal dari keluarganya agar supaya bisa kembali berkumpul walaupun sudah berbeda wujud dan tidak gentayangan kesana kemari dan keluarganya selalu berdo’a agar bisa segera dibangkitkan kembali dan tidak berlama lama dialam barzakh.terimakasih dan wassalamu ‘alaikum
Prayitno Ramelan,
— 2 April 2009 jam 12:30 pm
Mas Taufik, Walaaikumsalam, terima kasih tanggapannya. Terima kasih juga informasinya itu, mudah2an kalau dipanggil nanti ruh kita sudah syahadatain ya, sehingga akan kembali kepada Tuhan. Dan memang keluarga yang ditinggalkan sebaiknya selalu mendoakan mereka yang telah mendahului. Salam ya>Pray
Vicky Laurentina,
— 25 April 2009 jam 8:09 am
Mati roh, tidak bisa dicegah. Roh yang pergi tidak bisa kembali lagi.Mati biologis, menjengkelkan. Nyawa masih ada, tapi badan tidak berfungsi. Tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa supaya berlanjut jadi mati roh sesegera mungkin.Mati psikologis, hanya layak dikasihani, tapi tidak perlu terus diratapi. Kalau badan masih berfungsi, bisa jadi alat untuk mengembalikan jiwa yang sedih, karena otak masih bisa diprogram untuk berpikir positif.Jangan mati..! (kalau Tuhan memang belum mau kita mati roh..)
Minggu, 25 Januari 2009
Jumat, 23 Januari 2009
Babak Baru AS, Obama Dan Teroris

Oleh Prayitno Ramelan - 21 Januari 2009 - Dibaca 610 Kali -
Malam tadi kita menyaksikan sebuah acara spektakuler pelantikan presiden sebuah negara “super power” Barack Hussein Obama yang secara luas disiarkan keseluruh dunia. Pelantikan yang dihadiri sekitar dua juta orang dan milyaran pasang mata diseluruh dunia dikemas dengan sangat megah dan antusias. Seorang artis melukis foto Obama dan menuliskan sebuah kata “hope” dibawahnya. Hope adalah harapan, harapan yang sangat besar rakyat Amerika dalam menyongsong masa depan, yang juga harapan dari banyak negara didunia, kini terletak dipundak Obama.
Obama menjadi presiden ditengah situasi yang memburuk yang memukul AS dan mengimbas keseluruh dunia. Dia mengingatkan rakyat AS bahwa tantangan yang dihadapi tidak mudah, dia mengajak seluruh bangsa untuk selalu penuh harapan dan meminta seluruh rakyat untuk memikul tanggung jawab pribadi dan bersiap-siap menghadapi masa-masa sulit ke depan. Obama akan lebih mencurahkan perhatian pada masalah ekonomi selama 16 bulan ke depan.
Selain ekonomi, Obama juga akan menutup kamp tawanan di Guantanamo Bay, Kuba, mengurangi pasukan di Irak, serta menambah pasukan di Afghanistan. Dalam pidato pelantikan yang telah dipersiapkan, Obama menekankan “tantangan yang dihadapi oleh AS adalah nyata” dan “tidak akan dapat dituntaskan dalam waktu dekat.” Namun, presiden kulit hitam pertama di AS ini menekankan “masalah itu tetap akan dituntaskan.”(kompas.com 21/1). Selanjutnya dikatakan “Bagi dunia Muslim, AS akan menempuh cara menciptakan hubungan baru secara langsung melalui hubungan saling menghormati dan mengedepankan kepentingan bersama,” kata Obama. “Bagi para pemimpin dunia yang berupaya menabur konflik atau menyalahkan keterpurukan masyarakatnya kepada Barat - ketahuilah bahwa masyarakat kalian akan menilai dari apa yang kalian bangun, bukan yang kalian rusak,” tegas Obama.
Dilain sisi masalah terorisme, ini akan menjadi perhatian yang serius. Sebelum pelantikan, Presiden terpilih Barack Obama Rabu (14/1) mengatakan bahwa Al-Qaeda dan Osama bin Laden tetap ancaman nomor satu bagi keamanan AS, setelah sebuah rekaman suara baru muncul dari Osama. “Kami akan melakukan apa saja semampu kita untuk meyakinkan bahwa mereka tidak dapat menciptakan tempat berlindung yang aman yang dapat menyerang Amerika. Itulah garis dasarnya,” Obama menambahkan.
Kini Obama dihadapkan pada dua masalah pokok yaitu masalah dalam negerinya memperbaiki perekonomian dan kebijaksanaan politik luar negerinya yang pada delapan tahun terakhir banyak diwarnai kekuatan keras atau militer (hard power). Kebijakan politik luar negeri presiden Bush khususnya dalam memerangi terorisme dinilai menjadi tidak produktif, banyak mengorbankan nyawa, harta dan nama baik AS. Kini Obama akan mengambil langkah tegas dengan menarik pasukannya dalam 16 bulan dari medan tempur yang sia-sia di Irak. Obama akan memfokuskan palagan tempurnya di Afganistan dimana sel-sel teroris sebagai musuh besarnya berada. Pentagon terlihat sudah menyetujui untuk menambah 30.000 pasukan untuk digelar di Afganistan.
Calon menteri luar negeri AS, Hillary Clinton, pada 12 Januari 2009 telah memaparkan pemikiran-pemikiran kepada Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, dia memaparkan smart power (kekuatan pintar) dalam kebijakan-kebijakan luar negeri negara adidaya tersebut. Strategi ini memiliki prospek yang baik untuk memenangkan hati komunitas internasional.
Dalam konteks mengatasi ancaman dan perseteruannya dengan kelompok teroris internasional, nampaknya Obama menyadari betul bahwa ancaman teror terhadap AS harus diselesaikan dengan gabungan smart dan hard power. Obama akan melakukan tekanan lebih serius terhadap kelompok-kelompok teroris di Afganistan dan dia akan menetralisir pengaruh terorisme di negara-negara muslim.
Osama Bin Laden adalah produk budaya yang memperkuat rasa permusuhan, rasa tidak percaya dan dan kebencian mereka terhadap Barat khususnya AS. Budaya ini tidak mendewakan terorisme tetapi menyalakan fanatisme yang sudah ada dihati mereka. Masalahnya bukanlah Osama Bin Laden yakin kalau ini adalah perang suci melawan Amerika, masalahnya adalah jutaan orang di negara-negara Islam kelihatannya setuju (Fareed Zakaria). Inilah sebenarnya masalah yang harus diselesaikan oleh AS. Kini AS dibawah Obama memasuki babak baru dalam membuat negaranya aman dan tenteram. Ancaman teroris harus dinetralisir segera karena teroris memang ancaman utamanya yang nyata dan tak terduga, pernah mengharu birukan AS dengan meruntuhkan menara World Trade Center.
Kekuatan militer akan difokuskan di palagan bergunung Afganistan, membungkam Al-Qaeda, sementara dilpomasi pintarnya akan lebih diutamakan khususnya kepada negara-negara muslim. Bila AS dapat membantu negara-negara Islam dan negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam seperti Indonesia memasuki kehidupan yang lebih maju, bermartabat dan penuh dengan kedamaian, maka hasilnya akan dirasakan oleh Amerika jauh lebih besar dari pada hanya sekedar mengatasi ancaman terorisme. Nampaknya memang jalan ini yang akan ditempuh oleh AS dibawah kepemimpinan Obama. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar didunia, Indonesia harus menempatkan rasa percaya diri yang lebih besar dan pintar dalam berhubungan dengan anak menteng yang kini menjadi penguasa dunia. Mampukah kita memanfaatkan peluang tersebut?
PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.
Malam tadi kita menyaksikan sebuah acara spektakuler pelantikan presiden sebuah negara “super power” Barack Hussein Obama yang secara luas disiarkan keseluruh dunia. Pelantikan yang dihadiri sekitar dua juta orang dan milyaran pasang mata diseluruh dunia dikemas dengan sangat megah dan antusias. Seorang artis melukis foto Obama dan menuliskan sebuah kata “hope” dibawahnya. Hope adalah harapan, harapan yang sangat besar rakyat Amerika dalam menyongsong masa depan, yang juga harapan dari banyak negara didunia, kini terletak dipundak Obama.
Obama menjadi presiden ditengah situasi yang memburuk yang memukul AS dan mengimbas keseluruh dunia. Dia mengingatkan rakyat AS bahwa tantangan yang dihadapi tidak mudah, dia mengajak seluruh bangsa untuk selalu penuh harapan dan meminta seluruh rakyat untuk memikul tanggung jawab pribadi dan bersiap-siap menghadapi masa-masa sulit ke depan. Obama akan lebih mencurahkan perhatian pada masalah ekonomi selama 16 bulan ke depan.
Selain ekonomi, Obama juga akan menutup kamp tawanan di Guantanamo Bay, Kuba, mengurangi pasukan di Irak, serta menambah pasukan di Afghanistan. Dalam pidato pelantikan yang telah dipersiapkan, Obama menekankan “tantangan yang dihadapi oleh AS adalah nyata” dan “tidak akan dapat dituntaskan dalam waktu dekat.” Namun, presiden kulit hitam pertama di AS ini menekankan “masalah itu tetap akan dituntaskan.”(kompas.com 21/1). Selanjutnya dikatakan “Bagi dunia Muslim, AS akan menempuh cara menciptakan hubungan baru secara langsung melalui hubungan saling menghormati dan mengedepankan kepentingan bersama,” kata Obama. “Bagi para pemimpin dunia yang berupaya menabur konflik atau menyalahkan keterpurukan masyarakatnya kepada Barat - ketahuilah bahwa masyarakat kalian akan menilai dari apa yang kalian bangun, bukan yang kalian rusak,” tegas Obama.
Dilain sisi masalah terorisme, ini akan menjadi perhatian yang serius. Sebelum pelantikan, Presiden terpilih Barack Obama Rabu (14/1) mengatakan bahwa Al-Qaeda dan Osama bin Laden tetap ancaman nomor satu bagi keamanan AS, setelah sebuah rekaman suara baru muncul dari Osama. “Kami akan melakukan apa saja semampu kita untuk meyakinkan bahwa mereka tidak dapat menciptakan tempat berlindung yang aman yang dapat menyerang Amerika. Itulah garis dasarnya,” Obama menambahkan.
Kini Obama dihadapkan pada dua masalah pokok yaitu masalah dalam negerinya memperbaiki perekonomian dan kebijaksanaan politik luar negerinya yang pada delapan tahun terakhir banyak diwarnai kekuatan keras atau militer (hard power). Kebijakan politik luar negeri presiden Bush khususnya dalam memerangi terorisme dinilai menjadi tidak produktif, banyak mengorbankan nyawa, harta dan nama baik AS. Kini Obama akan mengambil langkah tegas dengan menarik pasukannya dalam 16 bulan dari medan tempur yang sia-sia di Irak. Obama akan memfokuskan palagan tempurnya di Afganistan dimana sel-sel teroris sebagai musuh besarnya berada. Pentagon terlihat sudah menyetujui untuk menambah 30.000 pasukan untuk digelar di Afganistan.
Calon menteri luar negeri AS, Hillary Clinton, pada 12 Januari 2009 telah memaparkan pemikiran-pemikiran kepada Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, dia memaparkan smart power (kekuatan pintar) dalam kebijakan-kebijakan luar negeri negara adidaya tersebut. Strategi ini memiliki prospek yang baik untuk memenangkan hati komunitas internasional.
Dalam konteks mengatasi ancaman dan perseteruannya dengan kelompok teroris internasional, nampaknya Obama menyadari betul bahwa ancaman teror terhadap AS harus diselesaikan dengan gabungan smart dan hard power. Obama akan melakukan tekanan lebih serius terhadap kelompok-kelompok teroris di Afganistan dan dia akan menetralisir pengaruh terorisme di negara-negara muslim.
Osama Bin Laden adalah produk budaya yang memperkuat rasa permusuhan, rasa tidak percaya dan dan kebencian mereka terhadap Barat khususnya AS. Budaya ini tidak mendewakan terorisme tetapi menyalakan fanatisme yang sudah ada dihati mereka. Masalahnya bukanlah Osama Bin Laden yakin kalau ini adalah perang suci melawan Amerika, masalahnya adalah jutaan orang di negara-negara Islam kelihatannya setuju (Fareed Zakaria). Inilah sebenarnya masalah yang harus diselesaikan oleh AS. Kini AS dibawah Obama memasuki babak baru dalam membuat negaranya aman dan tenteram. Ancaman teroris harus dinetralisir segera karena teroris memang ancaman utamanya yang nyata dan tak terduga, pernah mengharu birukan AS dengan meruntuhkan menara World Trade Center.
Kekuatan militer akan difokuskan di palagan bergunung Afganistan, membungkam Al-Qaeda, sementara dilpomasi pintarnya akan lebih diutamakan khususnya kepada negara-negara muslim. Bila AS dapat membantu negara-negara Islam dan negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam seperti Indonesia memasuki kehidupan yang lebih maju, bermartabat dan penuh dengan kedamaian, maka hasilnya akan dirasakan oleh Amerika jauh lebih besar dari pada hanya sekedar mengatasi ancaman terorisme. Nampaknya memang jalan ini yang akan ditempuh oleh AS dibawah kepemimpinan Obama. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar didunia, Indonesia harus menempatkan rasa percaya diri yang lebih besar dan pintar dalam berhubungan dengan anak menteng yang kini menjadi penguasa dunia. Mampukah kita memanfaatkan peluang tersebut?
PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.
Selasa, 20 Januari 2009
Januari, Bulan Penting Dan Kritis Bagi Sultan

Tadi malam penulis menghadiri undangan seorang sahabat dalam acara yang berjudul MEOK (Makan Enak Omong Kosong), makan nasi uduk dan ribs yang enak sekali dan cerita-cerita omong kosong. Pada acara tersebut penulis bertemu dengan Guntur Soekarnoputra yang menyanyikan sebuah lagu dari Afrika Selatan, dan yang hebatnya Mas To, begitu Guntur biasa disapa masih mampu memainkan gitar dengan piawai.
Penulis saat diberi kesempatan naik panggung, sebelum menyanyikan sebuah lagu dengan judul “There Goes My Everything” , menyampaikan sedikit analisa kepada Mas To, bahwa secara personal saat ini memang elektabilitas SBY berada diatas Mega. Akan tetapi begitu kedua tokoh tersebut dipasangkan dengan cawapres tertentu, apabila Mega mampu memilih pendampingnya yang tepat peluangnya masih besar untuk menang. Meok tadi malam ternyata berlanjut didalam sebuah renungan hingga menjadi sebuah artikel yang merupakan perkembangan dari Mega-Buwono.
Pagi ini banyak diberitakan oleh media massa bahwa tokoh PDIP Taufik Kiemas, suami Mega pada hari Jumat (16/1) telah melakukan pertemuan empat mata selama dua jam dengan Sri Sultan di Sleman, Yogya. Pihak PDIP menjelaskan melalui Effendy Simbolon bahwa pertemuan berlangsung saat kedua tokoh tersebut menghadiri acara temu Alumni dan Dies Natalis UII Yogya. Effendi menjelaskan mahwa pertemuan empat mata itu juga memperbincangkan tentang rencana kedepan terkait hubungan Megawati dengan Sri Sultan dalam Pilpres 2009. Pembicaraan lainnya terkait dengan pemahaman bersama tentang bagaimana melihat keutuhan bangsa dan negara serta pemahaman sejarah masing-masing.
Baik TK maupun Sultan berdiskusi dengan visi masing-masing serta adanya “sharing” masalah yang membelit bangsa ini. Langkah kearah duet Megabuwono dikatakannya sudah semakin mengerucut, walaupun belum dideklarasikan. “Pak Taufik berpesan agar Sultan tetap berada di Partai Golkar, dan ini semacam tahapan finishing touch saja, tanpa mengabaikan calon-calon yang lain” kata Effendi Simbolon. Selanjutnya dikatakannya bahwa Ibu Mega dan Sultan memiliki jiwa kebangsaan yang kuat, cara pandang mereka sama tentang pemerintahan saat ini yaitu pemerintah yang sekarang sudah tidak bisa diandalkan lagi.
Pertemuan antara TK dengan Sultan tidak akan berhenti sampai disitu saja, tetapi akan terus dilakukan dengan intensif. PDIP dikatakannya akan tetap melakukan pertemuan dan menjalin komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk dengan tokoh-tokoh yang dinilai memiliki potensi sebagai pendamping Mega. PDIP ingin tetap mencari figur yang ideal. Selain Sultan dikatakan oleh Effendi bahwa ada banyak tokoh lain yang masuk daftar buruan PDIP untuk menjadi pendamping Mega. Diantaranya Hidayat Nur Wahid, Akbar Tanjung, Jenderal (Purn) Ryamizard Ryakudu, Jimly Ashiddiqie dan Din Syamsuddin.
Dilain sisi, kubu pelangi sebagai pendukung Sultan, melalui Franky Sahilatua sebagai anggotanya, mengatakan pertemuan hanya membicarakan kondisi kebangsaan dan bagaimana memperbaiki bangsa ini. Dalam pertemuan tidak dibahas soal kemungkinan duet Mega-Sultan, karena Sultan tetap berkomitmen untuk membahas soal cawapres usai pemilu legislatif. Diakuinya akan ada pertemuan selanjutnya.
Dari penjelasan kedua belah pihak, terlihat bahwa nampaknya PDIP mencoba mendapatkan pandangan langsung dari salah satu cawapres yang dibidiknya. Sri Sultan walaupun masih sebatas figur tanpa dukungan kuat parpol besar kini dengan elektabilitasnya yang cukup tinggi merupakan tokoh yang diburu oleh beberapa elit parpol. Setelah Sukmawati yang mencoba mendekatinya, maka kini PDIP yang nampakya “dikejar waktu” akan Rakernas akhir Januari ini mencoba mendekatinya. TK sebagai ujung tombak terdepan PDIP dalam urusan cawapres telah mencoba turun langsung melobi Sultan, nampaknya akan ada pertemuan selanjutnya. Melihat penjelasan anggota tim pelangi Franky Sahilatua, ada sedikir “barrier” dipihak Sultan yang dikatakannya bahwa Sultan akan membicarakan soal cawapres seusai pemilu legislatif.
Dengan demikian, nampaknya Sultan akan melihat hasil pemilu legislatif dari beberapa parpol besar, menengah ataupun Partainya Golkar, khususnya posisi yang menguntungkan pihaknya. Disamping itu Sultanpun kelihatannya akan terus menaikkan elektabilitasnya. Apabila nanti seusai pemilu dan menjelang pilpres posisinya tidak memungkinkan untuk tetap menjadi capres, Sultan kelihatannya akan menurunkan posisi politiknya menjadi cawapres.
Dari hitung-hitungan politik, sebenarnya akan lebih menguntungkan bagi Sultan apabila kini menerima “pinangan” PDIP sebagai cawapresnya Mega. Karena gambaran beberapa hasil survei, kemungkinan besar pada pilpes nanti yang maju hanya dua capres SBY dan Mega. Parpol lain yang berpeluang mengajukan capres adalah Golkar. Apabila ingin menggunakan kendaraan Golkar, Sultan harus mampu dahulu mengalahkan dominasi faksi pendukung JK. Ini berarti medan tempurnya menjadi dua, ditubuh Golkar dan kemudian di Pilpres, enersi yang dibutuhkan akan sangat besar.
Sementara ini posisinya di Golkar dinilai kurang begitu kuat. Bulan ini adalah bulan yang kritis bagi Sultan, beliau harus memutuskan segera, karena PDIP akan membahas dengan serius pendamping Mega pada akhir bulan, bahkan akan memutuskan. Dalam sebuah pertarungan perebutan simpati rakyat, parpol, para capres dan cawapres sebaiknya jangan berspekulasi, kalkulasi sebaiknya dilakukan dengan dasar elektabilitas, hindari informasi “semu” tidak berdasar yang justru sering menjerumuskan. PDIP sebaiknya tidak mengambil Cawapres yang elektabilitasnya rendah, terlebih yang belum mempunyai nilai elektabilitas. Hasil beberapa Lembaga survei sebaiknya dijadikan sebagian dasar pertimbangan, khususnya dalam pengambilan keputusan, karena itulah sarana terbaik dari sebuah pilpres.
Maka, alternatif terbaik Sultan adalah bergabung dengan Mega, dengan tetap menjadi tokoh di Golkar. Artinya, apabila nanti Golkar lepas dari Partai Demokrat dan tidak mengajukan capresnya sendiri, maka besar kemungkinan Golkar akan berpaling ke Sultan. Apabila Sultan bersama Mega, peluang Mega-Buwono sangat besar akan memenangkan pilpres. Pilpres bukanlah persaingan partai, partai adalah kendaraan pengusung dalam memenuhi persyaratan UU Pilpres, inti dari pilpres adalah penilaian publik terhadap figur capres dan cawapres. Dari hasil survei Lembaga Survei Nasional pada tanggal 10-20 Desember 2008 , didapat data bahwa Mega-Buwono apabila pilpres dilakukan bulan Desember mampu mengalahkan pasangan SBY-JK dengan angka 44,8% - 39,1%. Data ini sebuah awal yang sangat baik bagi Mega-Sultan.
Apabila keduanya gagal disandingkan, maka terdapat dua calon yang sudah siap sebagai calon alternatif yang dinilai terbaik sebagai pendamping Mega, yaitu Hidayat Nur Wahid, Prabowo. Keduanya sudah memiliki elektabilitas dan didukung parpol yang kemungkinan akan berada dipapan tengah. Jadi kesimpulannya apabila peluang dari PDIP diambil, PDIP dan Sultan akan sama-sama untung, apabila peluang ditolak, Sultan mungkin tidak akan mendapat apa-apa pada Pilpres nanti. Oleh karena itu bulan ini dapat dikatakan sebagai bulan yang sangat penting, kritis dan harus dihitung benar oleh ”Ngarso Dalem” dan Tim Pelangi. Semoga tulisan ini ada manfaatnya.
PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.
Kamis, 15 Januari 2009
Parpol Yang Mungkin Lolos PT Dan Gambaran Koalisi
Oleh Prayitno Ramelan - 14 Januari 2009 - Dibaca 734 Kali -
Mendekati pelaksanaan pemilu legislatif yang tersisa kurang dari tiga bulan, parpol-parpol peserta pemilu terlihat semakin gencar melakukan upaya kampanye dan sosialisasi ke masyarakat agar mengenal dan kemudian mengharap konstituen mau mendukung partainya. Pada pemilu 2004, posisi parpol terbagi atas tiga kelas yaitu partai papan atas, partai papan tengah dan partai papan bawah, yang disebut orang sebagai partai gurem. Bagaimana kini kita mengukur kemungkinan kedudukan partai-partai tersebut?Ukuran yang paling mungkin dan dapat dipertanggung jawabkan adalah dengan hasil survei. Walau beberapa pihak ada yang meragukan bahwa hasil survei dapat ditunggangi untuk kepentingan partai tertentu, tetapi tetap saja tokoh partai-partai”peragu” itu menggunakan lembaga survei.
Penulis mencoba mengamati hasil dari beberapa lembaga survei yang fakta-faktanya terlihat tidak jauh berbeda, dengan waktu survei yang berdekatan dan dilaksanakan pada jumlah propinsi yang sama. Dari lima Lembaga survei yang diteliti, didapat tiga Lembaga Survei yang dipandang memenuhi syarat sebagai sumber informasi dalam artikel ini. Hasil ketiganya dibandingkan dan kemudian agar lebih “fair” hasil survei ketiganya dijumlahkan dan dibagi tiga, maka didapatlah data-data (angka “average”) yang menggambarkan posisi parpol berdasarkan elektabilitasnya. Ternyata hingga bulan Desember 2008 “hanya” delapan parpol lama dan baru yang memenuhi ketentuan UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang pemilu legislatif yang mensyaratkan ambang batas minimal parlemen atau “parliamentary treshold” (PT) sebesar 2,5%.
Sumber informasi pertama adalah Lembaga Survei Nasional (LSN) Pimpinan Umar Bakri, melaksanakan survei pada 10-20 Desember 2008 di 33 propinsi, jumlah responden 1225, margin of error 2,8%, tingkat kepercayaan 95%. Hasil survei elektabilitas parpol, PDIP (28,2%), Partai Demokrat (19,4%), Partai Golkar (13,5%), PKS (6,2%), Partai Gerindra (6,1%), PKB (4,5%), PAN (3,8%), PPP (2,8%).
Sumber informasi kedua adalah Lembaga Survei Indonesia (LSI) Pimpinan Saiful Mujani, melaksanakan survei pada 10-22 Desember 2008 di 33 propinsi, jumlah responden 2200, margin of error kurang lebih 2,2%, tingkat kepercayaan 95%. Hasil survei elektabilitas parpol, Partai Demokrat (23%), PDIP (17,1%), Partai Golkar (13,3%), PKB (4,8%), PKS (4,0%), Partai Gerindra (3,9%), PAN (3,4%), PPP (3,1%).
Sumber ketiga adalah Lembaga Survei LP3ES, melaksanakan survei tanggal 1-10 Desember 2008, di 33 propinsi, jumlah responden 2490, margin of error 2%, tingkat kepercayaan 95%. Hasil survei elektabilitas parpol, Partai Demokrat (24,2%), PDIP (20,2%), Partai Golkar (15,7%), Partai Gerindra (6,5%), PKS (3,9%), PAN (3,8%), PKB (3,5%), PPP (2,9%).
Dari hasil survei terhadap elektabilitas masing-masing parpol, dan apabila hasil ketiganya dijumlahkan dan dibagi tiga, maka akan didapat angka prosentase rata-rata dengan urutan dari prosentase dukungan besar kekecil. Partai Demokrat menjadi partai teratas dengan dukungan 22,2%, PDIP diposisi kedua dengan 21,8%, Partai Golkar diposisi ketiga dengan 14,2%, Partai Gerindra diposisi keempat mendapat 5,5%, PKS diposisi kelima mendapat dukungan 4,7%, PKB ditempat keenam dengan dukungan 4,3%, PAN ditempat ketujuh dengan dukungan 3,7%, dan PPP ditempat kedelapan dengan dukungan 2,9%. Untuk sementara, inilah kedelapan parpol yang mempunyai kemungkinan besar memenuhi persyaratan ambang batas minimal parlemen (PT).
Dari hasil rata-rata diatas, terlihat bahwa hingga bulan Desember 2008 Partai Demokrat masih menjadi Partai yang mempunyai harapan akan menjadi partai terkuat, posisinya berada diatas PDIP dengan selisih 0,4%, sementara Golkar berada agak jauh dibawah Demokrat dengan selisih 8%. Partai yang mempunyai harapan sebagai partai papan tengah kelihatannya akan diduduki oleh Gerindra, PKS dan PKB. Parpol-parpol lainnya tidak dimasukkan dalam pembahasan, karena sementara ini elektabilitasnya dibawah 2,5%. Parpol yang mempunyai harapan besar akan dapat memenuhi parliamentary treshold adalah Partai Hanura, yang dalam survei LP3ES mendapat 2,5%, survei LSN mendapat 2,0% dan survei LSI hanya mendapat 1,3%.
Kini, bagaimana kira-kira dengan kemungkinan koalisi?. Pimpinan “klasemen” kelihatannya dipimpin oleh Partai Demokrat dan PDIP. Apabila Golkar tetap bergabung dengan Demokrat, yang kemungkinan juga diperkuat oleh PKB, PPP dan PAN, maka kelompok Demokrat akan mengantongi 47,3% suara. Sementara PDIP apabila didukung PKS akan mengantongi angka 26,5% suara. Kedua kelompok dengan koalisi ini sudah memenuhi syarat untuk mengajukan pasangan capres-cawapres. Hasil koalisi akan menjadi sangat jelas setelah PDIP mengambil keputusan siapa pendamping Megawati, yang akan diputuskan pada rakernas PDIP di Solo yang direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 28 Januari 2009.
Kemungkinan terbaik bagi PDIP hanya dua, Hidayat Nur Wahid yang membawa suara PKS (4,7%) atau Prabowo Subianto yang membawa dukungan Gerindra (5,5%). Baik Hidayat maupun Prabowo kedua-duanya sama kuat sebagai capres. Dari perhitungan psikologis, karena lawannya adalah SBY dengan latar belakang militer, mungkin lebih baik yang dipilih Prabowo sebagai pengimbang dalam memenuh keinginan konstituen (”ketegasan”). Apabila Mega memilih Prabowo, kemungkinan PKS akan bergeser ke Demokrat. Apabila Hidayat dipilih oleh PDIP maka Prabowo kemungkinan akan bergabung dengan Demokrat, dan men “down grade” hanya masuk diposisi Kabinet apabila SBY kembali menang.
Kini pertanyaannya bagaimana apabila Golkar akan maju sendiri?. Kelihatannya agak berat bagi Golkar untuk maju sendiri, karena masih dibutuhkan sekitar 10,8% suara, dimana peluangnya hanya dari PKS, Gerindra atau PAN. Golkar harus memperebutkan PKS dan Gerindra dari kubu Demokrat atau PDIP. Mungkin ada benarnya perhitungan faksi dalam tubuh Golkar yang menghendaki bergabung saja dengan Demokrat. Apabila strateginya tidak pas maka Golkar bisa menjadi parpol besar yang “mempermalukan” dirinya sendiri seperti pada pilpres 2004.
Demikianlah informasi dan perkiraan sementara situasi dan kondisi dunia perpolitikan ditanah air menjelang pemilu legislatif 9 April 2009. Fakta dan data yang disampaikan berupa sebuah persepsi publik yang kiranya dapat dipertanggung jawabkan oleh masing-masing Lembaga survei bersangkutan. Memang akurasi data sesuai tingkat kepercayaannya yaitu sekitar 95%.
Tetapi dengan data tersebut, paling tidak gambaran kasar tentang parpol dan koalisi mulai terlihat dan diperkirakan akan lebih mengkristal. Data-data yang sudah terkait tersebut sangat diperlukan bagi sebuah partai politik dan tim sukses untuk menentukan taktik dan strategi dalam memenangkan persaingan yang dirasa semakin berat. Masih tersisa waktu untuk meningkatkan citra baik parpol maupun calonnya masing-masing. Semoga bermanfaat.
PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.
Share on Facebook Share on Twitter
40 tanggapan untuk “Parpol Yang Mungkin Lolos PT Dan Gambaran Koalisi”
imran rusli,
— 14 Januari 2009 jam 11:21 pm
Faktor figur tak diperhitungkan Pak? Dengan mekanisme suara terbanyak apakah partai politik masih bisa membusungkan dada sebagai pengatur negeri ini? Saya pilih sby dan hidayat deh pak, sama-sama terlihat aksinya (meski kecil) menolak korupsi, smentara yang lain masih membujuk-bujuk rakyat dengan sembako, kesejahteraan (sby sudah lakukan dengan pnpm mandiri yang terbukti jalan dibanding program serupa di rezim-rezim sebelumnya), atau program-program akan lainnya. Kalau pemilu legislatif saya golput Pak, tak ada yang pantas diberi suara ha ha, terserah MUI mau cap haram atau apa, emang gue pikirin si MUI yang tak jelas kerjaannya itu? Salaaam Pak.
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 12:14 am
Wah, mau tidur geser dari Face Book, lihat Blog kok ada Mas Imran Rusli nih…jawab dulu ah…Iya saya memang dalam artikel ini hanya membahas kekuatan dan pengaruh parpol terhadap konstituen. Faktor Figur jelas berpengaruh besar…karena artikel2 sy yg kemarin2 banyak juga membahas figur2 tsb. Ya boleh saja anda pilih SBY-HNW, pasangan kuat juga itu. Pemilu legislatif Golput krn tak ada yg pantas diberi suara…mungkin masuk Golput ideologis ya…tidaklah MUI sy kira tdk memutuskan Golput Haram. Kan Orang yg ahli agama tdk akan sekeras itu, menyarankan saja kali ya…Ok, terima kasih tanggapannya Mas Imran…sy ngantuk skl ni.Salaaaam juga>Pray
Atikah,
— 15 Januari 2009 jam 6:12 am
Ketiga Lembaga Survai di atas semakin lama semakin menunjukkan tidak kredible. Mungkin hasil surveinya sebagai tanda terima kasih dari pihak yang memberi dana. Maka itulah yang dimenangkan. Contohnya ada partai politik yang dalam survai selalu dikalahkan. Tapi hasilnya dalam PILKADAH seringkali menang. Partai apa itu? Amati sendiri !!!
Adapun koalisi Capres-cawapres. Kayaknya Hidayat Nur wahid dopasangkan dengan siapapun bakalan menang. Boleh jadi dia maju sebagai nomor 1 RI, tinggal cari aja wakilnya. OK
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 6:48 am
Mbak Atikah, terima kasih telah memberi tanggapan dan pendapatnya. Boleh-boleh saja kok seperti begitu….namanya juga dunia politik ya, kita boleh pro ke partai atau tokoh manapun juga ok. Sepertinya pendukung dari Hidayat Nur Wahid nih ya?….baguslah itu, artinya mbak Atikah bukan Golput dan akan menyukseskan pemilu dan pilpres. Ayo…digiatkan semangatnya menyukseskan siapa yg mau didukungnya. Kalau saya ya hanya membahas saja, tanpa berpihak kemana-mana. Menyampaikan faakta yg ada. Salam Mbak>Pray.
Danang,
— 15 Januari 2009 jam 8:15 am
aku sih mainya pak Hidayat Nur Wahid dan Pak Tifatul Sembiring yang menjadi capres-cawapres. Tapi sulit rasanya untuk menang.
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 8:24 am
Mas Danang, pendukung PKS memang inginnya ketua partai atu tokoh partainya yg menang, itu wajar kok, tidak apa2, tapi ya memang kalau berdasarkan hasil survei kini kelihatannya seperti anda katakan masih sulit untuk menang.Terima kasih pendapatnya.Salam>Pray.
syam,
— 15 Januari 2009 jam 8:39 am
Saya tidak sepenuhnya percaya dengan hasil survey, saya juga tidak sepenuhnya sependapat dengan “angka average” yang pak pray buat dari hasil survey tiga lembaga survey. Okelah, partai demokrat ada di puncak klasemen dan saya yakin PD akan memenangi Pemilu 2009 ini–juga Pilpres 2009–, akan tetapi untuk posisi kedua seharusnya adalah partai Golkar, bukan PDI P, kenapa Golkar diposisi 2 ? karena Golkar masih punya sisa-sisa kekuatan dan jaringan yang kokoh dan baik. Untuk posisi ketiga, PKS yang layak, baru untuk posisi ke empat dan ke lima PDI Perjuangan dan Gerindra. Kenapa jadi PKS di posisi 3 ? Ini mungkin ada yang tidak dilihat oleh banyak orang, juga elit parpol dan termasuk para ahli survey, PKS satu-satunya parpol yang memiliki kader-kader militan dan mereka terus bergerak hampir 24 jam memperkuat jaringan, mengadakan ribuan kegiatan dan door to door memperluas calon pemilih potensial… Sedangkan PDI Perjuangan hanya mengandalkan nama tenar Megawati saja, pengurus-pengurusnya pada tidur-tiduran saja, mereka tidak sadar nama Megawati tidak laku lagi untuk dijual. Untuk Gerindra, hanya besar karena iklan saja, tidak punya akar dan pemilih loyal…Bagaimana Pak Pray ?
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 8:48 am
Mas Syam, terima kasih tanggapan dan pendapatnya. Menurut saya ya tidak apa-apa kok sebuah pendapat yang tidak sesuai dengan topik bahasan dan ulasan yag dibuat. Karena jelas ada suatu perbedaan sudut pandang dan kepentingan, saya hanya mengulas dan menganalisa data dengan posisi sebagai penulis “indie”, sementara Mas Syam berada diposisi simpatisan sebuah papol. Bahkan saya pernah membaca bahwa Pak Muladi yang Gubernur Lemhannas saja juga mengatakan tidak percaya terhadap lembaga-lembaga survei yang ada, karena katanya dibiayai oleh parpol tertentu.
Sayapun pernah ikut memikirkan hal serupa, dari sisi “netral”, kenapa sih kok orang pada ribut dan tidak percaya pada sebuah hasil survei???Ternyata pernyataan banyak dibuat oleh elit parpol yang “merasa” parpolnya masih hebat, tapi kok dari hasil survei jadi dibawah. Misalnya tokoh2 Golkar mana mau menerima Partai demokrat jauh berada diatasnya…Demokrat dianggap partai baru, baru berkiprah tahun 2004, sedang Golkar sudah berapa puluh tahun berjaya dan menguasai dunia politik di Indonesia, sebagai partai papan atas pada pemilu 1999 dan 2004, eh kok hanya dalam waktu kurang dari 5 tahun rontok dibawah Demokrat.
Secara rasional dan emosional mereka jelas tidak terima. Nah, dari pengamatan saya yg kedua, apabila hasil survei mendudukan sebuah parpol pada posisi lemah, maka elit berpedapat akan menurunkan “citra”, yg jelas merugikan parpol dan tokohnya. Nah, semua geliat dalam dunia perpolitikkan di Indonesia tidak bisa hanya dilihat dan dirasakan berdasarkan sejarah atau “kira-kira” saja Mas Syam, kini terdapat sistem untuk mengukur elektabilitas ya Lembaga Survei itu. Kalau Lembaga Survei tidak valid dan tidak betul, kenapa parpol2 besar menggunakan cara ini juga, PDIP menggunakan survei untuk mengukur kepantasan dan kekuatan calon pendamping Megawati, Golkar juga sama dan kata Pak Muladi akan membuat survei sendiri.
Jadi disini terlihat cara ini yg terbaik. Secara periodik Lembaga Survei juga membuat survei dan memberikan untuk publik, maka saya yakin mereka juga tidak tidak berani main2 karena yg mereka jual adalah “kredibilitas”. Oleh karena itu saya hanya memilih tiga dari lima lembaga survei yang saya teliti hasil surveinya terhadap parpol-parpol, mirip, tidak “njomplang”. Tentang pendapatnya yang menempatkan urutan parpol sesuai keinginan atau analisa Mas Syam ya monggo saja deh. Saya hargai pendapatnya.Gitu ya.>Salam>Pray.
nda ndot,
— 15 Januari 2009 jam 9:03 am
pagi pak Pray,
sangat sulit memang untuk betul2 memetakan kekuatan partai2 politik. meski didukung dengan data dan lebih bersifat ilmiah, toh tidak sedikit orang yang meragukan hasil2 survey dari lembaga2 survey yang kredibel sekalipun. ya itu tadi.. dalam ranah politik, semua berbau politis. segala sesuatu yang memungkinkan untuk meraih simpati dan opini publik pasti tak lepas digarap.
menanggapi hasil berbagai survey, bisa dikatakan survey hanya menjangkau masyarakat menengah ke atas dalam hal intelektualitas. paling tidak terjangkau oleh media komunikasi lembga survey. masih ada lagi kelas2 masyarakat yang tidak terjangkau. dan jumlahnya banyak. sangat banyak. mereka ini cenderung tidak punya idealisme politik, tidak mengenal jago2 nya sehingga kemana suara mereka akan sulit ditebak.
saya kira terlalu dini untuk mengira-ira (wah kok susah bahasanya) partai2 mana yang akan berkoalisi. partai2 politik akan lebih bersifat pragmatis, bahkan pks sekalipun (yang ok lah bisa dikatakan partainya orang2 idealis). glenak-glenik dengan pdip beberapa waktu lalu salah satu buktinya. padahal secara idelogis maupun resouce2nya sangat sulit kedual partai ini disatukan. sikap wakil2 kedua partai ini di parlemen sering kali bertentangan. tapi ya itu kepentingan politik siapa bisa menduga. hasil pemilu legislatif nanti akan sangat menentukan pola koalisi partai2 politik.
saya kok ngenes melihat golkar. sebenarnya partai ini mempunyai infrastuktur yang paling baik dibanding partai lain. mesin politiknya kuat jika dikelola dengan benar. masanya sangat besar jika di garap dengan serius. apakah karena golkar tidak punya figur/tokoh yang mumpuni? setelah soeharto memang saya belum menemukan tokoh lain yang bisa menjadi trade mark nya golkar. berbeda dengan pks, selain memiliki mesin politik yang tangguh, masa yang solid, pks juga punya figur tokoh yang punya nama “cukup baik” di masyarakat. muda, idelais, bersih dan berani sepertinya sudah menjadi ke-khas-an tokoh2 pks. meski memang belum “battle proven”. bukannya banyak tokoh2 idealis yang relatif bersih akhirnya berakhir di jeruji besi setelah berurusan dengan kpk.
sby dan mega masih yang paling berpeluang menjadi “finalis”, tapi mesti berhati2 dengan kuda hitam prabowo. dia sudah berhasil membentuk imej di masyarakt. iklan yang mengena, dukungan dana yang besar, orang2 juga sudah lupa “dosa2″ masa lalunya. sepertinya simpati publik kian besar. wiranto masih harus bekerja keras ya. HNW ok lah.. tapi dia punya segmen yang relatif terbatas.
nda ndot
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 9:15 am
Selamat Pagi juga Nda Ndot, pagi-pagi sudah nanggapi nih…tapi ok kok, saya senang, karena politik memang harus kita diskusikan, agar kita yang mengunakan internet lebih “melek politik” daripada masyarakat pada umumnya. Kan netters itu bisa browsing dan membaca banyak hal ya. Menanggapi yg disampaikan, saya sudah mencoba menjelaskan pada tanggapan terhadap tanggapannya Mas Syam diatas, jadi tidak usah kita diskusikan lagi ya.
Menurut pendapat saya, kunci koalisi akan berada pada berapa suara yang diraih sebuah parpol. Partai Demokrat sudah sangat jelas mengatakan koalisi adalah “power sharing”, artinya siapa yang mau bergabung harus membawa suara, agar nanti kalau SBY menang, Pemerintah akan didukung sebuah kekuatan, syukur2 kekuatan koalisinya bisa mayoritas. Ini saya kira berangkat dari pengalaman SBY sebagai pimpinan eksekutif, merasa terganggu di parleman, walau sudah diupayakan membentuk koalisi mayoritas. Tapi pada kenyataannya beberapa parpol temannya kadang suka “lepas libat”, dan bahkan ada kesan agak menjegal. karena itu koalisi yang akan dibentuk dengannya harus solid.
Oleh karena itu saya mencoba masuk kewilayah ini berdasarkan rata-rata hasil survey, yang belum tentu juga valid untuk dipakai pada bulan Juli 2009 saat pilpres, karena Kita tahu hasil survei valid apabila dipakai saat dilakukan survei. Tapi paling tidak saya ingin memberikan gambaran, sebuah “estimate” berdasarkan fakta-fakta yang ada, agar parpol lebih waspada dan tidak terbuai dengan gambaran semu yg ada. Wah, sayang ya. Saya tahun 2004 pernah berbicara dan berdiskusi dengan salah satu petinggi Golkar (yg sangat tinggi) saat itu, memberikan gambaran bahwa dalam putaran kedua peluang Megawati akan kalah dari SBY, jadi saya katakan kepada teman saya agar Golkar memeberikan dukungan ke SBY dimana ada JK yang orang Golkar, tapi keputusan Partai justru mendukung Mega…terbukti kalah. Para elit berpikir kalau dua “jawara” pemilu, PDIP dan Golkar bersatu akan menang, kenyataannya hasil survei yang betul…., SBY yang menang…nah Golkar akhirnya jadi partai besar dan “gamang” kan…sayang menurut saya.
Tentang PKS yang fenomenal, kiprahnya memang banyak “menggentarkan” parpol lain, terutama parpol berbasis Islam. Saya beberapa kali menulis tentang kehebatan dan kenekatan PKS sebagai partai baru yang pintar dan berani, mampu memanfaatkan momentum. Kalau waktunya cukup baik untuk pemilu ataupun pilpres, PKS bisa menjadi partai yang harus diperhitungkan. Memang dalam kondisi masa kini, masih sulit kelihatannnya bagi parpol Islam untuk masuk kepapan tengah, pada pemilu 2004 dua partai baru Demokrat dan PKS mampu mendudukkan diri menjadi parpol papan tengah. Tapi kini dari hasil survei ini saya melihat kecenderungan yang mendapat dukungan lebih besar adalah Demokrat yang kemungkinan akan masuk menjadi papan atas, sementara PKS kemungkinan masih berada dikalangan papan tengah. Bahkan kompetitor terbarunya Gerindra terlihat sudah mulai menyalib elektabilitasnya. Kenapa? Karena yang digarap Gerindra adalah konstituen nasionalis. Sementara PKS harus berebut dengan partai-partai Islam lainnya. PKS sudah mencoba bergeser ketengah, strateginya memang baik, tapi waktu sudah demikian sempit. Ini harus segera diantisipasi. Memang sulit membentuk opini itu.
Tentang Prabowo, Wiranto dan Hidayat Nur Wahid saya kira masih agak berat untuk masa kini merebut posisi RI-1, karena SBY dan Mega sudah semakin kokoh duduk sebagai dua buah “jangkar”. Begitu ya Nda Ndot. Salam>Pray.
Rukyal Basri,
— 15 Januari 2009 jam 9:28 am
Harus diakui bahwa SBY sukses, kecuali dalam bidang ekonomi. Apalagi kalau kita kaitkan dengan ekonomi kerakyatan, khususnya petani dan nelayan, rapor SBY-JK masih merah. Melihat kecenderungan kekuatan politik PD dan SBY ( yang tentu juga akan makin pede), bukan tidak mungkin kalau sejarah dan strategi pilpres 2004 berulang. Ketika itu SBY tidak memilih cawapres dari ketua partai. Tapi justru figur, yang kemudian partai-partailah yang bergabung ke dalam koalisi PD untuk mendukung. Dulu katakanlah JK adalah figur yang tepat. Dan SBY-JK sukses, kecuali bidang ekonomi. Maka untuk menjawab tantangan peningkatan ekonomi kerakyatan dengan target mensukseskan tahap terakhir (2009-2014) bisa saja SBY akan kembali pede untuk menggandeng tokoh non ketua partai, tapi mumpuni dalam ekonomi kerakyatan.
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 9:35 am
Mas Rukyal Basri, terima kasih pendapatnya, kemana saja nih…kok baru muncul?.Memang pada pilpres 2004 itu parpol masih banyak yang belajar dalam menghadapi pilpres, banyak yang salah perkiraan, bahkan yang menangpun juga kaget. Untuk pilpres 2009, kelihatannya SBY dan partai demokrat sudah memasang harga koalisi tuh Mas, cawapres harus mempunyai elektabilitas yang cukup tinggi, harus didukung kekuatan parpol juga agar bisa membantu Demokrat di DPR, jadi menurut saya kemungkinan besar Pak SBY tidak akan mengambil langkah seperti tahun 2004, pasangan yang bukan apa2, bisa berbahaya Mas, pemilu legislatif dan pilpres sangat berbeda. Walau koalisi parpol besar…tapi pilpres akan lebih banyak ditentukan siapa tokoh yang maju. Saya pernah menulis, ada hasil survei yang menyebutkan apabila SBY berpasangan dengan JK akan kalah bila head to head dengan Mega yang dipasangkan dengan Sultan,HNW ataupun Prabowo. Ini adalah data penting bagi Demokrat, kelihatannya tidak berarti, tapi sangat berbahaya, bisa menghancurkan sebuah strategi yang dibuat dalam waktu yang lama. Nah, disinilah Mas Rukyal, saya berpendapat bahwa pada pilpres 2009 nanti peran cawapres akan besar sekali dalam memenangkan persaingan itu. Begitu ya, Salam>Pray.
prabu,
— 15 Januari 2009 jam 9:43 am
Salam kenal Pak Pray. Weleh… weleh… lembaga survei hebring pisan euy! Lembaga yang paling banyak dirujuk oleh berbagai lapisan masyarakat dalam sewindu ini. Dan juga secara bisnis merupakan usaha yang paling cepat balik modal. Dengan memasang tarif yang semakin tinggi, ternyata tak membuat nyali ciut bagi para elit politik negeri ini mengantri untuk di survei. Sementara rakyat berdesakan ngantri untuk seliter minyak tanah.
Padahal mantera quick accountnya lembaga survei itu tidak ada apa-apanya dibanding mantera trilogi pembangunannya mBah Harto. Jika lembaga survei meklaim dapat mengetahui pemenang pemilu disaat KPUD sibuk menghitung suara terakhir, sebaliknya mBah Harto bisa mengetahui siapa presiden berikutnya jauh sebelum pemilu, hehehe…. Tabik, pak Pray.
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 10:04 am
Mas Prabu, salam kenal juga…itu karikaturnya bagus sekali. Terima kasih sudah menanggapi,memang bisnis ini sangat besar, karena banyak yang perlu, kan berebut kekuasaan uang harus banyak ya, jadi makin teballah dompet para pemimpin survei itu. Namanya orang yang mampu melihat peluang Mas. Kalau jaman dulu yang anda sebut Mbah Harto itu pak Harto, ya betullah selama 32 tahun memang mampu menguasai dunia perpolitikan ditanah air…tidak usah meramal, karena aturannya ya sudah harus begitu. Gitu ya Prabu….Salam>Pray
viant,
— 15 Januari 2009 jam 10:43 am
informasi yang cukup bagus pak Pray, tapi ya itulah .. penggambaran hasil survey ini masih menunjukkan kepentingan partai, golongan, pribadi, bahkan sampai keluarga lebih no.1 ketimbang kepentingan menyeluruh rakyat, tapi ya tetap itu tadi dari rakyatnya sendiri.. apa gak belajar2 atau tersadar dari keadaan2 semacam ini yang terjadi berulang-ulang di negerinya ini.., memang kita wajib memilih / menunjuk seorang pemimpin (apalagi seorang muslim, gak ada istilah golput), tapi ya kita rakyat ini setidaknya teruslah belajar agar dapat memperbaiki keadaan negeri ini pula, jangan lagi lah terbawa hanya suasana hingar bingar pemilu ,kemudian setelah pemimpin terpilih (baik buat pemerintahan mupun parlemen / DPR) nanti gak setuju berkelahi, rakyat lagi jadi alat buat demo (ngerusak lagi..!), mau apa kita rakyat ini kalau begitu2 saja.., banyak sudah informasi mengenai si partai ini atau si partai itu (baik besar maupun kecil) kita lihat sekeliling kita dengan cara2 mereka memajukan calonnya atau tetap menjagokan pemimipinnya yang sudah terpilih, apakah hanya hingar bingar seperti itu yang rakyat mau ini (pembagian ini dan itu, hiburan ini dan itu, janji2 ini dan itu, reklame disana sini), tapi tetap.. juga rakyat ini terhipnotis dengan hal2 tersebut, mungkin gak akan pernah ada suatu parpol dengan calon pemimpinnya atau pemimpinnya yang sudah terpilh mengatakan “kalian rakyat yang mau bergabung dengan kami untuk memimpin negeri ini tidak akan merasakan kesenangan apalagi kemewahan selama rakyat yang kita pimpin tidak merasakan kesenangan dan kemewahan itu”, yang ada selalu ucapan, slogan “mari kita bangun ini dan itu, mari berjuang untuk ini dan itu, dll..”, apakah rakyat tidak bosan seperti itu.., adakah rakyat yang berbicara “parpol.. saya ingin bergabung bersama engkau, tapi saya gak mau dengan pemimpin yang kau tunjuk..” paling juga di lewati begitu saja rakyat tersebut oleh parpol tersebut, bukankah itu sudah menunjukkan bahwa parpol tersebut beserta calonnya atau pemimpin ada maunya..?, mari kita berjuang mencari, menunjuk dan mengangkat pemimpin yang sebaik-baiknya dalam memimpin nantinya agar semakin menaikkan derajat kita sebagai rakyat dan bangsa
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 11:17 am
Viant, terima kasih pendapatnya…bagus juga pendapatnya itu. Memang sulit ya manusia itu, selama dia hidup “complicated”…banyak maunya, emosi, ambisinya banyak yang besar, yang dicari kekuasaan jabatan, uang semua untuk kepentingan dia selama didunia. Banyak yang lupa bahwa hidup didunia ini tidak lama, “hanya numpang lewat”, nah kalau mau berfikir jauh, saya kira siapapun pemimpin itu dia harus mencurahkan hidupnya dalam memimpin negeri ini yang saya bilang aneh bin ajaib, banyak yang aneh2 disini. Sebagai seorang tua diusia senja sebenarnya prihatin sekali, negeri ini kaya tapi kita miskin, negeri ini berbudaya, tapi lihat kita selalu ribut, berkelahi, berintrik ria, menghalalkan cara, yah kapan mau majunya negara ini, kapan mau sejahtera rakyatnya. Saya pikir kita harus berfikir memilih pemimpin yang tegas, berani, rela berkorban, patriot, jujur, pintar, bijaksana,mengerti dan mau mendengar kesulitan rakyatnya…..tapi yang mana ya Viant. Mudah2an dia yang akan dipilih rakyat nanti menyadari bahwa dia akan mengemban amanah sebagai pemimpin negara Indonesia yang kita cintai bersama ini. Begitu ya Viant, mari kita jangan mengeluh, kita sumbangkan pemikiran, tindakan dan sikap kita agar negara kita maju.Salam>Pray.
aramichi,
— 15 Januari 2009 jam 12:10 pm
Yth bapak Prayitno Ramelan
Kalau menurut hitung2an saya sih memang masuk akal hasil survei tersebut termasuk juga proyeksi yang bapak tarik dari 3 lembaga survei. LP3ES sepertinya yang sampelnya paling banyak dan margin of errornya paling kecil 2 %. PDIP memang pendukungnya fanatiknya ya sekitar2 angka itu, berarti tidak terlalu bergeser jauh dari tahun 2004. Sementara menurut saya wajar kalau kenaikan Demokrat & munculnya Gerindra diimbangi dengan penurunan suara Golkar karena mereka bermain di ceruk yang sama, yang satu naik pasti yang satu turun sama persis dengan PKS dan PAN di tahun 2004, PKS naik dan PAN menurun karena segmennya memang sama.
Mengenai Rakernas PDIP, menurut saya terlalu berisiko apabila langsung mengumumkan cawapres pada saat itu juga . Saya rasa rakernas hanya mengukuhkan Megawati sebagai calon presiden, membuat kriteria cawapres, memberikan mandat kepada Megawati untuk memilih cawapres yang akan mendampinginya dalam pilpres. Terlalu berisiko menyebutkan nama cawapres sekarang, saat di mana para tokoh masih sibuk mencalonkan diri sebagai presiden. Saya rasa calon calon yang ditawari tersebut akan jaga gengsi sekarang ini, istilahnya jinak jinak merpati. Akan terasa sakit kalau ditolak sama seperti kalau kita menyatakan cinta eh malah ditolak dengan alasan belum waktunya
Mengenai kemungkinan Hidayat Nur Wahid dengan Megawati , terus terang saya masih ragu karena masalahnya PKS itu mekanismenya berbeda dengan partai partai lain. Kunci PKS bukan di presiden partai tapi dia Musyawarah Majelis Syuro dan mungkin sedikit yang menyadari bahwa kunci PKS adalah Ustad Hilmi Aminuddin apalagi setelah Ustad Rahmat Abdullah wafat. Jadi posisi Hidayat tentu tidak sama dengan Megawati karena Hidayat hanya bisa menjalankan perintah dari Majelis Syuro yang jumlahnya 99 orang, dan suara ketua majelis syuro akan sangat berpengaruh biasanya opsi yang disetujui oleh ketua majelis syuro itu yang didengar. Kalau saya prediksi berdasarkan sejarah dan latar belakang berdirinya PKS, mulai dari kepompong:), kok jauh ya dengan Megawati cs kecenderungan lebih ke mantan tokoh militer….atau tokoh Islam. Kalau Mega duet dengan Prabowo kemungkinannya cukup besar
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 12:14 pm
Aramichi, senang saya kalau anda menanggapi, ada hal-hal yang melengkapi analisa yang saya buat, walaupun ini sebuah analisa kecil dan ringan, tapi kalau para penanggap melengkapi, maka jadilah sebuah uraian, mungkin tidak kalah nij dengan analisa para pakar di media arus utama. Khusus utk Rakernas PDIP, kelihatannya Mas Tjahyo Kumolo sudah mengatakan bahwa mereka akan mengumumkan pendamping Mega nanti, dan Ibu Mega juga saat bersafari ke Makassar mengatakan karena saya wanita maka pendamping saya adalah pria, yang berbobot. Nah, PDIP akan mensosialisasikan pasangan tersebut justrus ebelum pemilu legislatif kelihatannya. Memang ada risikonya, dan pasti cawapres yang akan diumumkan atau dipilih oleh Mega saya kira sudah di hubungi lebih dahulu…benar sih…kalau ngelamar ditolak agak apa tuh…agak “tengsin”, maksudnya malu. Saya kira tidak deh.
Mengenai Hidayat Nur Wahid dengan Megawati, saya kira bisa saja, dalam politik apa sih yang tidak halal, yang dikejar sementara ini kan menang dan berkuasa bukan. Tapi mungkin ada masalah seperti yang anda katakan itu, PKS berfikir, kalau pemilu legislatif mendapat 20% suara akan maju sendiri. Ini artinya kan bisa saja kartu HNW dimainkan sekarang sebagai cawapres Mega, buat jaga2 kalau suara yang diraihnya tidak mencapai target. Kan bisa Kartu dimainkan seperti tahun 2004, kartu JK dimainkan diluar partainya…toh akhirnya JK juga yg jadi Wapres an jadi Ketua Partai. Ini kan terserah kepada pintar2nya para elit dan analis parpol kan Aramichi.Begitu ya…Salam>Pray
Novrita,
— 15 Januari 2009 jam 12:17 pm
Tadi pagi saya baca di koran bahwa ‘Pendukung Abdurrahman Wahid di Surabaya mengalihkan dukungannya kepada seluruh calon legislator PDI Perjuangan. Pemimpin Partai Kebangkitan Bangsa kubu Gus Dur kemarin meneken kesepakatan dengan pengurus PDI Perjuangan di Rumah Makan Taman Sari, Surabaya, Jawa Timur.’ (koran tempo, 15 Januari ‘09). Sempat saya baca juga tentang pertemuan Sri Sultan Hamengku Buwono dengan Sukmawati.Terlihat sudah mulai ada yang bergerak membentuk koalisi. Apalagi pemilu legislatif sudah semakin dekat… peta politik bergerak namun pergerakan masih belum menunjukkan pergeseran yang significant. Masih saja dari survei ke survei hasilnya adalah seperti yang sudah dirangkum pak Pray. Dan memang kenyataannya partai-partai selain yang dikemukakan di atas belum bisa membuat gebrakan yang akan membuat publik menoleh ke mereka.Ada baiknya buat partai-partai ‘kecil’ untuk membenahi dulu programnya, sehingga niat untuk menyuarakan aspirasi rakyat akan dapat terwujud dengan bisa terpilihnya mereka. Kalau hanya mendapatkan sedikit suara kan tidak mungkin mereka terpilih sebagai wakil rakyat.Saya sendiri awam tentang politik, hanya saran saya apabila programnya mengena dan pas buat rakyat..pasti rakyat akan menetapkan pilihan kepada yang ‘kena dan pas’. Ibaratnya begini, jika ada sekelompok gadis cantik,tentu kita akan bingung mau menentukan pilihan ke siapa… Untuk itu perlu gadis yang tidak sekedar cantik, tapi juga prigel, luwes, kreatif, pinter dsb.. yang pada intinya adalah gadis cantik yang punya nilai plus. Yah.. seperti itulah partai yang ‘kecil’ harus punya nilai plus agar menonjol dan menarik perhatian para pemilih.
Gimana .. apa saya sok pinter pak Pray….? Ini cuma belajar jadi pengamat aja lho…, kan saya murid pak Pray…
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 1:52 pm
Novrita, terima kasih tanggapan dan pandangannya ya. Saya pribadi terus terang salut dan kagum kepada sahabat saya ini yang rajin sekali membaca dan menanggapi setiap analisa politik. Jarang sekali ada wanita tertarik untuk berdiskusi masalah yang satu ini, kecuali yang memang bergelut sebagai caleg. Rata-rata di Face Book kalau ngobrol sama saya hanya mengatakan, aduh berat…diskusi politik, enggak nyampe! Wah padahal yg kita bahas disini adalah sesuatu yang sangat 100X penting, karena kita akan menentukan nasib kita dan nasib bangsa kita untuk lima tahun kedepan. Bagaimana kita tidak mau tahu kan, mudah2an di Forum yang baik ini, kita bisa mendapatkan (sharing idea) tentang kondisi perpolitikan dinegara kita. Saya akan berpegang teguh, kepada pengertian “indie”, tidak akan berfihak, jujur saja membahas apa adanya kan Novrita ya. Sudah tua begini, kalau “bohong-bohong” nanti dicatet malaikat…Udah serem.
Nah menanggapi apa yg disampaikan, tentang PKB, memang sayang ya, saat terpenting mau pemilu, bukannya damai tapi malah pecah kapal…dan kini Gus Dur sebagai tokoh panutan kaum Nahdliyin mulai melanjutkan “politik bumi hangus” setelah menganjurkan Golput, kini seperti yg Novri katakan “Pendukung Abdurrahman Wahid di Surabaya mengalihkan dukungannya kepada seluruh calon legislator PDI Perjuangan.” Kelihatannya benar-benar Gus Dur sudah patah arang kepada keponakannya Cak Imin. Maka senyum2lah PDIP para legislator PDIP tadi. Terus tentang pertemuan Sri Sultan dengan Sukmawati itu atas prakarsa partainya Sukmawati, yang menurut beberapa media Sukma mencoba penjajagan ke ubu Sultan.
Iya betul, parpol-parpol belum membuat gebrakan akan koalisi itu, maka saya membuat estimasi kira-kira akan seperti apa sih koalisi akan terbentuk, kalau tidak ada gebrakan lebih lanjut, ada kemungkinan yang bersaing hanya dua calon SBY dan Mega. Parpol-parpol yang kecil, agak sulit bergerak masa kini, ini sebagai imbas krisis ekonomi dunia yang juga mengimbas Indonesia. Suporter atau penyumbang dana juga mulai kesulitan. Nah yg betul seperti yg dikatakan Novri harus membuat program. Jadi kini parpol2 kecil terinjak oleh parpol besar yang mengunci permainan politik di Indonesia melalui UU Nomor 10/2008 itu tentang PT dan UU pilpres tentang syarat pengajuan capres.
Kini 10 parpol dan ratusan caleg maju ke Mahkamah Konstitusi untuk melakukan gugatan Uji Materi terhadap UU tersebut. Jadi kesimpulannya untuk apa ya membuat parpol kalau dana terbatas dan dukungan belum jelas, momentum tidak ada. Banyak ruginya dari untungnya ya Nov…tapi ada juga untungnya…lumayanlah…Ketuanya paling tidak jadi agak terkenal. Begitu ya Novrie, yang disampaikan bagus dan wajar kok, realistis dengan perkembangan yang ada. Kenapa tidak melamar jadi caleg saja, boleh juga tu, saran saya nanti 2014 maju tapi dari Partai Kompasiana. Salam>Pray
Darmanto,
— 15 Januari 2009 jam 2:14 pm
Tulisan dan analisa pak Pray menarik sekali buat dibaca & dicermati, meskipun buat pemilu kali ini saya bersama isteri & 3 anak saya memutuskan untuk tidak memilih alias GOLPUT, karena saya menilai bahwa partai politik beserta caleg yang ada di dapil saya tidak ada yang berkenan dihati sedangkan capres yang akan maju nantinya dapat dipastikan mega & sby, dimana keduanya sudah sama2 kita ketahui track recordnya selama berkuasa….jadi daripada merasa bersalah karena turut berkontribusi dengan memilih caleg ataupun capres yang tidak memihak kepada rakyat, kami sekeluarga memutuskan untuk GOLPUT.
Secara pribadi saya masih percaya dengan hasil survey dari lembaga2 survey yang pak Pray pilih & pergunakan sebagai referensi untuk membuat tulisan ini, karena mereka merupakan institusi yang sudah berdiri sejak lama dan kredibilitasnya dapat dipercaya…sedangkan anggapan bahwa mereka tidak obyektif karena dibiayai oleh parpol tertentu, menurut saya sangatlah salah karena mereka pastinya tidak ingin menghancurkan kredibilitas yang telah mereka bangun dengan memanipulasi hasil survey untuk kepentingan parpol yang membiayai survey tersebut. Lembaga2 survey tersebut memang dapat berfungsi juga sebagai konsultan politik, tapi hal tersebut dilakukan dengan memberi saran & masukan kepada parpol yg menggunakan jasanya agar dapat meningkatkan perolehan suaranya, bukan dengan melakukan ’setting’ atau manipulasi data hasil survey.
Prediksi saya mengenai hasil perolehan suara untuk pemilu nanti tidak jauh berbeda dengan hasil survey, hanya urutannya saja yang berbeda, yaitu : pdip, golkar, demokrat, gerindra. pks, pan, pkb, hanura, dan ppp….sedangkan untuk capres seperti sudah saya tuliskan diatas masih tetap sby & mega yang kembali dimenangkan oleh sby.
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 3:43 pm
Mas Darmanto, terima kasih tanggapan dan pendapatnya tentang hasil analisa, kredibilitas lembaga dan hasil survei yang saya pilih, dan juga keterusterangannya sebagai Golput…golput ideologis nampaknya ya. Dan juga terima kasih atas masukan2nya ya, serta prediksi parpol pemenang pemilu. Memang dari data yang saya olah, hanya valid hingga bulan Desember 2008, jadi bisa saja nanti terjadi perubahan posisi, tergantung aktivitas masing2 parpol serta upaya penaikan citra. Prediksinya ya boleh Mas, SBY X Mega yg menang SBY. Ok Mas Darmanto.Salam>pray.
adhy,
— 15 Januari 2009 jam 4:07 pm
saya pernah menulis agak kurang pd hasil riset. tp untuk tulisan om pray yg ini saya sangat tertarik. karena hasil analis om pray sesuai dengan tren di lapangan.
Para “RAJA” partai sekarang adalah partai demokrat & PDIP. untuk Golkar, saran saya maju saja jangan takut. coba lihat melihat manuver politik PKS. walaupun partai ini masih kecil, tp di mana-mana dengan sangat PD aktif ikut pilkada. walau banyak kalahnya, tp ke-PD-annya mendongkrak popularitasnya, kerjanya, pengalamannya, kematangannya dan kekuatannya. Golkar sebagai partai besar kalo cari aman saja, lama-lama akan kehilangan segalanya.
nah untuk papan tengah, kartu ASnya ada di PKS. Siapapun rajanya kalao ratunya gak cantik wibawanya akan hancur. dan dari beberapa ratu yg ada PKS yg tercantik.
itu dari sisi partai. kalo pun berkembang tidak akan jauh dari itu sampai 2009. untuk presiden masih terus berkembang. pengalaman pilkada, terkadang tidak ada hubungan antara partai dan figur. lihat JABAR. saya orang JABAR. di masyarakat walau hatinya MERAH/KUNING banget, tp “jatuh cinta” pd dede yusuf, ya pilihannya HADE.
gmn om???
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 4:17 pm
Adhy, terima kasih tanggapannya, dan syukur kalau suka dengan analisa yang saya buat, yah hanya itu yang bisa dibuat blogger tua ini. Masukan-masukannya jelas menambah ulassan yang saya buat. Salam ya>Pray.
aramichi,
— 15 Januari 2009 jam 4:28 pm
Yth bapak Prayitno Ramelan & Novrita
Terima kasih atas infonya nih mbak Novrita, saya sama seperti om Pray juga kagum nih terhadap mbak Novrita, selain cantik sepertinya juga punya nilai plus nih he he he he he pasti banyak parpol yang berminat meminang untuk menjadikan caleg, bukan saya gombal loh ya tapi memang kenyataan.
Mengenai Gusdur, sejak kecil saya memang suka tokoh ini, begitu piawai dan cerdas berpolitik. Saya inget dulu manuver dia mendukung Pak Matori ketika perebutan ketua umum PPP tahun 1994, terus ketika dia membentuk Forum Demokrasi dan menolak bergabung ke ICMI sebuah langkah yang tepat menurut saya, terus langkahnya menggandeng 2 srikandi kembar, mbak tutut dan mbak mega pada pemilu 1997, membentuk PKB tahun 1998, langkah dia menitipkan Saifullah Yusuf di PDIP, akhirnya bisa terpilih jadi Presiden tahun 1999 dengan memanfaatkan sokongan poros tengah dan restu kiai Langitan menurut saya itu merupakan bukti kecerdasan seorang Gusdur dalam berpolitik. Sekarang dia menggembosi PKB sama seperti yang dilakukan terhadap PPP di pemilu 1987 hanya bedanya kalau 1987 dia didukung oleh banyak kiai sepuh mungkin sekarang tidak sebanyak dulu karena ada yang sebagian ikut PKNU. Ternyata menurut hasil survei suara PKB menurun drastis hampir setengahnya kalau dulu dapet 10 % lebih sekarang hanya sekitar 4 % hal ini membuktikan bahwa pengaruh Gus Dur masih ada terutama di Surabaya dan daerah tapal kuda. Saya inget dulu memang di Surabaya pendukung Gus Dur begitu fanatik dan banyak, Gus Dur memang termasuk tokoh panutan di sana.
Langkah Gus Dur yang ternyata merapat ke PDIP tidak mengejutkan kalau menurut saya karena sepertinya Gus Dur ingin mengirimkan pesan. Tapi sebenarnya pesannya terutama bukan buat PKB tapi justru pesan utamanya untuk pemerintahan SBY-JK, Gus Dur menyimpan kekecewaan kepada pemerintah terutama menteri kehakiman dalam kemelut PKB kemarin. Jadi ini adalah langkah kuda Gus Dur yang memukul dua sasaran sekaligus yaitu pemerintah dan partai partai utama pendukungnya serta PKB. Jadi dengan memperkuat PDIP yang merupakan saingan berat partai2 pemerintah, Gus Dur secara tidak langsung menghukum pemerintah sekalian membuktikan bahwa tanpa dia PKB tidak ada apa apanya sembari berharap mungkin mendapatkan keuntungan apabila kelak PDIP berkuasa. Seperti kita tau tidak ada makan siang gratis dalam politik. Ini hanya sekedar analisis saya saja belum tentu kejadiannya seperti itu ya namanya juga hanya menebak nebak he he he he.
Novrita,
— 15 Januari 2009 jam 5:20 pm
Wah.. terima kasih mas Aramichi (eh betul mas ya…?). Saya sedang berusaha keras menahan kepala saya supaya tidak terus membesar… Kok ada yang bilang saya cantik…Jangan-jangan salah orang nih…
Btw, saya senang ada yang melanjutkan tulisan pak Pray.. Jadi lebih tahu tentang Gus Dur..Memang beliau adalah tokoh yang cerdas. Manuvernya tidak bisa diduga..
Bukan begitu pak Pray..?
aramichi,
— 15 Januari 2009 jam 6:34 pm
Yth bapak Prayitno Ramelan & mbak Novrita
mbak Novrita, beauty is in the eye of the beholder. Pak Pray kira kira bagaimana dengan faktor Gus Dur ini masih bisakah mempengaruhi perpolitikan dikaitkan dengan koalisi antar parpol maupun antar capres & cawapres karena sekalipun mungkin sekarang mutung dengan PKB tapi pengikutnya ternyata masih banyak. Terus terang saya senang akhirnya Gus Dur tidak menyerukan golput.
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 7:12 pm
Mas Aramichi, Memang Gus Dur tadinya menjadi tokoh yang sangat kuat pada saat beliau solid berada di tengah2 NU dan PKB, tapi kelihatannya kekuatan dan pengaruh beliau saya lihat sudah ter “degradasi” baik oleh pimpinan NU dan Ketua Dewan Tanfidz PKB, kini yang diandalkan adalah kharisma, yang merupakan senjatanya terakhir beliau. Pimpinan NU kelihatannya juga sudah lelah dengan konflik yang berkepanjangan di internal mereka, dahulu saat saya membantu Pak Matori Alm, gambaran perlawanan terhadap Gus Dur sebenarnya sudah nampak walau masih tersembunyi, dalam posisi ini hanya Pak Matori yang berani membawa kemeja hijau. Sejak itulah maka orang baru berani agak terang-terangan melawan Gus Dur, memang Gus Dur itu seperti yg anda katakan, agak sakit hati kepada pemerintah yang dinilainya memihak kepada Kubunya Cak imin (kubu ancol), hingga kini langkahnya ditujukan sebagai aksi protes baik kepada kubu SBY maupun Cak Imin. Sebenarnya Gus Dur secara politis sudah pernah mencoba merapat dan menawarkan posisi tawarnya ke Istana, tapi responnya dinilainya tidak baik, kini bergabunglah dia dengan lawan SBY(Mega dan PDIP). Menurut saya pengaruh Gus Dur itu masih besar, tetapi Ketua Umum PBNU juga sudah berjaga-jaga sejak lama, karena tidak menghendaki suara PKB jatuh ketitik nadir, karena walau bagaimanapun PKB adalah partainya kaum Nahdliyin yang kini dikontrol PBNU. Dari hasil survei terlihat PKB masih lumayan perolehannya, walau merosot. Kekuatan PKB adalah juga bagian dari “bargaining power” dari PBNU. Saya kira begitu ya Aramichi.Salam>Pray.
@Novrita…iya Gus Dur tokoh generasi penerus dari kiai nasab yang paling pintar dan berbobot, kita tunggu apa langkah selanjutnya dari beliau…saya juga pernah mengenal beliau Novri, paling pintar cerita yang lucu2…tapi idenya bukan main….dan berani…nekat! Salam>Pray
TITAH SOEBAJOE,
— 16 Januari 2009 jam 7:24 am
Cak, survey-survey itu apa ya benar? Saya ini awam mengenai survey. Methode yang mereka pakai itu bagaimana ya? Berapa orang yang disurvey? Mewakili siapa saja yang disurvey itu? Dalam kondisi bagaimana mereka disurvey? Lha wong sama-sama mewakili profesi, misalnya tukang jualan soto, atau sopir bajaj saja pendapatnya beragam apalagi kalangan orang sekolahan. Lebih-lebih pengusaha besar yang biasanya punya jagoan siapa saja asal menguntungkan usahanya. Kalau mau jujur, sampai saat ini, kita-kita ini tidak pernah ketiban pertanyaan untuk di survey. Bagaimana bisa ujuk-ujuk ada hasil survey yang menetapkan partai anjing 25%, partai kadal 13%, partai babi 2%, tapi tiba-tiba partai monyet naik 97%. Padahal total suara 100%. Belum lagi partai kebo yang tadinya banyak, karena bersama partai babi dan partai ayam kena potong untuk korban jadi partai gurem. Karena si Surveyor, tidak pernah lagi terima setoran dari yang bersangkutan. Setelah rakyat memberi tanggapan minor, mereka bersatu, agar ladang usahanya tidak saling menjatuhkan. Saya minta pendapat sampeyean Cak. Dan biasanya surveyor demikian anak-anak muda. Betapa sedih kita ortu yang jadul ini melihat kebohongan-2 mereka hanya untuk hidup secara hedonis. Saya masih ingat tentang cerita PAN dan Rizal atau Siapa yang belakangnya Mallarangeng itu, sampai hubungan gara-gara PAN merasa dirugikan sebagai pasien konsultan politik. Konsultan politik itu kan mendasari kegiatannya dari cerita survey. Sekali lagi mas, saya kok belum mudeng dan belum percaya tentang hasil survey. Karena cerita ramal-meramal begini kan mirip dukun kampung yang dari dulu sudah ada. Bedanya sekarang ada tujuannya dan agar ngganteng dibungkuslah ramalannya itu dengan survey. Persis tukang jual jamu, supaya banyak memikat orang, mereka pakai ular. Kalau dulu dukun ramal dikampung cari uang receh, sekarang tentu lebih canggih.Kedudukan, gaya hidup yang nikmat. Kembali lagi mas tolong diwedar dalam penjelasan yang jernih supaya rakyat ini tidak tambah mumet karena cerita survey yang membingungkan itu. Salam hangat saya, Bayu(Penyu Arema)
Prayitno Ramelan,
— 16 Januari 2009 jam 8:37 am
Mas Titah Soebajoe….yang sekarang ada tambahannnya Penyu Arema. Memang banyak orang itu cak yang “kadit” (bahasa walikan artinya tidak) percaya kok, mosok iya dengan sample hanya berapa ribu orang bisa mewakili sekian ratus juta orang, sama seperti pemikiran arek ngalam (malang) ini. Ragu-ragu begitu ya kang. Opo bener nih. Terus terang saya secara tehnis detail juga tidak tahu cara mensurvei itu, oleh karena itu para pelaku survei seharusnya menjelaskan tentang metodologinya secara detail kepada masayarakat. Tetapi ya begitu itu, rahasia perusahaan kali ya.
Begini kang, pada tahun 2004 saat akan dilaksanakannya pemilu dan pilpres, saya mengamati bagaimana membuat ukuran keberhasilan kampanye parpol dan pilpres, bagaimana posisi masing-masing. Ternyata dalam kegiatan perpolitikan ada yang namanya survei, dan survei juga umum dilakukan dinegara mana saja kalau mau pemilu. Indonesia agak ketinggalan, karena selama 32 tahun kan tidak perlu survei, dominasi Pak Harto dan Golkar mampu menguasai dunia politik kita.
Nah, saya mengikuti surveinya IFES yang dilakukan oleh Indonesian Pooling, dapat dukungan dana dari Jimmy Carter, sebagai sumbangan kepada Indonesia. Ternyata sangat menarik kegiatan tersebut…sayapun heran, sama seperti arek ngalam ini. Apa iya sampel yang diambil dari sekian ribu orang bisa mewakili sekian banyak pendapat orang. Ternyata kegiatan survei itu “ribet” Mas, jadi untuk mensurvei 33 propinsi, dibagi jatah tiap propinsi berapa target yg akan diambil pendapatnya, responden dipilih dan diteliti. Yg saya ingat, diambil ukuran pendidikan, SD,SMP,SMA hingga perguruan tinggi. Kemudian tingkatan umur, status kehidupan, kepartaian, dimana dia tinggal apa di kota, apa di desa. Nah, kepada mereka diajukan pertanyaan-pertanyaan yang cukup banyak, sesuai dengan tujuan survei tersebut, kalau tentang cawapres, maka diajukan sekian banyak nama calon, responden tadi disuruh memilih. Juga terhadap pertanyaan2 lainnya. Setelah terkumpul hasilnya kemudian dianalisa, ini bagian terpenting karena di lembaga survei ada analis2 handal, yg mampu membaca hasil.
Hasil sebuah lembaga survei disebut sebagai sebuah persepsi publik, jadi ini bukanlah hasil sebenarnya seperti hasil pemilu, karena hanya sebuah persepsi. Tapi dengan metode yang benar, pelaksanaan yang jujur, maka hasilnya rata-rata dikatakan bisa dipercaya sekitar 95%, dan disebutkan juga margin of error, yah kemungkinan melesetnya kira-kira begitu. Sebuah hasil survei yg margin of errornya kecil akan lebih baik daripada yang besar. Dan yang terpenting hasil survei hanya valid dipakai pada saat dilaksanakan survei, tidak pada masa mendatang.
Tentang masalah kejujuran, mungkin saja lembaga survei ada yg tidak jujur, akan tetapi “periuk nasi” mereka sangat-sangat tergantung pada “kredibilitas” atau kata lain kejujuran itu. Parpol juga bukan organisasi yang “naif” kan, mereka pasti akan mengikuti track record sebuah lembaga survei sebelum menyewanya. Lembaga2 itu hidupnya ya dari disewa oleh parpol atau caleg untuk kebutuhan internal macam2,pilkaa, pemilu, pilpres, akan tetapi lembaga itu juga melakukan survei sendiri, seperti hasil yg saya sampaikan diatas tentang posisi 8 parpol (bln Desember 2008), dimana di persepsikan yang lolos persyaratan pariamentary treshold yg 2,5%. Mereka rata-rata punya yayasan yg mengelola koceknya.
Nah, sayapun sebagai blogger yang mengamati dunia perpolitikan ini menggunakan hasil survei yang disiarkan lembaga-lembaga survei itu secara periodik, saya juga meneliti dan mngamati 5 lembaga survei. Kalau mereka pada periode yg sama dan hasilnya jauh berbeda kan jadi aneh, dari 5 lembaga itu saya memilih 3 lembaga yg saya pandang valid (dari kacamata saya), yg dua tidak saya pakai, karena ada sebuah parpol yng oleh 3 lembaga dikatakan elektabilitasnya rendah, eh di lembaga itu berada tinggi diatas, kan tidak wajar. Jadi demikian Cak, saya melakukan analisa ini tidak begitu saja, saya juga melakukan penelitian dan mempelajari lembaga2 itu, kalau saya menggunakan sebuah fakta yang menyimpang, kan artinya analisa saya juga menyimpang kan. Jadi data2 tersebut saya konfirmasikan dulu satu sama lainnya. Dan tidak mungkin kalau lembaga2 itu bekerja sama, karena justru diantara mereka saling bersaing, ingin membuktikan kepada publik kalau hasil surveinya yg paling tepat.
Ini hanyalah sebuah sumbang pemikiran, dengan sebuah referensi yang bisa dipertanggung jawabkan (maksudnya oleh lembaga-lembaga survei itu), tinggal saya mengolahnya kan, saya mengerjakan dengan ringan, tanpa beban, karena saya hanyalah seorang blogger kompasiana yang tidak memihak, independen, jujur….hanya itu cak modal saya. Begitu ya Mas Bajoe yg Arema, mohon maaf kalau ada penjelasan yang kurang pas, karena saya tidak expert dalam masalah Survei, saya hanya pengguna hasil survei dan mempercayainya (walau tidak semua!!). Sampun nggih kangmas. Salam>Pray
Sukma,
— 16 Januari 2009 jam 11:28 am
Maka itu, saya pikir parpol2 gurem harus menyadari positioningnua. Yang mungkin lolos PT hanya sekitar 8 sampai 12 parpol saja menurut saya. 48 parpol terlali banyak, tapi jika 3 juga terlalu sedikit.
Saya pikir hanya 9 parpol lama dan 4 parpol baru yang akan siap dari segi positioning ikut Pemilu 2009.9 parpol lama yang siap: GOLKAR, PDIP, PKS, DEMOKRAT, PAN, PKB, PPP, PDS, PBB5 parpol baru yang siap: GERINDRA, HANURA, PDP, PKNU, PMB
Darmanto,
— 16 Januari 2009 jam 2:13 pm
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada pak Pray yang telah menjawab & menjelaskan secara detail & runut mengenai sistematik & prosedur melakukan suvey, sehingga saya yang awam & ndeso semakin bisa mengerti & yakin dengan hasil survey yang dirilis oleh lembaga survey yang profesional & akuntabel.
Wass,Darmanto
beninghati,
— 16 Januari 2009 jam 2:54 pm
Pak Prayitno ….saya pingin ikut nimbrung nih…
Saya sempat terlibat dalam survey dan masuk dapurnya LSI. Tapi sekarang hanya melibatkan diri dalam salah Litbang suatu lembaga. Mengenai sampel yang sedikit itu memang ada hitung2anya, maksud saya ada rumus dan teorinya. Sebagai contoh kalo kita mau mensurvey di Jakarta dengan penduduk sebanyak 4 juta orang (CMIIW) paling hanya butuh sampel 400 - 500 responden dg margin error 4 %. Margin Error ini juga ada teorinya lho……
Sebenarnya Metodologi ini tidak menjadi rahasia perusahaan, kalo suatu lembaga survey mengumumkan hasil surveynya ya…harus dijelaskan metodologinya. Kalo LSI biasanya menggunakan Multistage Random Sampling, disamping itu ada yang namanya Sistematic Random Sampling, juga ada Simple random.
Metodologi ini semuanya benar dan ada landasan teorinya dalam Ilmu Survey Statistik.
Nah yang menentukan perbedaan setiap lembaga survey dalam menjalankan surveynya antara lain: faktor materi survey(wawancara), Surveyor (Pewawancara) dan Penyandang Dana dari surve tsb.
saya tidak bermaksud membuka aib ya….tapi kita belajar melihat fenomena yang berkembang di jagat perpolitikan kita tentang adanya lembaga2 survey. LSI dalam menjalankan surveynya selalu membagi 2 aktivitasnya yaitu sebagai Lembaga Penelitian (Survey) dan Lembaga Pemenangan (untuk memenangkan calon /partai yang memebayar mereka). Sebagai lembaga Pemenangan LSI memberikan rekomendasi kepada pesannya bagaimana strategi/kebijakan yang harus diambil untuk memenangkan pemesannya.
Segitu dulu deh
mahendra,
— 16 Januari 2009 jam 3:12 pm
selamat sore pak pray,
kalau nantinya sesuasi apa yg menjadi perkiraan diatas, cuma ada dua pasangan copres-cawapres. mungkin ada baiknya juga, karena pemilihan presiden cuma sekali putaran saja, tidak usah ada 2 putaran atau bahkan ada babak tambahnnya lagi, bikin boros!! siapapun nantinya yg menang memang itulah pilihan rakyat. asal tidak ada gugatan2 yg berarti ke MK. biar pemerintahan sesuai jadwal, tidak molor2…tapi kalau calon nantinya yg jadi maju cuma 2 pasang saja, jangan salahkan jika para golput juga banyak, karena aspirasi mereka yang tidak tersalurkan.karena hal tersebut juga merupakan pilihan dalam berdemokrasi. bukannya sakit hati lho ya??salam
Prayitno Ramelan,
— 16 Januari 2009 jam 10:35 pm
@Mas Sukma, terima kasih sudah memberi tanggapan, iya betul, kalau berdasarkan hasil survei tersebut diatas maka apabila pemilu dilaksanakan pada bulan Desember 2008 maka parpol yang lolos PT ya hanya 8 itu. Tapi nanti pada pemilu April 2009 kelihatannya jumlahnya akan bisa bertambah, kan parpol2 belum tancap gas, nanti pada Maret 2009 baru mereka akan kampanye habis-habisan. Kita lihat saja ya, sebenarnya beberapa parpol lama yg lolos PT tahun 2004 juga ada yg diposisi bahaya. Kecuali gugatan dari 10 parpol dan para caleg terhadap materi UU No.10/2008 tentang Pemilu khususnya yang menyangkut PT dikabulkan Mahkamah Konstitusi. Ramalan anda boleh juga nanti yang kemungkinan lolos PT sekitar 13 parpol Salam>Pray.
@Mas Darmanto, sebenarnya saya mengerti benar juga tidak tentang metoda survei, hanya thn 2004 pernah ada sedikit pengalaman mengikuti survei pemilu, jadi sedikit pengetahuan dan ditambah beberapa keterangan dari beberapa tokoh survei Indonesia seperti Denny JA, Mas Qodari, Mas Umar Bakri, itulah sedikit penjelasan. Nah, pada saat membuka Kompasiana ada yg namanya “Beninghati” yang berbaik hati, pernah bekerja di Lembaga Survei LSI, mau sharing menjelaskan tentang Survei. Gitu ya Mas Dar, Salam Hangat Mas>Pray,
@Beninghati, is Takfl ur name?. Pertama-tama saya atas nama para teman dan sahabat di Kompasiana penggemar politik mengucapkan terima kasih atas kesediaannya memberi penjelasan tentang survei, yang perlu tapi masih banyak diragukan oleh banyak fihak. Akhirnya saya mencoba menjelaskan…mungkin penjelasan saya kurang pas ya Mas yg hatinya bening. Seperti penjelasan saya saat ditanya apa warna angin itu, saya jawab “merah”…ah yang betul, lihat saja kalau kerokan masuk angin kan warnanya merah. Yah begitu lah si Blogger kakek ini mencoba menjelaskan.Bagi para teman, penanggap, pembaca, yg masih ragu2 silahkan membaca penjelasan Mas Beninghati, semoga menjawab semua keraguan dihati itu. Ok Mas Kaful, kalau bisa tolonglah anda sekali-kali nulis tentang survei ini, dan dikirim ke kompasiana biar kita-kita tercerahkan begitu…Salam>Pray.
@Mas Mahendra…seneng lho membaca tanggapan anda itu. Ada rasa menyetujui tapi ada rasa mangkel juga dikit-dikit…maksud saya mangkel itu sedikit dibawah sakit hati (Maaf lho ya). Kan ini posisi bulan Desember Mas, saya berani mengatakan kalau posisinya begitu maka kemungkinan hanya akan ada dua nih yang maju jadi capres. Kita lihat saja pilkada DKI Jakarta, sekian banya parpol tapi yang maju hanya dua kubu yaitu Kubu Bang Foke Rame-rame melawan Kubu Kang Adang yang hanya didukung PKS. Jadi bisa saja nanti ada Kubu SBY Rame-rame melawan Kubu Mega yang didukung satu atau dua parpol. Karena parpol2 kan banyak juga nanti menunggu setelah pemilu,akan terjadi blok, mereka yang kurang kuat akan bergabung ke Capres yang kuat. Tapi entah ya, dengan prinsip power sharing apakah Demokrat mau menerima parpol yang hanya punya 2 atau 3 kursi di DPR? Biasalah banyak yang mau lihat-lihat situasi dahulu. Tapi menurut saya setelah pemilu nanti pasti banyak parpol yang akan “kapok” meneruskan berkiprah…ongkosnya banyak, tidak dapat apa2, salah2 punya hutang lagi. Saya perkirakan jumlah parpol setelah pemilu otomatis akan menyusut, lebih baik menyalurkan aspirasi ke prpol besar saja “It’s better”. Tentang Golput tambah banyak ya mungkin saja Mas, setelah Golput Ideologis, Golput Pragmatis, Golput Apatis…kemarin saya nonton di Teve ada lagi Golput Administratif. Iya kali ya…Salam Deh, yg sabar jangan kecewa dulu, sapa tahu jagonya tahu2 melonjak…Salam>Pray.
adhy,
— 17 Januari 2009 jam 9:44 am
mengenai Gus Dur. saya hanya mengulang komentar saya di tulisan om pray tentang manuver politik PKS (iklan Suharto). di sana saya menulis bahwa realitas-realis baru Indonesia akan menimbulkan trsformasi politik.
- Perbandingan kaum urban(kota) - rural (desa). Menurut data dari BPS, perbandingan ini akan mengalami titik balik pada tahun 2010 di mana perbandingannya menjadi sekitar 54% urban dan 46 rural.- Distribusi informasi yang semakin merata karena peran media. dampaknya tidak ada lagi asimetris informasi. Karena konektifitas, maka disparitas antara desa dan kota dalam soal informasi tidak relevan.
Realitas baru perpolitikan di Indonesia tersebut, akan menyokong terjadinya proses transformasi besar-besaran dalam tradisi perpolitikan itu sendiri, salah satunya Transformasi dari tokoh kharismatik kepada tokoh kinerja. Akan ada transformasi bahwa masyarakat semakin mengutamakan tokoh yang berbasis kinerja dari pada tokoh yang berbasis kharisma. Dan, ini merupakan salah satu perspektif penting dalam komunitas urban. Karena itu di sini ikatan-ikatan primordial seperti suku, agama bisa jadi tidak relevan.
inilah yg sedang terjadi pd Gus Dur, kharismanya mulai luntur. saya melihat dia sedang mengalami pos power syndrom.
imran rusli,
— 17 Januari 2009 jam 1:03 pm
Iya tuh Pak Pray, udah gitu Gus Dur masih saja terus mlorotin citranya sendiri, ngeyel banget dengan arogansinya, padahal udah mati pajak dan dilecehkan pona’an sendiri, weleh weleh. Btw senang baca analisis-analisis Pak Pray, wawasan jadi nambah nih, tq Pak.
Prayitno Ramelan,
— 17 Januari 2009 jam 6:40 pm
@Adhy, terima kasih pendapatnya, bagus sekali sebagai masukan bagi para pembaca…memang jaman sudah berubah, akan terjadi pergeseran nilai di negara kita, pengaruh globalisasi memang sangat besar pengaruhnya…saya setuju kalau nanti masyarakat lebih membutuhkan tokoh yang dinilai dari kinerjanya bukan kharisma, lihat saja…banyak anak yg kadang sudah mulai kurang menghargai orang tuanya. Ini mungkin yg juga sedang terjadi pada Gus Dur…diremuk redam oleh kalangannya sendiri yang relatif muda-muda. Tks.Salam>Pray.
@Imran Rusli, terima kasih dan saya bersyukur kalau anda suka dengan tulisan dan analisis yg saya buat…baca terus ya…Salam>Pray.
imran rusli,
— 30 Januari 2009 jam 9:06 pm
he he tentu Pak Pray, ibarat kuliah ini kuliah penuh gizi, dosennya enak lagi, mau 200 sks pun ditongkrongin nih
Prayitno Ramelan,
— 30 Januari 2009 jam 11:13 pm
Mas Imran….terima kasih atas kesediaannya….semoga nanti kopdar Kompasiana bisa datang, buat kenalan, kan lebih akrab dan enak ya. Salam>pray.
Mendekati pelaksanaan pemilu legislatif yang tersisa kurang dari tiga bulan, parpol-parpol peserta pemilu terlihat semakin gencar melakukan upaya kampanye dan sosialisasi ke masyarakat agar mengenal dan kemudian mengharap konstituen mau mendukung partainya. Pada pemilu 2004, posisi parpol terbagi atas tiga kelas yaitu partai papan atas, partai papan tengah dan partai papan bawah, yang disebut orang sebagai partai gurem. Bagaimana kini kita mengukur kemungkinan kedudukan partai-partai tersebut?Ukuran yang paling mungkin dan dapat dipertanggung jawabkan adalah dengan hasil survei. Walau beberapa pihak ada yang meragukan bahwa hasil survei dapat ditunggangi untuk kepentingan partai tertentu, tetapi tetap saja tokoh partai-partai”peragu” itu menggunakan lembaga survei.
Penulis mencoba mengamati hasil dari beberapa lembaga survei yang fakta-faktanya terlihat tidak jauh berbeda, dengan waktu survei yang berdekatan dan dilaksanakan pada jumlah propinsi yang sama. Dari lima Lembaga survei yang diteliti, didapat tiga Lembaga Survei yang dipandang memenuhi syarat sebagai sumber informasi dalam artikel ini. Hasil ketiganya dibandingkan dan kemudian agar lebih “fair” hasil survei ketiganya dijumlahkan dan dibagi tiga, maka didapatlah data-data (angka “average”) yang menggambarkan posisi parpol berdasarkan elektabilitasnya. Ternyata hingga bulan Desember 2008 “hanya” delapan parpol lama dan baru yang memenuhi ketentuan UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang pemilu legislatif yang mensyaratkan ambang batas minimal parlemen atau “parliamentary treshold” (PT) sebesar 2,5%.
Sumber informasi pertama adalah Lembaga Survei Nasional (LSN) Pimpinan Umar Bakri, melaksanakan survei pada 10-20 Desember 2008 di 33 propinsi, jumlah responden 1225, margin of error 2,8%, tingkat kepercayaan 95%. Hasil survei elektabilitas parpol, PDIP (28,2%), Partai Demokrat (19,4%), Partai Golkar (13,5%), PKS (6,2%), Partai Gerindra (6,1%), PKB (4,5%), PAN (3,8%), PPP (2,8%).
Sumber informasi kedua adalah Lembaga Survei Indonesia (LSI) Pimpinan Saiful Mujani, melaksanakan survei pada 10-22 Desember 2008 di 33 propinsi, jumlah responden 2200, margin of error kurang lebih 2,2%, tingkat kepercayaan 95%. Hasil survei elektabilitas parpol, Partai Demokrat (23%), PDIP (17,1%), Partai Golkar (13,3%), PKB (4,8%), PKS (4,0%), Partai Gerindra (3,9%), PAN (3,4%), PPP (3,1%).
Sumber ketiga adalah Lembaga Survei LP3ES, melaksanakan survei tanggal 1-10 Desember 2008, di 33 propinsi, jumlah responden 2490, margin of error 2%, tingkat kepercayaan 95%. Hasil survei elektabilitas parpol, Partai Demokrat (24,2%), PDIP (20,2%), Partai Golkar (15,7%), Partai Gerindra (6,5%), PKS (3,9%), PAN (3,8%), PKB (3,5%), PPP (2,9%).
Dari hasil survei terhadap elektabilitas masing-masing parpol, dan apabila hasil ketiganya dijumlahkan dan dibagi tiga, maka akan didapat angka prosentase rata-rata dengan urutan dari prosentase dukungan besar kekecil. Partai Demokrat menjadi partai teratas dengan dukungan 22,2%, PDIP diposisi kedua dengan 21,8%, Partai Golkar diposisi ketiga dengan 14,2%, Partai Gerindra diposisi keempat mendapat 5,5%, PKS diposisi kelima mendapat dukungan 4,7%, PKB ditempat keenam dengan dukungan 4,3%, PAN ditempat ketujuh dengan dukungan 3,7%, dan PPP ditempat kedelapan dengan dukungan 2,9%. Untuk sementara, inilah kedelapan parpol yang mempunyai kemungkinan besar memenuhi persyaratan ambang batas minimal parlemen (PT).
Dari hasil rata-rata diatas, terlihat bahwa hingga bulan Desember 2008 Partai Demokrat masih menjadi Partai yang mempunyai harapan akan menjadi partai terkuat, posisinya berada diatas PDIP dengan selisih 0,4%, sementara Golkar berada agak jauh dibawah Demokrat dengan selisih 8%. Partai yang mempunyai harapan sebagai partai papan tengah kelihatannya akan diduduki oleh Gerindra, PKS dan PKB. Parpol-parpol lainnya tidak dimasukkan dalam pembahasan, karena sementara ini elektabilitasnya dibawah 2,5%. Parpol yang mempunyai harapan besar akan dapat memenuhi parliamentary treshold adalah Partai Hanura, yang dalam survei LP3ES mendapat 2,5%, survei LSN mendapat 2,0% dan survei LSI hanya mendapat 1,3%.
Kini, bagaimana kira-kira dengan kemungkinan koalisi?. Pimpinan “klasemen” kelihatannya dipimpin oleh Partai Demokrat dan PDIP. Apabila Golkar tetap bergabung dengan Demokrat, yang kemungkinan juga diperkuat oleh PKB, PPP dan PAN, maka kelompok Demokrat akan mengantongi 47,3% suara. Sementara PDIP apabila didukung PKS akan mengantongi angka 26,5% suara. Kedua kelompok dengan koalisi ini sudah memenuhi syarat untuk mengajukan pasangan capres-cawapres. Hasil koalisi akan menjadi sangat jelas setelah PDIP mengambil keputusan siapa pendamping Megawati, yang akan diputuskan pada rakernas PDIP di Solo yang direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 28 Januari 2009.
Kemungkinan terbaik bagi PDIP hanya dua, Hidayat Nur Wahid yang membawa suara PKS (4,7%) atau Prabowo Subianto yang membawa dukungan Gerindra (5,5%). Baik Hidayat maupun Prabowo kedua-duanya sama kuat sebagai capres. Dari perhitungan psikologis, karena lawannya adalah SBY dengan latar belakang militer, mungkin lebih baik yang dipilih Prabowo sebagai pengimbang dalam memenuh keinginan konstituen (”ketegasan”). Apabila Mega memilih Prabowo, kemungkinan PKS akan bergeser ke Demokrat. Apabila Hidayat dipilih oleh PDIP maka Prabowo kemungkinan akan bergabung dengan Demokrat, dan men “down grade” hanya masuk diposisi Kabinet apabila SBY kembali menang.
Kini pertanyaannya bagaimana apabila Golkar akan maju sendiri?. Kelihatannya agak berat bagi Golkar untuk maju sendiri, karena masih dibutuhkan sekitar 10,8% suara, dimana peluangnya hanya dari PKS, Gerindra atau PAN. Golkar harus memperebutkan PKS dan Gerindra dari kubu Demokrat atau PDIP. Mungkin ada benarnya perhitungan faksi dalam tubuh Golkar yang menghendaki bergabung saja dengan Demokrat. Apabila strateginya tidak pas maka Golkar bisa menjadi parpol besar yang “mempermalukan” dirinya sendiri seperti pada pilpres 2004.
Demikianlah informasi dan perkiraan sementara situasi dan kondisi dunia perpolitikan ditanah air menjelang pemilu legislatif 9 April 2009. Fakta dan data yang disampaikan berupa sebuah persepsi publik yang kiranya dapat dipertanggung jawabkan oleh masing-masing Lembaga survei bersangkutan. Memang akurasi data sesuai tingkat kepercayaannya yaitu sekitar 95%.
Tetapi dengan data tersebut, paling tidak gambaran kasar tentang parpol dan koalisi mulai terlihat dan diperkirakan akan lebih mengkristal. Data-data yang sudah terkait tersebut sangat diperlukan bagi sebuah partai politik dan tim sukses untuk menentukan taktik dan strategi dalam memenangkan persaingan yang dirasa semakin berat. Masih tersisa waktu untuk meningkatkan citra baik parpol maupun calonnya masing-masing. Semoga bermanfaat.
PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.
Share on Facebook Share on Twitter
40 tanggapan untuk “Parpol Yang Mungkin Lolos PT Dan Gambaran Koalisi”
imran rusli,
— 14 Januari 2009 jam 11:21 pm
Faktor figur tak diperhitungkan Pak? Dengan mekanisme suara terbanyak apakah partai politik masih bisa membusungkan dada sebagai pengatur negeri ini? Saya pilih sby dan hidayat deh pak, sama-sama terlihat aksinya (meski kecil) menolak korupsi, smentara yang lain masih membujuk-bujuk rakyat dengan sembako, kesejahteraan (sby sudah lakukan dengan pnpm mandiri yang terbukti jalan dibanding program serupa di rezim-rezim sebelumnya), atau program-program akan lainnya. Kalau pemilu legislatif saya golput Pak, tak ada yang pantas diberi suara ha ha, terserah MUI mau cap haram atau apa, emang gue pikirin si MUI yang tak jelas kerjaannya itu? Salaaam Pak.
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 12:14 am
Wah, mau tidur geser dari Face Book, lihat Blog kok ada Mas Imran Rusli nih…jawab dulu ah…Iya saya memang dalam artikel ini hanya membahas kekuatan dan pengaruh parpol terhadap konstituen. Faktor Figur jelas berpengaruh besar…karena artikel2 sy yg kemarin2 banyak juga membahas figur2 tsb. Ya boleh saja anda pilih SBY-HNW, pasangan kuat juga itu. Pemilu legislatif Golput krn tak ada yg pantas diberi suara…mungkin masuk Golput ideologis ya…tidaklah MUI sy kira tdk memutuskan Golput Haram. Kan Orang yg ahli agama tdk akan sekeras itu, menyarankan saja kali ya…Ok, terima kasih tanggapannya Mas Imran…sy ngantuk skl ni.Salaaaam juga>Pray
Atikah,
— 15 Januari 2009 jam 6:12 am
Ketiga Lembaga Survai di atas semakin lama semakin menunjukkan tidak kredible. Mungkin hasil surveinya sebagai tanda terima kasih dari pihak yang memberi dana. Maka itulah yang dimenangkan. Contohnya ada partai politik yang dalam survai selalu dikalahkan. Tapi hasilnya dalam PILKADAH seringkali menang. Partai apa itu? Amati sendiri !!!
Adapun koalisi Capres-cawapres. Kayaknya Hidayat Nur wahid dopasangkan dengan siapapun bakalan menang. Boleh jadi dia maju sebagai nomor 1 RI, tinggal cari aja wakilnya. OK
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 6:48 am
Mbak Atikah, terima kasih telah memberi tanggapan dan pendapatnya. Boleh-boleh saja kok seperti begitu….namanya juga dunia politik ya, kita boleh pro ke partai atau tokoh manapun juga ok. Sepertinya pendukung dari Hidayat Nur Wahid nih ya?….baguslah itu, artinya mbak Atikah bukan Golput dan akan menyukseskan pemilu dan pilpres. Ayo…digiatkan semangatnya menyukseskan siapa yg mau didukungnya. Kalau saya ya hanya membahas saja, tanpa berpihak kemana-mana. Menyampaikan faakta yg ada. Salam Mbak>Pray.
Danang,
— 15 Januari 2009 jam 8:15 am
aku sih mainya pak Hidayat Nur Wahid dan Pak Tifatul Sembiring yang menjadi capres-cawapres. Tapi sulit rasanya untuk menang.
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 8:24 am
Mas Danang, pendukung PKS memang inginnya ketua partai atu tokoh partainya yg menang, itu wajar kok, tidak apa2, tapi ya memang kalau berdasarkan hasil survei kini kelihatannya seperti anda katakan masih sulit untuk menang.Terima kasih pendapatnya.Salam>Pray.
syam,
— 15 Januari 2009 jam 8:39 am
Saya tidak sepenuhnya percaya dengan hasil survey, saya juga tidak sepenuhnya sependapat dengan “angka average” yang pak pray buat dari hasil survey tiga lembaga survey. Okelah, partai demokrat ada di puncak klasemen dan saya yakin PD akan memenangi Pemilu 2009 ini–juga Pilpres 2009–, akan tetapi untuk posisi kedua seharusnya adalah partai Golkar, bukan PDI P, kenapa Golkar diposisi 2 ? karena Golkar masih punya sisa-sisa kekuatan dan jaringan yang kokoh dan baik. Untuk posisi ketiga, PKS yang layak, baru untuk posisi ke empat dan ke lima PDI Perjuangan dan Gerindra. Kenapa jadi PKS di posisi 3 ? Ini mungkin ada yang tidak dilihat oleh banyak orang, juga elit parpol dan termasuk para ahli survey, PKS satu-satunya parpol yang memiliki kader-kader militan dan mereka terus bergerak hampir 24 jam memperkuat jaringan, mengadakan ribuan kegiatan dan door to door memperluas calon pemilih potensial… Sedangkan PDI Perjuangan hanya mengandalkan nama tenar Megawati saja, pengurus-pengurusnya pada tidur-tiduran saja, mereka tidak sadar nama Megawati tidak laku lagi untuk dijual. Untuk Gerindra, hanya besar karena iklan saja, tidak punya akar dan pemilih loyal…Bagaimana Pak Pray ?
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 8:48 am
Mas Syam, terima kasih tanggapan dan pendapatnya. Menurut saya ya tidak apa-apa kok sebuah pendapat yang tidak sesuai dengan topik bahasan dan ulasan yag dibuat. Karena jelas ada suatu perbedaan sudut pandang dan kepentingan, saya hanya mengulas dan menganalisa data dengan posisi sebagai penulis “indie”, sementara Mas Syam berada diposisi simpatisan sebuah papol. Bahkan saya pernah membaca bahwa Pak Muladi yang Gubernur Lemhannas saja juga mengatakan tidak percaya terhadap lembaga-lembaga survei yang ada, karena katanya dibiayai oleh parpol tertentu.
Sayapun pernah ikut memikirkan hal serupa, dari sisi “netral”, kenapa sih kok orang pada ribut dan tidak percaya pada sebuah hasil survei???Ternyata pernyataan banyak dibuat oleh elit parpol yang “merasa” parpolnya masih hebat, tapi kok dari hasil survei jadi dibawah. Misalnya tokoh2 Golkar mana mau menerima Partai demokrat jauh berada diatasnya…Demokrat dianggap partai baru, baru berkiprah tahun 2004, sedang Golkar sudah berapa puluh tahun berjaya dan menguasai dunia politik di Indonesia, sebagai partai papan atas pada pemilu 1999 dan 2004, eh kok hanya dalam waktu kurang dari 5 tahun rontok dibawah Demokrat.
Secara rasional dan emosional mereka jelas tidak terima. Nah, dari pengamatan saya yg kedua, apabila hasil survei mendudukan sebuah parpol pada posisi lemah, maka elit berpedapat akan menurunkan “citra”, yg jelas merugikan parpol dan tokohnya. Nah, semua geliat dalam dunia perpolitikkan di Indonesia tidak bisa hanya dilihat dan dirasakan berdasarkan sejarah atau “kira-kira” saja Mas Syam, kini terdapat sistem untuk mengukur elektabilitas ya Lembaga Survei itu. Kalau Lembaga Survei tidak valid dan tidak betul, kenapa parpol2 besar menggunakan cara ini juga, PDIP menggunakan survei untuk mengukur kepantasan dan kekuatan calon pendamping Megawati, Golkar juga sama dan kata Pak Muladi akan membuat survei sendiri.
Jadi disini terlihat cara ini yg terbaik. Secara periodik Lembaga Survei juga membuat survei dan memberikan untuk publik, maka saya yakin mereka juga tidak tidak berani main2 karena yg mereka jual adalah “kredibilitas”. Oleh karena itu saya hanya memilih tiga dari lima lembaga survei yang saya teliti hasil surveinya terhadap parpol-parpol, mirip, tidak “njomplang”. Tentang pendapatnya yang menempatkan urutan parpol sesuai keinginan atau analisa Mas Syam ya monggo saja deh. Saya hargai pendapatnya.Gitu ya.>Salam>Pray.
nda ndot,
— 15 Januari 2009 jam 9:03 am
pagi pak Pray,
sangat sulit memang untuk betul2 memetakan kekuatan partai2 politik. meski didukung dengan data dan lebih bersifat ilmiah, toh tidak sedikit orang yang meragukan hasil2 survey dari lembaga2 survey yang kredibel sekalipun. ya itu tadi.. dalam ranah politik, semua berbau politis. segala sesuatu yang memungkinkan untuk meraih simpati dan opini publik pasti tak lepas digarap.
menanggapi hasil berbagai survey, bisa dikatakan survey hanya menjangkau masyarakat menengah ke atas dalam hal intelektualitas. paling tidak terjangkau oleh media komunikasi lembga survey. masih ada lagi kelas2 masyarakat yang tidak terjangkau. dan jumlahnya banyak. sangat banyak. mereka ini cenderung tidak punya idealisme politik, tidak mengenal jago2 nya sehingga kemana suara mereka akan sulit ditebak.
saya kira terlalu dini untuk mengira-ira (wah kok susah bahasanya) partai2 mana yang akan berkoalisi. partai2 politik akan lebih bersifat pragmatis, bahkan pks sekalipun (yang ok lah bisa dikatakan partainya orang2 idealis). glenak-glenik dengan pdip beberapa waktu lalu salah satu buktinya. padahal secara idelogis maupun resouce2nya sangat sulit kedual partai ini disatukan. sikap wakil2 kedua partai ini di parlemen sering kali bertentangan. tapi ya itu kepentingan politik siapa bisa menduga. hasil pemilu legislatif nanti akan sangat menentukan pola koalisi partai2 politik.
saya kok ngenes melihat golkar. sebenarnya partai ini mempunyai infrastuktur yang paling baik dibanding partai lain. mesin politiknya kuat jika dikelola dengan benar. masanya sangat besar jika di garap dengan serius. apakah karena golkar tidak punya figur/tokoh yang mumpuni? setelah soeharto memang saya belum menemukan tokoh lain yang bisa menjadi trade mark nya golkar. berbeda dengan pks, selain memiliki mesin politik yang tangguh, masa yang solid, pks juga punya figur tokoh yang punya nama “cukup baik” di masyarakat. muda, idelais, bersih dan berani sepertinya sudah menjadi ke-khas-an tokoh2 pks. meski memang belum “battle proven”. bukannya banyak tokoh2 idealis yang relatif bersih akhirnya berakhir di jeruji besi setelah berurusan dengan kpk.
sby dan mega masih yang paling berpeluang menjadi “finalis”, tapi mesti berhati2 dengan kuda hitam prabowo. dia sudah berhasil membentuk imej di masyarakt. iklan yang mengena, dukungan dana yang besar, orang2 juga sudah lupa “dosa2″ masa lalunya. sepertinya simpati publik kian besar. wiranto masih harus bekerja keras ya. HNW ok lah.. tapi dia punya segmen yang relatif terbatas.
nda ndot
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 9:15 am
Selamat Pagi juga Nda Ndot, pagi-pagi sudah nanggapi nih…tapi ok kok, saya senang, karena politik memang harus kita diskusikan, agar kita yang mengunakan internet lebih “melek politik” daripada masyarakat pada umumnya. Kan netters itu bisa browsing dan membaca banyak hal ya. Menanggapi yg disampaikan, saya sudah mencoba menjelaskan pada tanggapan terhadap tanggapannya Mas Syam diatas, jadi tidak usah kita diskusikan lagi ya.
Menurut pendapat saya, kunci koalisi akan berada pada berapa suara yang diraih sebuah parpol. Partai Demokrat sudah sangat jelas mengatakan koalisi adalah “power sharing”, artinya siapa yang mau bergabung harus membawa suara, agar nanti kalau SBY menang, Pemerintah akan didukung sebuah kekuatan, syukur2 kekuatan koalisinya bisa mayoritas. Ini saya kira berangkat dari pengalaman SBY sebagai pimpinan eksekutif, merasa terganggu di parleman, walau sudah diupayakan membentuk koalisi mayoritas. Tapi pada kenyataannya beberapa parpol temannya kadang suka “lepas libat”, dan bahkan ada kesan agak menjegal. karena itu koalisi yang akan dibentuk dengannya harus solid.
Oleh karena itu saya mencoba masuk kewilayah ini berdasarkan rata-rata hasil survey, yang belum tentu juga valid untuk dipakai pada bulan Juli 2009 saat pilpres, karena Kita tahu hasil survei valid apabila dipakai saat dilakukan survei. Tapi paling tidak saya ingin memberikan gambaran, sebuah “estimate” berdasarkan fakta-fakta yang ada, agar parpol lebih waspada dan tidak terbuai dengan gambaran semu yg ada. Wah, sayang ya. Saya tahun 2004 pernah berbicara dan berdiskusi dengan salah satu petinggi Golkar (yg sangat tinggi) saat itu, memberikan gambaran bahwa dalam putaran kedua peluang Megawati akan kalah dari SBY, jadi saya katakan kepada teman saya agar Golkar memeberikan dukungan ke SBY dimana ada JK yang orang Golkar, tapi keputusan Partai justru mendukung Mega…terbukti kalah. Para elit berpikir kalau dua “jawara” pemilu, PDIP dan Golkar bersatu akan menang, kenyataannya hasil survei yang betul…., SBY yang menang…nah Golkar akhirnya jadi partai besar dan “gamang” kan…sayang menurut saya.
Tentang PKS yang fenomenal, kiprahnya memang banyak “menggentarkan” parpol lain, terutama parpol berbasis Islam. Saya beberapa kali menulis tentang kehebatan dan kenekatan PKS sebagai partai baru yang pintar dan berani, mampu memanfaatkan momentum. Kalau waktunya cukup baik untuk pemilu ataupun pilpres, PKS bisa menjadi partai yang harus diperhitungkan. Memang dalam kondisi masa kini, masih sulit kelihatannnya bagi parpol Islam untuk masuk kepapan tengah, pada pemilu 2004 dua partai baru Demokrat dan PKS mampu mendudukkan diri menjadi parpol papan tengah. Tapi kini dari hasil survei ini saya melihat kecenderungan yang mendapat dukungan lebih besar adalah Demokrat yang kemungkinan akan masuk menjadi papan atas, sementara PKS kemungkinan masih berada dikalangan papan tengah. Bahkan kompetitor terbarunya Gerindra terlihat sudah mulai menyalib elektabilitasnya. Kenapa? Karena yang digarap Gerindra adalah konstituen nasionalis. Sementara PKS harus berebut dengan partai-partai Islam lainnya. PKS sudah mencoba bergeser ketengah, strateginya memang baik, tapi waktu sudah demikian sempit. Ini harus segera diantisipasi. Memang sulit membentuk opini itu.
Tentang Prabowo, Wiranto dan Hidayat Nur Wahid saya kira masih agak berat untuk masa kini merebut posisi RI-1, karena SBY dan Mega sudah semakin kokoh duduk sebagai dua buah “jangkar”. Begitu ya Nda Ndot. Salam>Pray.
Rukyal Basri,
— 15 Januari 2009 jam 9:28 am
Harus diakui bahwa SBY sukses, kecuali dalam bidang ekonomi. Apalagi kalau kita kaitkan dengan ekonomi kerakyatan, khususnya petani dan nelayan, rapor SBY-JK masih merah. Melihat kecenderungan kekuatan politik PD dan SBY ( yang tentu juga akan makin pede), bukan tidak mungkin kalau sejarah dan strategi pilpres 2004 berulang. Ketika itu SBY tidak memilih cawapres dari ketua partai. Tapi justru figur, yang kemudian partai-partailah yang bergabung ke dalam koalisi PD untuk mendukung. Dulu katakanlah JK adalah figur yang tepat. Dan SBY-JK sukses, kecuali bidang ekonomi. Maka untuk menjawab tantangan peningkatan ekonomi kerakyatan dengan target mensukseskan tahap terakhir (2009-2014) bisa saja SBY akan kembali pede untuk menggandeng tokoh non ketua partai, tapi mumpuni dalam ekonomi kerakyatan.
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 9:35 am
Mas Rukyal Basri, terima kasih pendapatnya, kemana saja nih…kok baru muncul?.Memang pada pilpres 2004 itu parpol masih banyak yang belajar dalam menghadapi pilpres, banyak yang salah perkiraan, bahkan yang menangpun juga kaget. Untuk pilpres 2009, kelihatannya SBY dan partai demokrat sudah memasang harga koalisi tuh Mas, cawapres harus mempunyai elektabilitas yang cukup tinggi, harus didukung kekuatan parpol juga agar bisa membantu Demokrat di DPR, jadi menurut saya kemungkinan besar Pak SBY tidak akan mengambil langkah seperti tahun 2004, pasangan yang bukan apa2, bisa berbahaya Mas, pemilu legislatif dan pilpres sangat berbeda. Walau koalisi parpol besar…tapi pilpres akan lebih banyak ditentukan siapa tokoh yang maju. Saya pernah menulis, ada hasil survei yang menyebutkan apabila SBY berpasangan dengan JK akan kalah bila head to head dengan Mega yang dipasangkan dengan Sultan,HNW ataupun Prabowo. Ini adalah data penting bagi Demokrat, kelihatannya tidak berarti, tapi sangat berbahaya, bisa menghancurkan sebuah strategi yang dibuat dalam waktu yang lama. Nah, disinilah Mas Rukyal, saya berpendapat bahwa pada pilpres 2009 nanti peran cawapres akan besar sekali dalam memenangkan persaingan itu. Begitu ya, Salam>Pray.
prabu,
— 15 Januari 2009 jam 9:43 am
Salam kenal Pak Pray. Weleh… weleh… lembaga survei hebring pisan euy! Lembaga yang paling banyak dirujuk oleh berbagai lapisan masyarakat dalam sewindu ini. Dan juga secara bisnis merupakan usaha yang paling cepat balik modal. Dengan memasang tarif yang semakin tinggi, ternyata tak membuat nyali ciut bagi para elit politik negeri ini mengantri untuk di survei. Sementara rakyat berdesakan ngantri untuk seliter minyak tanah.
Padahal mantera quick accountnya lembaga survei itu tidak ada apa-apanya dibanding mantera trilogi pembangunannya mBah Harto. Jika lembaga survei meklaim dapat mengetahui pemenang pemilu disaat KPUD sibuk menghitung suara terakhir, sebaliknya mBah Harto bisa mengetahui siapa presiden berikutnya jauh sebelum pemilu, hehehe…. Tabik, pak Pray.
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 10:04 am
Mas Prabu, salam kenal juga…itu karikaturnya bagus sekali. Terima kasih sudah menanggapi,memang bisnis ini sangat besar, karena banyak yang perlu, kan berebut kekuasaan uang harus banyak ya, jadi makin teballah dompet para pemimpin survei itu. Namanya orang yang mampu melihat peluang Mas. Kalau jaman dulu yang anda sebut Mbah Harto itu pak Harto, ya betullah selama 32 tahun memang mampu menguasai dunia perpolitikan ditanah air…tidak usah meramal, karena aturannya ya sudah harus begitu. Gitu ya Prabu….Salam>Pray
viant,
— 15 Januari 2009 jam 10:43 am
informasi yang cukup bagus pak Pray, tapi ya itulah .. penggambaran hasil survey ini masih menunjukkan kepentingan partai, golongan, pribadi, bahkan sampai keluarga lebih no.1 ketimbang kepentingan menyeluruh rakyat, tapi ya tetap itu tadi dari rakyatnya sendiri.. apa gak belajar2 atau tersadar dari keadaan2 semacam ini yang terjadi berulang-ulang di negerinya ini.., memang kita wajib memilih / menunjuk seorang pemimpin (apalagi seorang muslim, gak ada istilah golput), tapi ya kita rakyat ini setidaknya teruslah belajar agar dapat memperbaiki keadaan negeri ini pula, jangan lagi lah terbawa hanya suasana hingar bingar pemilu ,kemudian setelah pemimpin terpilih (baik buat pemerintahan mupun parlemen / DPR) nanti gak setuju berkelahi, rakyat lagi jadi alat buat demo (ngerusak lagi..!), mau apa kita rakyat ini kalau begitu2 saja.., banyak sudah informasi mengenai si partai ini atau si partai itu (baik besar maupun kecil) kita lihat sekeliling kita dengan cara2 mereka memajukan calonnya atau tetap menjagokan pemimipinnya yang sudah terpilih, apakah hanya hingar bingar seperti itu yang rakyat mau ini (pembagian ini dan itu, hiburan ini dan itu, janji2 ini dan itu, reklame disana sini), tapi tetap.. juga rakyat ini terhipnotis dengan hal2 tersebut, mungkin gak akan pernah ada suatu parpol dengan calon pemimpinnya atau pemimpinnya yang sudah terpilh mengatakan “kalian rakyat yang mau bergabung dengan kami untuk memimpin negeri ini tidak akan merasakan kesenangan apalagi kemewahan selama rakyat yang kita pimpin tidak merasakan kesenangan dan kemewahan itu”, yang ada selalu ucapan, slogan “mari kita bangun ini dan itu, mari berjuang untuk ini dan itu, dll..”, apakah rakyat tidak bosan seperti itu.., adakah rakyat yang berbicara “parpol.. saya ingin bergabung bersama engkau, tapi saya gak mau dengan pemimpin yang kau tunjuk..” paling juga di lewati begitu saja rakyat tersebut oleh parpol tersebut, bukankah itu sudah menunjukkan bahwa parpol tersebut beserta calonnya atau pemimpin ada maunya..?, mari kita berjuang mencari, menunjuk dan mengangkat pemimpin yang sebaik-baiknya dalam memimpin nantinya agar semakin menaikkan derajat kita sebagai rakyat dan bangsa
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 11:17 am
Viant, terima kasih pendapatnya…bagus juga pendapatnya itu. Memang sulit ya manusia itu, selama dia hidup “complicated”…banyak maunya, emosi, ambisinya banyak yang besar, yang dicari kekuasaan jabatan, uang semua untuk kepentingan dia selama didunia. Banyak yang lupa bahwa hidup didunia ini tidak lama, “hanya numpang lewat”, nah kalau mau berfikir jauh, saya kira siapapun pemimpin itu dia harus mencurahkan hidupnya dalam memimpin negeri ini yang saya bilang aneh bin ajaib, banyak yang aneh2 disini. Sebagai seorang tua diusia senja sebenarnya prihatin sekali, negeri ini kaya tapi kita miskin, negeri ini berbudaya, tapi lihat kita selalu ribut, berkelahi, berintrik ria, menghalalkan cara, yah kapan mau majunya negara ini, kapan mau sejahtera rakyatnya. Saya pikir kita harus berfikir memilih pemimpin yang tegas, berani, rela berkorban, patriot, jujur, pintar, bijaksana,mengerti dan mau mendengar kesulitan rakyatnya…..tapi yang mana ya Viant. Mudah2an dia yang akan dipilih rakyat nanti menyadari bahwa dia akan mengemban amanah sebagai pemimpin negara Indonesia yang kita cintai bersama ini. Begitu ya Viant, mari kita jangan mengeluh, kita sumbangkan pemikiran, tindakan dan sikap kita agar negara kita maju.Salam>Pray.
aramichi,
— 15 Januari 2009 jam 12:10 pm
Yth bapak Prayitno Ramelan
Kalau menurut hitung2an saya sih memang masuk akal hasil survei tersebut termasuk juga proyeksi yang bapak tarik dari 3 lembaga survei. LP3ES sepertinya yang sampelnya paling banyak dan margin of errornya paling kecil 2 %. PDIP memang pendukungnya fanatiknya ya sekitar2 angka itu, berarti tidak terlalu bergeser jauh dari tahun 2004. Sementara menurut saya wajar kalau kenaikan Demokrat & munculnya Gerindra diimbangi dengan penurunan suara Golkar karena mereka bermain di ceruk yang sama, yang satu naik pasti yang satu turun sama persis dengan PKS dan PAN di tahun 2004, PKS naik dan PAN menurun karena segmennya memang sama.
Mengenai Rakernas PDIP, menurut saya terlalu berisiko apabila langsung mengumumkan cawapres pada saat itu juga . Saya rasa rakernas hanya mengukuhkan Megawati sebagai calon presiden, membuat kriteria cawapres, memberikan mandat kepada Megawati untuk memilih cawapres yang akan mendampinginya dalam pilpres. Terlalu berisiko menyebutkan nama cawapres sekarang, saat di mana para tokoh masih sibuk mencalonkan diri sebagai presiden. Saya rasa calon calon yang ditawari tersebut akan jaga gengsi sekarang ini, istilahnya jinak jinak merpati. Akan terasa sakit kalau ditolak sama seperti kalau kita menyatakan cinta eh malah ditolak dengan alasan belum waktunya
Mengenai kemungkinan Hidayat Nur Wahid dengan Megawati , terus terang saya masih ragu karena masalahnya PKS itu mekanismenya berbeda dengan partai partai lain. Kunci PKS bukan di presiden partai tapi dia Musyawarah Majelis Syuro dan mungkin sedikit yang menyadari bahwa kunci PKS adalah Ustad Hilmi Aminuddin apalagi setelah Ustad Rahmat Abdullah wafat. Jadi posisi Hidayat tentu tidak sama dengan Megawati karena Hidayat hanya bisa menjalankan perintah dari Majelis Syuro yang jumlahnya 99 orang, dan suara ketua majelis syuro akan sangat berpengaruh biasanya opsi yang disetujui oleh ketua majelis syuro itu yang didengar. Kalau saya prediksi berdasarkan sejarah dan latar belakang berdirinya PKS, mulai dari kepompong:), kok jauh ya dengan Megawati cs kecenderungan lebih ke mantan tokoh militer….atau tokoh Islam. Kalau Mega duet dengan Prabowo kemungkinannya cukup besar
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 12:14 pm
Aramichi, senang saya kalau anda menanggapi, ada hal-hal yang melengkapi analisa yang saya buat, walaupun ini sebuah analisa kecil dan ringan, tapi kalau para penanggap melengkapi, maka jadilah sebuah uraian, mungkin tidak kalah nij dengan analisa para pakar di media arus utama. Khusus utk Rakernas PDIP, kelihatannya Mas Tjahyo Kumolo sudah mengatakan bahwa mereka akan mengumumkan pendamping Mega nanti, dan Ibu Mega juga saat bersafari ke Makassar mengatakan karena saya wanita maka pendamping saya adalah pria, yang berbobot. Nah, PDIP akan mensosialisasikan pasangan tersebut justrus ebelum pemilu legislatif kelihatannya. Memang ada risikonya, dan pasti cawapres yang akan diumumkan atau dipilih oleh Mega saya kira sudah di hubungi lebih dahulu…benar sih…kalau ngelamar ditolak agak apa tuh…agak “tengsin”, maksudnya malu. Saya kira tidak deh.
Mengenai Hidayat Nur Wahid dengan Megawati, saya kira bisa saja, dalam politik apa sih yang tidak halal, yang dikejar sementara ini kan menang dan berkuasa bukan. Tapi mungkin ada masalah seperti yang anda katakan itu, PKS berfikir, kalau pemilu legislatif mendapat 20% suara akan maju sendiri. Ini artinya kan bisa saja kartu HNW dimainkan sekarang sebagai cawapres Mega, buat jaga2 kalau suara yang diraihnya tidak mencapai target. Kan bisa Kartu dimainkan seperti tahun 2004, kartu JK dimainkan diluar partainya…toh akhirnya JK juga yg jadi Wapres an jadi Ketua Partai. Ini kan terserah kepada pintar2nya para elit dan analis parpol kan Aramichi.Begitu ya…Salam>Pray
Novrita,
— 15 Januari 2009 jam 12:17 pm
Tadi pagi saya baca di koran bahwa ‘Pendukung Abdurrahman Wahid di Surabaya mengalihkan dukungannya kepada seluruh calon legislator PDI Perjuangan. Pemimpin Partai Kebangkitan Bangsa kubu Gus Dur kemarin meneken kesepakatan dengan pengurus PDI Perjuangan di Rumah Makan Taman Sari, Surabaya, Jawa Timur.’ (koran tempo, 15 Januari ‘09). Sempat saya baca juga tentang pertemuan Sri Sultan Hamengku Buwono dengan Sukmawati.Terlihat sudah mulai ada yang bergerak membentuk koalisi. Apalagi pemilu legislatif sudah semakin dekat… peta politik bergerak namun pergerakan masih belum menunjukkan pergeseran yang significant. Masih saja dari survei ke survei hasilnya adalah seperti yang sudah dirangkum pak Pray. Dan memang kenyataannya partai-partai selain yang dikemukakan di atas belum bisa membuat gebrakan yang akan membuat publik menoleh ke mereka.Ada baiknya buat partai-partai ‘kecil’ untuk membenahi dulu programnya, sehingga niat untuk menyuarakan aspirasi rakyat akan dapat terwujud dengan bisa terpilihnya mereka. Kalau hanya mendapatkan sedikit suara kan tidak mungkin mereka terpilih sebagai wakil rakyat.Saya sendiri awam tentang politik, hanya saran saya apabila programnya mengena dan pas buat rakyat..pasti rakyat akan menetapkan pilihan kepada yang ‘kena dan pas’. Ibaratnya begini, jika ada sekelompok gadis cantik,tentu kita akan bingung mau menentukan pilihan ke siapa… Untuk itu perlu gadis yang tidak sekedar cantik, tapi juga prigel, luwes, kreatif, pinter dsb.. yang pada intinya adalah gadis cantik yang punya nilai plus. Yah.. seperti itulah partai yang ‘kecil’ harus punya nilai plus agar menonjol dan menarik perhatian para pemilih.
Gimana .. apa saya sok pinter pak Pray….? Ini cuma belajar jadi pengamat aja lho…, kan saya murid pak Pray…
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 1:52 pm
Novrita, terima kasih tanggapan dan pandangannya ya. Saya pribadi terus terang salut dan kagum kepada sahabat saya ini yang rajin sekali membaca dan menanggapi setiap analisa politik. Jarang sekali ada wanita tertarik untuk berdiskusi masalah yang satu ini, kecuali yang memang bergelut sebagai caleg. Rata-rata di Face Book kalau ngobrol sama saya hanya mengatakan, aduh berat…diskusi politik, enggak nyampe! Wah padahal yg kita bahas disini adalah sesuatu yang sangat 100X penting, karena kita akan menentukan nasib kita dan nasib bangsa kita untuk lima tahun kedepan. Bagaimana kita tidak mau tahu kan, mudah2an di Forum yang baik ini, kita bisa mendapatkan (sharing idea) tentang kondisi perpolitikan dinegara kita. Saya akan berpegang teguh, kepada pengertian “indie”, tidak akan berfihak, jujur saja membahas apa adanya kan Novrita ya. Sudah tua begini, kalau “bohong-bohong” nanti dicatet malaikat…Udah serem.
Nah menanggapi apa yg disampaikan, tentang PKB, memang sayang ya, saat terpenting mau pemilu, bukannya damai tapi malah pecah kapal…dan kini Gus Dur sebagai tokoh panutan kaum Nahdliyin mulai melanjutkan “politik bumi hangus” setelah menganjurkan Golput, kini seperti yg Novri katakan “Pendukung Abdurrahman Wahid di Surabaya mengalihkan dukungannya kepada seluruh calon legislator PDI Perjuangan.” Kelihatannya benar-benar Gus Dur sudah patah arang kepada keponakannya Cak Imin. Maka senyum2lah PDIP para legislator PDIP tadi. Terus tentang pertemuan Sri Sultan dengan Sukmawati itu atas prakarsa partainya Sukmawati, yang menurut beberapa media Sukma mencoba penjajagan ke ubu Sultan.
Iya betul, parpol-parpol belum membuat gebrakan akan koalisi itu, maka saya membuat estimasi kira-kira akan seperti apa sih koalisi akan terbentuk, kalau tidak ada gebrakan lebih lanjut, ada kemungkinan yang bersaing hanya dua calon SBY dan Mega. Parpol-parpol yang kecil, agak sulit bergerak masa kini, ini sebagai imbas krisis ekonomi dunia yang juga mengimbas Indonesia. Suporter atau penyumbang dana juga mulai kesulitan. Nah yg betul seperti yg dikatakan Novri harus membuat program. Jadi kini parpol2 kecil terinjak oleh parpol besar yang mengunci permainan politik di Indonesia melalui UU Nomor 10/2008 itu tentang PT dan UU pilpres tentang syarat pengajuan capres.
Kini 10 parpol dan ratusan caleg maju ke Mahkamah Konstitusi untuk melakukan gugatan Uji Materi terhadap UU tersebut. Jadi kesimpulannya untuk apa ya membuat parpol kalau dana terbatas dan dukungan belum jelas, momentum tidak ada. Banyak ruginya dari untungnya ya Nov…tapi ada juga untungnya…lumayanlah…Ketuanya paling tidak jadi agak terkenal. Begitu ya Novrie, yang disampaikan bagus dan wajar kok, realistis dengan perkembangan yang ada. Kenapa tidak melamar jadi caleg saja, boleh juga tu, saran saya nanti 2014 maju tapi dari Partai Kompasiana. Salam>Pray
Darmanto,
— 15 Januari 2009 jam 2:14 pm
Tulisan dan analisa pak Pray menarik sekali buat dibaca & dicermati, meskipun buat pemilu kali ini saya bersama isteri & 3 anak saya memutuskan untuk tidak memilih alias GOLPUT, karena saya menilai bahwa partai politik beserta caleg yang ada di dapil saya tidak ada yang berkenan dihati sedangkan capres yang akan maju nantinya dapat dipastikan mega & sby, dimana keduanya sudah sama2 kita ketahui track recordnya selama berkuasa….jadi daripada merasa bersalah karena turut berkontribusi dengan memilih caleg ataupun capres yang tidak memihak kepada rakyat, kami sekeluarga memutuskan untuk GOLPUT.
Secara pribadi saya masih percaya dengan hasil survey dari lembaga2 survey yang pak Pray pilih & pergunakan sebagai referensi untuk membuat tulisan ini, karena mereka merupakan institusi yang sudah berdiri sejak lama dan kredibilitasnya dapat dipercaya…sedangkan anggapan bahwa mereka tidak obyektif karena dibiayai oleh parpol tertentu, menurut saya sangatlah salah karena mereka pastinya tidak ingin menghancurkan kredibilitas yang telah mereka bangun dengan memanipulasi hasil survey untuk kepentingan parpol yang membiayai survey tersebut. Lembaga2 survey tersebut memang dapat berfungsi juga sebagai konsultan politik, tapi hal tersebut dilakukan dengan memberi saran & masukan kepada parpol yg menggunakan jasanya agar dapat meningkatkan perolehan suaranya, bukan dengan melakukan ’setting’ atau manipulasi data hasil survey.
Prediksi saya mengenai hasil perolehan suara untuk pemilu nanti tidak jauh berbeda dengan hasil survey, hanya urutannya saja yang berbeda, yaitu : pdip, golkar, demokrat, gerindra. pks, pan, pkb, hanura, dan ppp….sedangkan untuk capres seperti sudah saya tuliskan diatas masih tetap sby & mega yang kembali dimenangkan oleh sby.
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 3:43 pm
Mas Darmanto, terima kasih tanggapan dan pendapatnya tentang hasil analisa, kredibilitas lembaga dan hasil survei yang saya pilih, dan juga keterusterangannya sebagai Golput…golput ideologis nampaknya ya. Dan juga terima kasih atas masukan2nya ya, serta prediksi parpol pemenang pemilu. Memang dari data yang saya olah, hanya valid hingga bulan Desember 2008, jadi bisa saja nanti terjadi perubahan posisi, tergantung aktivitas masing2 parpol serta upaya penaikan citra. Prediksinya ya boleh Mas, SBY X Mega yg menang SBY. Ok Mas Darmanto.Salam>pray.
adhy,
— 15 Januari 2009 jam 4:07 pm
saya pernah menulis agak kurang pd hasil riset. tp untuk tulisan om pray yg ini saya sangat tertarik. karena hasil analis om pray sesuai dengan tren di lapangan.
Para “RAJA” partai sekarang adalah partai demokrat & PDIP. untuk Golkar, saran saya maju saja jangan takut. coba lihat melihat manuver politik PKS. walaupun partai ini masih kecil, tp di mana-mana dengan sangat PD aktif ikut pilkada. walau banyak kalahnya, tp ke-PD-annya mendongkrak popularitasnya, kerjanya, pengalamannya, kematangannya dan kekuatannya. Golkar sebagai partai besar kalo cari aman saja, lama-lama akan kehilangan segalanya.
nah untuk papan tengah, kartu ASnya ada di PKS. Siapapun rajanya kalao ratunya gak cantik wibawanya akan hancur. dan dari beberapa ratu yg ada PKS yg tercantik.
itu dari sisi partai. kalo pun berkembang tidak akan jauh dari itu sampai 2009. untuk presiden masih terus berkembang. pengalaman pilkada, terkadang tidak ada hubungan antara partai dan figur. lihat JABAR. saya orang JABAR. di masyarakat walau hatinya MERAH/KUNING banget, tp “jatuh cinta” pd dede yusuf, ya pilihannya HADE.
gmn om???
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 4:17 pm
Adhy, terima kasih tanggapannya, dan syukur kalau suka dengan analisa yang saya buat, yah hanya itu yang bisa dibuat blogger tua ini. Masukan-masukannya jelas menambah ulassan yang saya buat. Salam ya>Pray.
aramichi,
— 15 Januari 2009 jam 4:28 pm
Yth bapak Prayitno Ramelan & Novrita
Terima kasih atas infonya nih mbak Novrita, saya sama seperti om Pray juga kagum nih terhadap mbak Novrita, selain cantik sepertinya juga punya nilai plus nih he he he he he pasti banyak parpol yang berminat meminang untuk menjadikan caleg, bukan saya gombal loh ya tapi memang kenyataan.
Mengenai Gusdur, sejak kecil saya memang suka tokoh ini, begitu piawai dan cerdas berpolitik. Saya inget dulu manuver dia mendukung Pak Matori ketika perebutan ketua umum PPP tahun 1994, terus ketika dia membentuk Forum Demokrasi dan menolak bergabung ke ICMI sebuah langkah yang tepat menurut saya, terus langkahnya menggandeng 2 srikandi kembar, mbak tutut dan mbak mega pada pemilu 1997, membentuk PKB tahun 1998, langkah dia menitipkan Saifullah Yusuf di PDIP, akhirnya bisa terpilih jadi Presiden tahun 1999 dengan memanfaatkan sokongan poros tengah dan restu kiai Langitan menurut saya itu merupakan bukti kecerdasan seorang Gusdur dalam berpolitik. Sekarang dia menggembosi PKB sama seperti yang dilakukan terhadap PPP di pemilu 1987 hanya bedanya kalau 1987 dia didukung oleh banyak kiai sepuh mungkin sekarang tidak sebanyak dulu karena ada yang sebagian ikut PKNU. Ternyata menurut hasil survei suara PKB menurun drastis hampir setengahnya kalau dulu dapet 10 % lebih sekarang hanya sekitar 4 % hal ini membuktikan bahwa pengaruh Gus Dur masih ada terutama di Surabaya dan daerah tapal kuda. Saya inget dulu memang di Surabaya pendukung Gus Dur begitu fanatik dan banyak, Gus Dur memang termasuk tokoh panutan di sana.
Langkah Gus Dur yang ternyata merapat ke PDIP tidak mengejutkan kalau menurut saya karena sepertinya Gus Dur ingin mengirimkan pesan. Tapi sebenarnya pesannya terutama bukan buat PKB tapi justru pesan utamanya untuk pemerintahan SBY-JK, Gus Dur menyimpan kekecewaan kepada pemerintah terutama menteri kehakiman dalam kemelut PKB kemarin. Jadi ini adalah langkah kuda Gus Dur yang memukul dua sasaran sekaligus yaitu pemerintah dan partai partai utama pendukungnya serta PKB. Jadi dengan memperkuat PDIP yang merupakan saingan berat partai2 pemerintah, Gus Dur secara tidak langsung menghukum pemerintah sekalian membuktikan bahwa tanpa dia PKB tidak ada apa apanya sembari berharap mungkin mendapatkan keuntungan apabila kelak PDIP berkuasa. Seperti kita tau tidak ada makan siang gratis dalam politik. Ini hanya sekedar analisis saya saja belum tentu kejadiannya seperti itu ya namanya juga hanya menebak nebak he he he he.
Novrita,
— 15 Januari 2009 jam 5:20 pm
Wah.. terima kasih mas Aramichi (eh betul mas ya…?). Saya sedang berusaha keras menahan kepala saya supaya tidak terus membesar… Kok ada yang bilang saya cantik…Jangan-jangan salah orang nih…
Btw, saya senang ada yang melanjutkan tulisan pak Pray.. Jadi lebih tahu tentang Gus Dur..Memang beliau adalah tokoh yang cerdas. Manuvernya tidak bisa diduga..
Bukan begitu pak Pray..?
aramichi,
— 15 Januari 2009 jam 6:34 pm
Yth bapak Prayitno Ramelan & mbak Novrita
mbak Novrita, beauty is in the eye of the beholder. Pak Pray kira kira bagaimana dengan faktor Gus Dur ini masih bisakah mempengaruhi perpolitikan dikaitkan dengan koalisi antar parpol maupun antar capres & cawapres karena sekalipun mungkin sekarang mutung dengan PKB tapi pengikutnya ternyata masih banyak. Terus terang saya senang akhirnya Gus Dur tidak menyerukan golput.
Prayitno Ramelan,
— 15 Januari 2009 jam 7:12 pm
Mas Aramichi, Memang Gus Dur tadinya menjadi tokoh yang sangat kuat pada saat beliau solid berada di tengah2 NU dan PKB, tapi kelihatannya kekuatan dan pengaruh beliau saya lihat sudah ter “degradasi” baik oleh pimpinan NU dan Ketua Dewan Tanfidz PKB, kini yang diandalkan adalah kharisma, yang merupakan senjatanya terakhir beliau. Pimpinan NU kelihatannya juga sudah lelah dengan konflik yang berkepanjangan di internal mereka, dahulu saat saya membantu Pak Matori Alm, gambaran perlawanan terhadap Gus Dur sebenarnya sudah nampak walau masih tersembunyi, dalam posisi ini hanya Pak Matori yang berani membawa kemeja hijau. Sejak itulah maka orang baru berani agak terang-terangan melawan Gus Dur, memang Gus Dur itu seperti yg anda katakan, agak sakit hati kepada pemerintah yang dinilainya memihak kepada Kubunya Cak imin (kubu ancol), hingga kini langkahnya ditujukan sebagai aksi protes baik kepada kubu SBY maupun Cak Imin. Sebenarnya Gus Dur secara politis sudah pernah mencoba merapat dan menawarkan posisi tawarnya ke Istana, tapi responnya dinilainya tidak baik, kini bergabunglah dia dengan lawan SBY(Mega dan PDIP). Menurut saya pengaruh Gus Dur itu masih besar, tetapi Ketua Umum PBNU juga sudah berjaga-jaga sejak lama, karena tidak menghendaki suara PKB jatuh ketitik nadir, karena walau bagaimanapun PKB adalah partainya kaum Nahdliyin yang kini dikontrol PBNU. Dari hasil survei terlihat PKB masih lumayan perolehannya, walau merosot. Kekuatan PKB adalah juga bagian dari “bargaining power” dari PBNU. Saya kira begitu ya Aramichi.Salam>Pray.
@Novrita…iya Gus Dur tokoh generasi penerus dari kiai nasab yang paling pintar dan berbobot, kita tunggu apa langkah selanjutnya dari beliau…saya juga pernah mengenal beliau Novri, paling pintar cerita yang lucu2…tapi idenya bukan main….dan berani…nekat! Salam>Pray
TITAH SOEBAJOE,
— 16 Januari 2009 jam 7:24 am
Cak, survey-survey itu apa ya benar? Saya ini awam mengenai survey. Methode yang mereka pakai itu bagaimana ya? Berapa orang yang disurvey? Mewakili siapa saja yang disurvey itu? Dalam kondisi bagaimana mereka disurvey? Lha wong sama-sama mewakili profesi, misalnya tukang jualan soto, atau sopir bajaj saja pendapatnya beragam apalagi kalangan orang sekolahan. Lebih-lebih pengusaha besar yang biasanya punya jagoan siapa saja asal menguntungkan usahanya. Kalau mau jujur, sampai saat ini, kita-kita ini tidak pernah ketiban pertanyaan untuk di survey. Bagaimana bisa ujuk-ujuk ada hasil survey yang menetapkan partai anjing 25%, partai kadal 13%, partai babi 2%, tapi tiba-tiba partai monyet naik 97%. Padahal total suara 100%. Belum lagi partai kebo yang tadinya banyak, karena bersama partai babi dan partai ayam kena potong untuk korban jadi partai gurem. Karena si Surveyor, tidak pernah lagi terima setoran dari yang bersangkutan. Setelah rakyat memberi tanggapan minor, mereka bersatu, agar ladang usahanya tidak saling menjatuhkan. Saya minta pendapat sampeyean Cak. Dan biasanya surveyor demikian anak-anak muda. Betapa sedih kita ortu yang jadul ini melihat kebohongan-2 mereka hanya untuk hidup secara hedonis. Saya masih ingat tentang cerita PAN dan Rizal atau Siapa yang belakangnya Mallarangeng itu, sampai hubungan gara-gara PAN merasa dirugikan sebagai pasien konsultan politik. Konsultan politik itu kan mendasari kegiatannya dari cerita survey. Sekali lagi mas, saya kok belum mudeng dan belum percaya tentang hasil survey. Karena cerita ramal-meramal begini kan mirip dukun kampung yang dari dulu sudah ada. Bedanya sekarang ada tujuannya dan agar ngganteng dibungkuslah ramalannya itu dengan survey. Persis tukang jual jamu, supaya banyak memikat orang, mereka pakai ular. Kalau dulu dukun ramal dikampung cari uang receh, sekarang tentu lebih canggih.Kedudukan, gaya hidup yang nikmat. Kembali lagi mas tolong diwedar dalam penjelasan yang jernih supaya rakyat ini tidak tambah mumet karena cerita survey yang membingungkan itu. Salam hangat saya, Bayu(Penyu Arema)
Prayitno Ramelan,
— 16 Januari 2009 jam 8:37 am
Mas Titah Soebajoe….yang sekarang ada tambahannnya Penyu Arema. Memang banyak orang itu cak yang “kadit” (bahasa walikan artinya tidak) percaya kok, mosok iya dengan sample hanya berapa ribu orang bisa mewakili sekian ratus juta orang, sama seperti pemikiran arek ngalam (malang) ini. Ragu-ragu begitu ya kang. Opo bener nih. Terus terang saya secara tehnis detail juga tidak tahu cara mensurvei itu, oleh karena itu para pelaku survei seharusnya menjelaskan tentang metodologinya secara detail kepada masayarakat. Tetapi ya begitu itu, rahasia perusahaan kali ya.
Begini kang, pada tahun 2004 saat akan dilaksanakannya pemilu dan pilpres, saya mengamati bagaimana membuat ukuran keberhasilan kampanye parpol dan pilpres, bagaimana posisi masing-masing. Ternyata dalam kegiatan perpolitikan ada yang namanya survei, dan survei juga umum dilakukan dinegara mana saja kalau mau pemilu. Indonesia agak ketinggalan, karena selama 32 tahun kan tidak perlu survei, dominasi Pak Harto dan Golkar mampu menguasai dunia politik kita.
Nah, saya mengikuti surveinya IFES yang dilakukan oleh Indonesian Pooling, dapat dukungan dana dari Jimmy Carter, sebagai sumbangan kepada Indonesia. Ternyata sangat menarik kegiatan tersebut…sayapun heran, sama seperti arek ngalam ini. Apa iya sampel yang diambil dari sekian ribu orang bisa mewakili sekian banyak pendapat orang. Ternyata kegiatan survei itu “ribet” Mas, jadi untuk mensurvei 33 propinsi, dibagi jatah tiap propinsi berapa target yg akan diambil pendapatnya, responden dipilih dan diteliti. Yg saya ingat, diambil ukuran pendidikan, SD,SMP,SMA hingga perguruan tinggi. Kemudian tingkatan umur, status kehidupan, kepartaian, dimana dia tinggal apa di kota, apa di desa. Nah, kepada mereka diajukan pertanyaan-pertanyaan yang cukup banyak, sesuai dengan tujuan survei tersebut, kalau tentang cawapres, maka diajukan sekian banyak nama calon, responden tadi disuruh memilih. Juga terhadap pertanyaan2 lainnya. Setelah terkumpul hasilnya kemudian dianalisa, ini bagian terpenting karena di lembaga survei ada analis2 handal, yg mampu membaca hasil.
Hasil sebuah lembaga survei disebut sebagai sebuah persepsi publik, jadi ini bukanlah hasil sebenarnya seperti hasil pemilu, karena hanya sebuah persepsi. Tapi dengan metode yang benar, pelaksanaan yang jujur, maka hasilnya rata-rata dikatakan bisa dipercaya sekitar 95%, dan disebutkan juga margin of error, yah kemungkinan melesetnya kira-kira begitu. Sebuah hasil survei yg margin of errornya kecil akan lebih baik daripada yang besar. Dan yang terpenting hasil survei hanya valid dipakai pada saat dilaksanakan survei, tidak pada masa mendatang.
Tentang masalah kejujuran, mungkin saja lembaga survei ada yg tidak jujur, akan tetapi “periuk nasi” mereka sangat-sangat tergantung pada “kredibilitas” atau kata lain kejujuran itu. Parpol juga bukan organisasi yang “naif” kan, mereka pasti akan mengikuti track record sebuah lembaga survei sebelum menyewanya. Lembaga2 itu hidupnya ya dari disewa oleh parpol atau caleg untuk kebutuhan internal macam2,pilkaa, pemilu, pilpres, akan tetapi lembaga itu juga melakukan survei sendiri, seperti hasil yg saya sampaikan diatas tentang posisi 8 parpol (bln Desember 2008), dimana di persepsikan yang lolos persyaratan pariamentary treshold yg 2,5%. Mereka rata-rata punya yayasan yg mengelola koceknya.
Nah, sayapun sebagai blogger yang mengamati dunia perpolitikan ini menggunakan hasil survei yang disiarkan lembaga-lembaga survei itu secara periodik, saya juga meneliti dan mngamati 5 lembaga survei. Kalau mereka pada periode yg sama dan hasilnya jauh berbeda kan jadi aneh, dari 5 lembaga itu saya memilih 3 lembaga yg saya pandang valid (dari kacamata saya), yg dua tidak saya pakai, karena ada sebuah parpol yng oleh 3 lembaga dikatakan elektabilitasnya rendah, eh di lembaga itu berada tinggi diatas, kan tidak wajar. Jadi demikian Cak, saya melakukan analisa ini tidak begitu saja, saya juga melakukan penelitian dan mempelajari lembaga2 itu, kalau saya menggunakan sebuah fakta yang menyimpang, kan artinya analisa saya juga menyimpang kan. Jadi data2 tersebut saya konfirmasikan dulu satu sama lainnya. Dan tidak mungkin kalau lembaga2 itu bekerja sama, karena justru diantara mereka saling bersaing, ingin membuktikan kepada publik kalau hasil surveinya yg paling tepat.
Ini hanyalah sebuah sumbang pemikiran, dengan sebuah referensi yang bisa dipertanggung jawabkan (maksudnya oleh lembaga-lembaga survei itu), tinggal saya mengolahnya kan, saya mengerjakan dengan ringan, tanpa beban, karena saya hanyalah seorang blogger kompasiana yang tidak memihak, independen, jujur….hanya itu cak modal saya. Begitu ya Mas Bajoe yg Arema, mohon maaf kalau ada penjelasan yang kurang pas, karena saya tidak expert dalam masalah Survei, saya hanya pengguna hasil survei dan mempercayainya (walau tidak semua!!). Sampun nggih kangmas. Salam>Pray
Sukma,
— 16 Januari 2009 jam 11:28 am
Maka itu, saya pikir parpol2 gurem harus menyadari positioningnua. Yang mungkin lolos PT hanya sekitar 8 sampai 12 parpol saja menurut saya. 48 parpol terlali banyak, tapi jika 3 juga terlalu sedikit.
Saya pikir hanya 9 parpol lama dan 4 parpol baru yang akan siap dari segi positioning ikut Pemilu 2009.9 parpol lama yang siap: GOLKAR, PDIP, PKS, DEMOKRAT, PAN, PKB, PPP, PDS, PBB5 parpol baru yang siap: GERINDRA, HANURA, PDP, PKNU, PMB
Darmanto,
— 16 Januari 2009 jam 2:13 pm
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada pak Pray yang telah menjawab & menjelaskan secara detail & runut mengenai sistematik & prosedur melakukan suvey, sehingga saya yang awam & ndeso semakin bisa mengerti & yakin dengan hasil survey yang dirilis oleh lembaga survey yang profesional & akuntabel.
Wass,Darmanto
beninghati,
— 16 Januari 2009 jam 2:54 pm
Pak Prayitno ….saya pingin ikut nimbrung nih…
Saya sempat terlibat dalam survey dan masuk dapurnya LSI. Tapi sekarang hanya melibatkan diri dalam salah Litbang suatu lembaga. Mengenai sampel yang sedikit itu memang ada hitung2anya, maksud saya ada rumus dan teorinya. Sebagai contoh kalo kita mau mensurvey di Jakarta dengan penduduk sebanyak 4 juta orang (CMIIW) paling hanya butuh sampel 400 - 500 responden dg margin error 4 %. Margin Error ini juga ada teorinya lho……
Sebenarnya Metodologi ini tidak menjadi rahasia perusahaan, kalo suatu lembaga survey mengumumkan hasil surveynya ya…harus dijelaskan metodologinya. Kalo LSI biasanya menggunakan Multistage Random Sampling, disamping itu ada yang namanya Sistematic Random Sampling, juga ada Simple random.
Metodologi ini semuanya benar dan ada landasan teorinya dalam Ilmu Survey Statistik.
Nah yang menentukan perbedaan setiap lembaga survey dalam menjalankan surveynya antara lain: faktor materi survey(wawancara), Surveyor (Pewawancara) dan Penyandang Dana dari surve tsb.
saya tidak bermaksud membuka aib ya….tapi kita belajar melihat fenomena yang berkembang di jagat perpolitikan kita tentang adanya lembaga2 survey. LSI dalam menjalankan surveynya selalu membagi 2 aktivitasnya yaitu sebagai Lembaga Penelitian (Survey) dan Lembaga Pemenangan (untuk memenangkan calon /partai yang memebayar mereka). Sebagai lembaga Pemenangan LSI memberikan rekomendasi kepada pesannya bagaimana strategi/kebijakan yang harus diambil untuk memenangkan pemesannya.
Segitu dulu deh
mahendra,
— 16 Januari 2009 jam 3:12 pm
selamat sore pak pray,
kalau nantinya sesuasi apa yg menjadi perkiraan diatas, cuma ada dua pasangan copres-cawapres. mungkin ada baiknya juga, karena pemilihan presiden cuma sekali putaran saja, tidak usah ada 2 putaran atau bahkan ada babak tambahnnya lagi, bikin boros!! siapapun nantinya yg menang memang itulah pilihan rakyat. asal tidak ada gugatan2 yg berarti ke MK. biar pemerintahan sesuai jadwal, tidak molor2…tapi kalau calon nantinya yg jadi maju cuma 2 pasang saja, jangan salahkan jika para golput juga banyak, karena aspirasi mereka yang tidak tersalurkan.karena hal tersebut juga merupakan pilihan dalam berdemokrasi. bukannya sakit hati lho ya??salam
Prayitno Ramelan,
— 16 Januari 2009 jam 10:35 pm
@Mas Sukma, terima kasih sudah memberi tanggapan, iya betul, kalau berdasarkan hasil survei tersebut diatas maka apabila pemilu dilaksanakan pada bulan Desember 2008 maka parpol yang lolos PT ya hanya 8 itu. Tapi nanti pada pemilu April 2009 kelihatannya jumlahnya akan bisa bertambah, kan parpol2 belum tancap gas, nanti pada Maret 2009 baru mereka akan kampanye habis-habisan. Kita lihat saja ya, sebenarnya beberapa parpol lama yg lolos PT tahun 2004 juga ada yg diposisi bahaya. Kecuali gugatan dari 10 parpol dan para caleg terhadap materi UU No.10/2008 tentang Pemilu khususnya yang menyangkut PT dikabulkan Mahkamah Konstitusi. Ramalan anda boleh juga nanti yang kemungkinan lolos PT sekitar 13 parpol Salam>Pray.
@Mas Darmanto, sebenarnya saya mengerti benar juga tidak tentang metoda survei, hanya thn 2004 pernah ada sedikit pengalaman mengikuti survei pemilu, jadi sedikit pengetahuan dan ditambah beberapa keterangan dari beberapa tokoh survei Indonesia seperti Denny JA, Mas Qodari, Mas Umar Bakri, itulah sedikit penjelasan. Nah, pada saat membuka Kompasiana ada yg namanya “Beninghati” yang berbaik hati, pernah bekerja di Lembaga Survei LSI, mau sharing menjelaskan tentang Survei. Gitu ya Mas Dar, Salam Hangat Mas>Pray,
@Beninghati, is Takfl ur name?. Pertama-tama saya atas nama para teman dan sahabat di Kompasiana penggemar politik mengucapkan terima kasih atas kesediaannya memberi penjelasan tentang survei, yang perlu tapi masih banyak diragukan oleh banyak fihak. Akhirnya saya mencoba menjelaskan…mungkin penjelasan saya kurang pas ya Mas yg hatinya bening. Seperti penjelasan saya saat ditanya apa warna angin itu, saya jawab “merah”…ah yang betul, lihat saja kalau kerokan masuk angin kan warnanya merah. Yah begitu lah si Blogger kakek ini mencoba menjelaskan.Bagi para teman, penanggap, pembaca, yg masih ragu2 silahkan membaca penjelasan Mas Beninghati, semoga menjawab semua keraguan dihati itu. Ok Mas Kaful, kalau bisa tolonglah anda sekali-kali nulis tentang survei ini, dan dikirim ke kompasiana biar kita-kita tercerahkan begitu…Salam>Pray.
@Mas Mahendra…seneng lho membaca tanggapan anda itu. Ada rasa menyetujui tapi ada rasa mangkel juga dikit-dikit…maksud saya mangkel itu sedikit dibawah sakit hati (Maaf lho ya). Kan ini posisi bulan Desember Mas, saya berani mengatakan kalau posisinya begitu maka kemungkinan hanya akan ada dua nih yang maju jadi capres. Kita lihat saja pilkada DKI Jakarta, sekian banya parpol tapi yang maju hanya dua kubu yaitu Kubu Bang Foke Rame-rame melawan Kubu Kang Adang yang hanya didukung PKS. Jadi bisa saja nanti ada Kubu SBY Rame-rame melawan Kubu Mega yang didukung satu atau dua parpol. Karena parpol2 kan banyak juga nanti menunggu setelah pemilu,akan terjadi blok, mereka yang kurang kuat akan bergabung ke Capres yang kuat. Tapi entah ya, dengan prinsip power sharing apakah Demokrat mau menerima parpol yang hanya punya 2 atau 3 kursi di DPR? Biasalah banyak yang mau lihat-lihat situasi dahulu. Tapi menurut saya setelah pemilu nanti pasti banyak parpol yang akan “kapok” meneruskan berkiprah…ongkosnya banyak, tidak dapat apa2, salah2 punya hutang lagi. Saya perkirakan jumlah parpol setelah pemilu otomatis akan menyusut, lebih baik menyalurkan aspirasi ke prpol besar saja “It’s better”. Tentang Golput tambah banyak ya mungkin saja Mas, setelah Golput Ideologis, Golput Pragmatis, Golput Apatis…kemarin saya nonton di Teve ada lagi Golput Administratif. Iya kali ya…Salam Deh, yg sabar jangan kecewa dulu, sapa tahu jagonya tahu2 melonjak…Salam>Pray.
adhy,
— 17 Januari 2009 jam 9:44 am
mengenai Gus Dur. saya hanya mengulang komentar saya di tulisan om pray tentang manuver politik PKS (iklan Suharto). di sana saya menulis bahwa realitas-realis baru Indonesia akan menimbulkan trsformasi politik.
- Perbandingan kaum urban(kota) - rural (desa). Menurut data dari BPS, perbandingan ini akan mengalami titik balik pada tahun 2010 di mana perbandingannya menjadi sekitar 54% urban dan 46 rural.- Distribusi informasi yang semakin merata karena peran media. dampaknya tidak ada lagi asimetris informasi. Karena konektifitas, maka disparitas antara desa dan kota dalam soal informasi tidak relevan.
Realitas baru perpolitikan di Indonesia tersebut, akan menyokong terjadinya proses transformasi besar-besaran dalam tradisi perpolitikan itu sendiri, salah satunya Transformasi dari tokoh kharismatik kepada tokoh kinerja. Akan ada transformasi bahwa masyarakat semakin mengutamakan tokoh yang berbasis kinerja dari pada tokoh yang berbasis kharisma. Dan, ini merupakan salah satu perspektif penting dalam komunitas urban. Karena itu di sini ikatan-ikatan primordial seperti suku, agama bisa jadi tidak relevan.
inilah yg sedang terjadi pd Gus Dur, kharismanya mulai luntur. saya melihat dia sedang mengalami pos power syndrom.
imran rusli,
— 17 Januari 2009 jam 1:03 pm
Iya tuh Pak Pray, udah gitu Gus Dur masih saja terus mlorotin citranya sendiri, ngeyel banget dengan arogansinya, padahal udah mati pajak dan dilecehkan pona’an sendiri, weleh weleh. Btw senang baca analisis-analisis Pak Pray, wawasan jadi nambah nih, tq Pak.
Prayitno Ramelan,
— 17 Januari 2009 jam 6:40 pm
@Adhy, terima kasih pendapatnya, bagus sekali sebagai masukan bagi para pembaca…memang jaman sudah berubah, akan terjadi pergeseran nilai di negara kita, pengaruh globalisasi memang sangat besar pengaruhnya…saya setuju kalau nanti masyarakat lebih membutuhkan tokoh yang dinilai dari kinerjanya bukan kharisma, lihat saja…banyak anak yg kadang sudah mulai kurang menghargai orang tuanya. Ini mungkin yg juga sedang terjadi pada Gus Dur…diremuk redam oleh kalangannya sendiri yang relatif muda-muda. Tks.Salam>Pray.
@Imran Rusli, terima kasih dan saya bersyukur kalau anda suka dengan tulisan dan analisis yg saya buat…baca terus ya…Salam>Pray.
imran rusli,
— 30 Januari 2009 jam 9:06 pm
he he tentu Pak Pray, ibarat kuliah ini kuliah penuh gizi, dosennya enak lagi, mau 200 sks pun ditongkrongin nih
Prayitno Ramelan,
— 30 Januari 2009 jam 11:13 pm
Mas Imran….terima kasih atas kesediaannya….semoga nanti kopdar Kompasiana bisa datang, buat kenalan, kan lebih akrab dan enak ya. Salam>pray.
Sabtu, 10 Januari 2009
Incumbent Harus Hati-Hati, PDIP Dan Mega Sangat Serius.

Oleh Prayitno Ramelan - 9 Januari 2009 - Dibaca 760 Kali -
Hingga kini banyak pengamat, elit politik, lembaga survei memperkirakan bahwa yang akan bertarung memperebutkan kedudukan sebagai pimpinan nasional pada pilpres 2009 adalah SBY dan Megawati. SBY adalah incumbent, masih menduduki jabatan sebagai presiden RI, sementara Mega adalah penantangnya dan partainya PDIP tetap konsisten menjadi oposisi pemerintah. Kalau diamati, maka popularitas atau elektabilitas keduanya turun naiknya selalu berbanding terbalik. Artinya kalau SBY menjadi lebih populer maka popularitas Mega pasti turun, juga sebaliknya bila SBY kurang populer maka Mega akan menjadi lebih populer.
Dari pendapat beberapa elit politik dan pengamat, dikaitkan dengan UU pilpres, maka nanti dalam pilpres 2009 kelihatannya yang akan bersaing hanya ada tiga pasangan capres-cawapres.
Persyaratan 20% kursi DPR atau 25% suara Nasional untuk pengajuan calon, baik sendiri maupun berkoalisi dirasa sangat berat. Hingga kini yang diperkirakan akan maju baru SBY dan Megawati. Untuk calon ketiga hingga kini belum dapat ditentukan, kekuatan parpol masih remang-remang menunggu hingga didapatnya hasil pemilu legislatif. Oleh karenanya maka dalam pembahasan ini hanya akan dilakukan terhadap kedua calon unggulan tersebut.
Dari peta kekuatan, SBY mempunyai kekuatan sebagai incumbent yang memegang kekuasaan, tiap kebijakan yng dinilai positif oleh masyarakat secara otomatis akan menaikkan elektabilitasnya. Tapi demikian juga sebaliknya, apabila terdapat kebijakan yang dinilai rakyat memberatkan, merugikan maka elektabilitasnya juga otomatis akan turun. Popularitas SBY masih cukup tinggi, beberapa aspek rasional yang dinilai positif mencakup kepuasan atas kinerja pemerintah, kondisi politik, keamanan, penegakan hukum, ekonomi nasional, program pemberantasan korupsi, program sosial meliputi bantuan langsung tunai, dana biaya operasional sekolah, dan penurunan harga bahan bakar minyak. Sementara Megawati sebagai oposan hanya menyampaikan serangan kurangnya perhatian pemerintah terhadap rakyat, seperti naiknya harga BBM, tingginya harga sembako.
Sebagai incumbent SBY telah mampu menciptakan sebuah opini dimana dia dan Partai Demokrat adalah suatu kesatuan, artinya setiap kebijakan positif yang diambilnya juga terkesan di masyarakat adalah kebijakan dari partainya. Bahkan Golkar yang direpresentasikan JK serta beberapa menteri di kabinet dalam beberapa waktu terakhir tidak mendapat penghargaan masyarakat, terlihat dari hasil beberapa lembaga survei, elektabilitas Golkar merosot dan berada dibawah partai demokrat. Dilain sisi Mega jauh lebih menyatu dengan konstituennya yang disebut “wong cilik”. Kemampuan Demokrat yang menggunakan sektor periklanan lewat media massa juga mampu diimbangi oleh PDIP.
Bagaimana dengan kerawanan SBY? Seperti telah diungkap oleh penulis pada beberapa artikel terdahulu, kerawanan SBY terutama karena dia menjadi patron, “pusat” segala-galanya dari Demokrat. Begitu nanti SBY mendapat gempuran, atau timbul masalah serius yang berkaitan dengan kondisi negara, maka otomatis elektabilitas keduanya akan turun. Sementara Mega dilain sisi tidak punya beban tanggung jawab atas pemerintahan, serangan terhadap Mega selama ini lebih diarahkan terhadap kekurang mampuannya. Beberapa saat yang lalu Mega telah berani membuktikan dan angkat bicara pada acara Kick Andy, yang oleh banyak pihak dipuji dengan kekaguman.
Posisi SBY di Partai Demokrat adalah Ketua Dewan Pembina, kedua SBY terikat pada aturan sebagai presiden menyebabkan gerakannya menjadi terbatas, kunjungan lebih bersifat formal, berbeda dengan Megawati yang bebas menyapa konstituen hingga ke pelosok-pelosok tanah air. Mega sejak tahun 2007 telah aktif melakukan safari keliling, diantaranya ke Sumatera, pada bulan November 2008 safari keliling Jawa, bahkan juga sampai ke daerah kasus lumpur Lapindo Sidoarjo. Yang terakhir pada tanggal 6-9 Januari 2009 Mega melakukan safari ke KTI (Kawasan Timur Indonesia), yaitu Makassar, Manado, Sorong, Timika dengan tema “Silaturahmi dan Tali Kasih Mama Mega ke Indonesia Timur”.
Dengan melihat beberapa fakta diatas, terlihat bahwa PDIP dan Megawati sangat serius dalam upayanya mencoba merebut kembali posisinya sebagai parpol pemenang pemilu dan sekaligus menjadikan capres Megawati menjadi presiden. Memang banyak pihak meremehkan Megawati, tetapi perlu diingat bahwa kini capres yang terkuat pada posisi kedua hingga saat ini adalah Megawati, begitu SBY tergelincir atau popularitasnya menurun maka posisi teratas akan diduduki oleh Megawati.
Pembangunan hubungan batiniah antara parpol, capres dengan konstituen sebaiknya dilakukan dengan dua jalan yaitu iklan dan kunjungan. Setelah iklan ditebar, maka konstituen harus didatangi, tidak bisa hanya dari kejauhan, rakyat ingin lebih disapa, ingin lebih diperhatikan oleh para calon pemimpinnya. Rakyat menginginkan pemimpinnya mendengar apa keluhan dan kesulitan mereka. Dan hal ini tidak bisa hanya dilakukan dalam waktu sekejab, dibutuhkan waktu yang cukup lama, karena yang harus disentuh adalah hati manusia. Dalam kondisi masa kini, dimana rakyat lebih “melek” politik, mereka akan sangat mendengar siapa yang mendatangi mereka. Apabila pemilih tradisional tidak dijaga, mereka akan lari ketempat lain.
Popularitas SBY tinggi karena sebagai incumbent yang mampu memberikan kesejahteraan, sementara elektabilitas Mega sebagai kompetitor yang kuat tidak didapat begitu saja, tetapi melalui sebuah usaha yang cukup lama dikerjakan. PDIP tanpa disadari telah selangkah lebih maju, pada akhir bulan Januari ini kelihatannya hanya PDIP yang berani mengumumkan pasangan capres-cawapres. Oleh karena itu SBY dan Partai Demokrat memang harus mewaspadainya. Partai Demokrat jangan terlalu percaya diri dan terjebak dalam kemelut yang kemungkinan akan terjadi dengan partner koalisinya Golkar. Pertanyaannya apakah Golkar akan tetap setia menjadi partner koalisi?. Perlu diingat dalam tubuh Golkarpun sudah terdapat kekuatan yang menginginkan bersatunya Golkar dengan PDIP. Kalau Golkar melepaskan diri dan pindah, bukankah Demokrat akan agak melemah?.
Seperti permainan catur, hati-hati dengan langkah kuda, sekali di “schak mat” maka ratunya tidak bisa geser dan akan tumbang. Dengan meng-”underestimate” PDIP dan Mega, sejarah 2004 dapat saja terulang, saat itu SBY yang tidak diunggulkan justru yang menjadi presiden. Bisa saja ini terjadi pada Mega. Maaf pak, ini hanya pendapat blogger tua di Kompasiana…mungkin ada salahnya. Mudah-mudahan ada manfaatnya.
PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.
function fbs_click() {u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u='+encodeURIComponent(u)+'&t='+encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');return false;}
html .fb_share_link { padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?2:26981) no-repeat top left; }
Share on Facebook Share on Twitter
20 tanggapan untuk “Incumbent Harus Hati-Hati, PDIP Dan Mega Sangat Serius.”
ojodumeh,
— 9 Januari 2009 jam 5:27 pm
memang analaisa seperti itu perlu dicermati dan kemungkinan bisa menjadi tolok ukur dalam menjalankan misi - misi berikut guna mencapai suatu keberhasilan dimasa yang akan datang, jangan sampai terlena karena sebagai incrumben. Justru harus lebih maju kedepan dibanding dengan yang lain, akan tetapi tetap harus fairplay. dengan itikad baik dan adil.
aramichi,
— 9 Januari 2009 jam 6:05 pm
Yth pak Prayitno Ramelan
Saya setuju dengan pendapat om, memang saingan paling kuat dari sby itu megawati. Megawati dan PDIP punya pendukung fanatik istilahnya pejah gesang nderek Bung Karno, nah pendukung fanatik BK ini melihat personifikasi BK pada diri Megawati, kenapa hanya Mega saya juga kurang mengerti. Tetapi kalau kita lihat dari sejarah PDIP berakar pada PNI yang sudah berurat berakar di seluruh penjuru tanah air basisnya terutama di Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur daerah mataraman dan surabaya, Bali, Lampung dan Indonesia Timur. Memang orang bilang politik aliran seperti yang dicetuskan oleh Cliford Geertz sudah kadaluarsa tetapi ternyata politik aliran tetap eksis sampai sekarang meskipun terjadi pergeseran2. Daerah Jawa Tengah dan bali seperti tidak bisa diutak utik seberapapun kuatnya SBY di masa lalu dan sekarang.
Dengan kondisi seperti tersebut sebenarnya modal Mega sudah ada tinggal perlu dipertajam kelebihannya dan ditutupi kekurangannya. Saya tidak melakukan survei tapi saya banyak mendengar obrolan di masyarakat bahwa kekecewaan yang besar itu terjadi pada kasus penjualan Indosat ini bukan masalah benar atau salah tapi begitu persepsi masyarakat yang saya tangkap, kadang kadang persepsi memang lebih penting dari realitas. Sosok Taufik Kiemas juga menjadi sorotan di masyarakat sekali lagi ini masalah persepsi dan persepsi masyarakat adalah negatif. Kemudian kesalahan yang fatal pada pemilu 2004 adalah slogan “coblos moncong putih ” slogan yang berupa instruksi padahal masyarakat tidak semuanya suka diperintah seperti itu, mungkin untuk kelompok masyarakat tertentu cocok tapi masyarakat yang lain butuh alasan kenapa harus mencoblos moncong putih, apa yang akan dia dapatkan kalau memilih moncong putih, hal ini yang alpa disampaikan seharusnya selain instruksi juga ada persuasi, mengajak.
Mengenai sembako murah yang ditawarkan sekarang juga saya tidak melihat PDIP menjelaskan bagaimana cara mencapainya, kalau saya lihat kenapa sembako itu mahal ya karena sistem perdagangannya memang tidak efisien buktinya inflasi di indonesia selalu tinggi kalau inflasi tinggi berarti kan sistemnya tidak efisien. Jadi bukan hanya masalah external ( internasional ) saja tapi internalnya juga bermasalah. Hal ini yang tidak dijelaskan bagian bagian mana yang akan diberantas untuk mencapai tujuan tersebut. Kemunculan intelektual dari PDIP juga sekarang agak kurang tidak seperti ketika jaman pak Kwik, saya pernah ngobrol2 dengan sopir taksi ternyata dulu dia memilih PDIP karena di PDIP ada pak Kwik yang dianggapnya cerdas. Jadi saya kira intelektualitas itu bisa menarik pemilih disamping tentu saja artis2, nah tinggal harus diteliti lebih efektif mana intelektualitas atau selebritas.
Tapi kalau menurut perspektif saya SBY vs Mega ini masih rame kansnya saya lihat 50-50 tergantung wapresnya siapa dulu. Kalau SBY- JK duel sama Megabuwono saya kira akan rame nih….
timur,
— 9 Januari 2009 jam 6:33 pm
Jari jemari ini sangat tajam bisa memecahbelah apa saja yang tersirat maupun tersurat, saya rasa tidak ada hubungannya antara yang baik2 untuk demokrat dan yang jelek2 untuk golkar sehingga popularitasnya menurun, itu terlalu dipotilisir.Saya dan keluarga tetap coblos golkar namun untuk presiden 2009-2014 tetap SBY-JK. untuk presiden 2014-2019 JK-Anas Urbaningrum……….Insyaallah.
Abuga,
— 9 Januari 2009 jam 6:58 pm
Karakter masyarakat kita itu masih aneh. Masyarakat yang lupa sejarah dan peristiwa masa lalu apalagi mau belajar dari mereka. Ini karena sebagian besar komposisi masyarakat kita masih sibuk bergulat dengan kehidupan hari ini. Persis ungkapan yesterday was history today is gift and tomorrow we don’t know. May be yes may be no ha…….. ha……..Contoh gamblangnya begini kalau saat ini susah makan terus ada orang yang ngasih beras ya memuji kepada yang ngasih beras. Tidak perlu ingat bahwa yang membuat kita tidak bisa makan karena sawah kita dijual oleh orang yang memberi kita beras sat ini. Kira - kira begitu Pak Pray.
Gambaran di atas juga berlaku pada partai politik kita yang suka berpikir pada saat pemilu saja. Idealnya sebagai partai besar golkar berani unjuk gigi dengan capres dan cawapres. Padahal dia punya banyak tokoh mumpuni. Nah karena berpikir sesaat saja maka impian kader dan konstituennya buyar. mereka berpikir bahwa golkar tidak gentelmen. Saya senang fenomena ini dengan demikian tenggelamnya golakr tdk memerlukan waktu lama lagi. Alangkah indahnya jika JK-Buwono tampil dari Golkar. Nah misalnya kalah saat ini kalah namanya masih harum di mata konstituiennya dan ini modal pemilu 2014. Kata Cak Nun “kudu jembar pikirane….kudu padhang rembulane…”
Mega memang kuda hitam apalagi kalau dia bisa dan mau merangkul Prabowo sebagai cawapres. Nah Prabowo ini diproyeksikan Pilpres 2014 dari PDIP. Bisa saja nanti Gerindra buyar karena tidak punya suara yg significant semua dukungan Prabowo menjadi milik PDIP. Kalau saat ini PDIP akan sulit mengegolkan jagonya melawan incumbent satu ini. Jadi harusnya berpikir setelah bu Mega itu siapa?? Krena ada 2014 bu Mega sudah tua dan itulah pertarungan yang sebenarnya ‘the road to istana merdeka’.
SBY memang oye saat ini. Lihat tampangnya saja ibu2 kesengsem jadi magnitnya luar biasa. Apalagi sebagai incumbent dia masih mempunyai membuat kebijakan yang populis. Bila dia berpadu dengan mbak Ani wa jos tenan.
Jika itung2an saya di atas benar Insya Allah kita akan memulai kehidupan demokrasi dengan parpol yang elektabilitasnya tinggi karena memang eligible dan kredible di mata rakyat. Parpol sekarang tak ubahnya pedagang sapi jadi bagi rakyat yg tidak berkepentingan mendingan golput. Wong sama saja setali tiga uang ujung2nya koalisi dan bagi - bagi posisi.
Ini itung2an wong ndeso lho Pak Pray nah terus gimana nasib Pak Wiranto, Rizal Ramli dan Bang Yos??
Salam
lemontea,
— 9 Januari 2009 jam 7:05 pm
Sebenarnya saya kecewa dengan Ibu Mega ketika ia menjadi presiden. Tapi setelah saya melihat komitmen partainya untuk menjadi oposisi dalam pemerintahan pusat, kekecewaan itu terobati. Tidak gampang lho berperan sebagai oposisi itu, tapi PDIP menjalankannya dengan baik, tidak haus akan uang dan kekuasaan dalam pemerintahan pusat. Saya akan memilih PDIP dan Ibu Mega di pemilu yang akan berlangsung ini.
uyungs,
— 9 Januari 2009 jam 8:02 pm
Menurut survei Kompas, yg diharapkan rakyat adalah capres generasi yg lebih muda. Hanya karena pilihan jawaban pada angketnya mungkin tdk mencantumkan nama2 tadi, akhirnya kembali pilihan jatuh pd SBY, Mega, Prabowo, Wiranto,Sultan, Amin dst. Dari data survei juga, mereka yg undecided kurang lebih mencapai 40 sd 50 persen. Sy kira golput akan berkisar pada angka 20-an persen, jadi masih tersisa 20-30 persen swing voters yang patut diperhitungkan oleh para tim sukses capres.
Saya pribadi sangat terkesan dg peran dan prestasi JK dalam pemerintahan koalisi ini, namun sy juga tidak tahu persisnya kenapa elektabilitasnya kok menurut survei kurang begitu mengesankan. Apakah kedekatannya dg Bakrie (dalam 2 peristiwa setidaknya: kasus lumpur Lapindo dan kasus suspensi BUMI) turut berperan dalam kecenderungan preferensi masyarakat?Namun kalau menurut analisa saya, justru positioning atau sikap Golkar yang kurang jelas dalam hal penegakan hukum, pemberantasan korupsi/KKN, reformasi birokrasi-lah yang akan terus menggerus kepercayaan masyarakat thd partai Golkar.
Jadi SBY mungkin sudah waktunya pula menimbang2 cawapres alternatif, seperti Sultan (meski kemarin ada insiden tak mengenakkan), Sutrisno Bachir, Hidayat Nur Wahid atau bahkan Sri Mulyani yang mampu mengerek kinerja ekonomi pemerintahan SBY-JK serta cukup sukses mencegah keadaan yang lebih buruk di tengah2 ancaman krisis global. Rakyat cukup menaruh perhatian pada kasus heboh BUMI Resources dan sangat apresiatif dg ketegasan dan sikapnya yang tidak ‘ngeman jabatan. Masalah popularitas dan pencitraan mbak Ani yang belum merata bergaung sampai ke pelosok2 negeri bisa disiasati dengan gencarnya iklan teve dll. Justru akan mwnjadi rival berat bagi SBY kalau Sutrisno Bachir atau Hidayat Nur Wahid (siapa pun capres yg dimunculkan oleh poros partai2 menengah) kalau Sri Mulyani dirangkul sebagai cawapresnya.
Berbeda dg pilcaleg yg lebih ideologis, pilcapres lebih diwarnai oleh sentimen masyarakat yg terbentuk oleh konteks ancaman krisis global dan harapan masyarakat terhadap terwujudnya visi Indonesia 2030 yang kadung populer. Situasi mirip2 pilcapres Amerika bisa saja terulang kembali di sini, kalau parpol2 menengah cukup cerdas membaca sentimen masyarakat pemilih. Yaitu memunculkan calon muda yg cukup kompeten, lumayan teruji dlm msalah kenegaraan dan piawai mengemas pesan2 perubahan dalam tawaran politiknya, serta bisa dipercaya omongandan janji2nya. Akankah itu harus menunggu tahun 2014? bisa saja itu terjadi dalam pemilu tahun ini! Beberapa clue-nya adalah ’sukses’ Dede Yusuf di Jabar, Khofifah (lumayan sukses) di Jatim, Dicky Chandra di Garut, Rustriningsih di Jateng, dst. Maaf Pak Pray, obrolan warung kopinya, itung2 buat obat ngantuk
Ranto Ferry,
— 9 Januari 2009 jam 10:58 pm
Apapun pilihannya …… tetep SBY FOR THE PRESIDENT 2009-2014
fadli,
— 9 Januari 2009 jam 11:11 pm
Kalau kita melihat pada tahun 2004. dimana survei 1 tahun sebelum pemilu sudah menunjukkan kemenangan SBY dibandingkan Mega. Jelas jika kita lihat kondisi sekarang masih cukup jauh buat Mega utk mengejar apalagi survei rata-rata di January masih mengunggulkan SBY lebih dari 15%. Tetapi, bagi tim partai demokrat tetap harus hati2, pemilih Indonesia terkadang pelupa. Prestasi yg sudah dibuat bertahun-tahun akan bisa hilang dalam waktu singkat. Sebaliknya, prestasi buruk orang akan terlupa dalam waktu singkat. Kondisi yg harus diawasi adalah ekonomi karena acuan utama pemilih menurut 1 survei. Harga BBM misalnya jika sampai dinaikkan maka akan memberikan kesan yg buruk dalam tahun ini. Untuk mengatasi ini, saya membaca adanya kelebihan dana dari tahun 2008 sebesar 50 trilyun. Sebaiknya, dana ini digunakan sebagai buntalan untuk mengatasi pergerakan BBM. Jika tidak ada kejadian atau kebijakan kontroversial kemungkinan besar SBY di 2009.
Relax,
— 9 Januari 2009 jam 11:59 pm
Klo aq udah punya pilihan.Yg jelas aq gamau pilih calon presiden yg skr jdi mantan presiden yg waktu pemerintahanya bnyak menjual aset negara.Kabinetnya bnyk yg korupsi bagi2 uang,kurang tegas.Yg ku pilih clon presiden yg sehat jasmani rohani.Tdi cuma main komentar dan merem melek.
prayitno ramelan,
— 10 Januari 2009 jam 12:09 am
@Ojodumeh, terima kasih atas tanggapannya, pokok bahasan dan analisa-analisa yang berada dijalur netral saat ini dirasa sangat diperlukan, agar kita bersama terbiasa mengikuti perkembangan dunia perpolitikan menjelang akan dilaksanakannya pesta demokrasi dinegara kita tercinta. Saya setuju, harus fair, yang penting semuanya demi kemajuan bangsa ini. Salam>Pray.
@Aramichi, saya suka kalau anda menanggapi, bagus menambah lengkap topik bahasan, rajin baca ya?Kalau orang suka dengan masalah politik, harus suka membaca masalah politik, dan perkembangan yg ada. Saya memang khusus mengangkat topik PDIP dan Partai Demokrat, karena ini dua parpol nasionalis yang segmennya luas, sehingga peluang menangnya juga besar. Khusus pemilih dari kalangan minoritas, saya melihat dua hari yang lalu dibahas di Metro TV bahwa PDIP merupakan pilihan pertama dari golongan minoritas, pilihan kedua adalah Partai Demokrat. Jadi memang kedua parpol ini bertanding dengan pola yang sama. Hanya PDIP saya pandang lebih luwes dan menggigit, karena Ketua Umum Parpolnya yang turun langsung ke Masyarakat bawah, sedang di Demokrat, SBY bukan Ketua Umum, tapi Ketua Dewan Pembina, sehingga kalau disandingkan PDIP akan jauh lebih unggul dalam persaingan dilapangan. Dilain sisi SBY tidak bisa mendekati konstituen saat ini karena jabatannya sebagai presiden yang harus berdiri disemua golongan. Nah, hal-hal yang sepertinya sederhana, kecil seperti ini biasanya kurang diperhatikan, tapi nanti pada saatnya akan mempunyai efek yang besar saat pemilu ataupun pilpres. Saya hargai perspektif anda bahwa kans SBY-JK masih sama, dan tergantung siapa cawapresnya….kembali PDIP menurut saya lebih confident akan menentukan cawapresnya Mega pada akhir Januari. Hal prinsip yang akan lebih menguntungkan dalam mensosialisasikan. Demikian Aramichi.Salam>pray.
@Mas Timur, terima kasih pendapatnya. Justru akhir-akhir ini diantara elit parpol Demokrat, Golkar serta beberapa parpol pendukung pemerintah saling mengklaim bahwa keberhasilan pemerintah karena disebabkan dukungan parpol-parpol tersebut. Hal ini wajar, karena mendekati pemilu, masing-masing parpol harus menunjukkan apa kinerja mereka yang dinilai membawa kebaikan bagi rakyat. Dengan tidak terasa mulai timbul persaingan diantara parpol2 tersebut, termasuk antara Golkar dan Demokrat. Yang perlu diingat bahwa parpol penguasa adalah Partai Demokrat, Golkar adalah parpol pendukung, yang kadang-kadang justru memprotes pemerintah. Kasus Pilkada Maluku Utara adalah contoh yang jelas. Terlebih ditubuh Golkar kini terdapat Faksi Surya Paloh yang menginginkan Golkar bergabung dengan PDIP, belum lagi ada kelompok muda dengan Yuddy Chrisnandy, ada lagi pendukung Sri Sultan, Marwah Daud, Fadel, Ginanjar. Ini semua merupakan kemelut diinternal Golkar yang menjadi pekerjaan rumah JK. Demikian ya Mas Timur, saya mencoba mengingatkan dan membuka sebuah pandangan saja, intinya didalam kita berpartai semuanya berawal dari sebuah kepentingan ini yg menjadi pegangan, tidak ada koalisi yang abadi, yang mutlak adalah kepentingan partai itu sendiri. Saya menghargai keyakinan Mas Timur yang akan tetap memilih Golkar, dan semoga saja seperti yg anda harapkan bahwa SBY akan tetap bersama dengan JK. Saya hanya memberikan analisa “worst condition” kepada Partai Demokrat, istilahnya agar tidak terkena pendadakan apabila hal itu memang terjadi. Begitu ya Mas Timur.Berbahagialah Golkar mempunyai pemilih setia seperti anda. Salam>Pray.
@Abuga, apa kabar?. Tanggapan-tanggapan anda itu bagus-bagus, mengalir enak…kenapa kok tidak membuat artikel, tentang Doha, ATP, Gulf sport atau apa saja, kan menarik. Nah kalau ungkapan anda “yesterday was history, today is gift and tomorrow we don’t know”, maka saya juga punya ungkapan nih “tomorrow not today hear the lazy people say”. Kalau anda berkaitan dengan beras dan sawah…maka saya mengungkapkan bahwa banyak dari kita itu yang malas, bagaimana besok aja deh, kira2 begitu. Nah seperti yg anda katakan terkait denganpemilu, banyak yang malas dan tidak peduli dengan pesta demokrasi ini. Oleh karenanya saya sangat hormat kepada para penanggap tulisan saya, kok ternyata masih ada yang peduli ya….?Seperti yang anda katakan, Golkar ini sayang, ini tidak mempunyai tokoh kuat sebagai capres, terkesan hanya mau jadi cawapres saja. Saya pada tulisan terdahulu saya uga mengutarakan kalau Mega lebih baik mengambil Prabowo sebagai cawapresnya….SBY yang mantan Jenderal, harus diimbangi dengan Jenderal juga, kalau Mega mengambil sipil, maka rakyat bisa menilai kalah “bobot”. Sementara begitu dulu ya Abu.Salam>Pray.
@Lemontea…wah beruntung PDIP mendapat pendukung baru nih. Memang masyarakat bersimpati kepada parpol atau Capres dengan banyak cara…diantaranya seperti yang terjadi pada Lemontea, simpati kepada konsisten sebagai oposisi. Salam deh Lemontea.>Pray.
@Mas Uyung, terima kasih pendapatnya. Kadang hasil survei tidak sesuai dengan keinginan. Untuk Golput kelihatannya akan lebih besar dari 20%, bahkan ada yang memprkirakan bisa mencapai 50%, kecuali seperti di AS, kharisma Obama telah meningkatkan jumlah pemilih yang tadinya Golput. Mudah2an di Indonesia juga para Golput juga berfikir lebih poitif, kalau bukan kita yang menyukseskan pesta demokrasi itu, terus siapa lagi kan?. Tentag SBY, semua kebijakan Partai Demokrat tentang pilpres akan ditentukan kelihatannya bulan Mei 2009, setelah ada hasil pemilu. Kok sepertinya “mepet” ya, tapi saya kira hal ini sudah diperhitungkan. Kalau untuk tahun 2009, kelihatanya masih berat calon muda akan muncul, karena kemungkinan koalisi alternatif, para capres yang akan muncul ya masih yang tua-tua. Ada beberapa misalnya Amin Rais, Sutrisno Bahir, Wiranto, Prabowo, Sri Sultan, Sutiyoso, Din Syamsudin, Hidayat Nur Wahid, yah paling-paling yang itu-itu juga ya…agak beda dengan Pilkada yang persyaratannya ringan. Bayangkan parpol-parpol harus berkoalisi untuk memenuhu syarat 20% kursi DPR atau 25% suara sah nasional. Saya kira begitu ya Uyung.Obrolan warung kopi kita ini enak bukan, karena kita berdiskusi dengan santun…jadi nyaman kan.Salam>Pray,
Novrita,
— 10 Januari 2009 jam 11:08 pm
Kelebihan sebagai incumbent adalah jika memang membuat kebijakan yang populis akan segera di respon positf, namun sebaliknya jika kebijakannya dianggap kurang sesuai dengan harapan rakyat tentu saja akan langsung drop.. Begitu juga sebagai pesaing terberat (kalau bisa dibilang seperti itu), Megawati dengan posisi sebagai ketua umum dan sentral PDIP bisa memanfaatkan sisi kelemahan incumbent.Jika kita hanya berbicara tentang SBY versus Megawati..(dengan asumsi bahwa untuk sementara yang lain dikesampingkan dulu), memang keduanya harus memainkan strategi yang cantik. Terlalu menohok kelemahan pesaing akan menampilkan kesan tidak bisa kooperatif dan kurang dewasa. Namun memanfaatkan celah kelemahan adalah suatu manuver yang bisa langsung mengena. Jadi musti pintar melemparkan kritik sebagai bagian untuk mempromosikan diri serta menawarkan solusi demi menghadirkan simpati.Gerak SBY kelihatannya lebih enak karena apapun kebijakannya akan langsung diserap dan direspon, tapi ya itu sedikit saja salah maka respon publik langsung menghujam. Selama ini menurut saya SBY cukup hati-hati dan berhitung dalam setiap kebijakannya, terlebih menjelang pemilu ini. Beliau cukup sadar bahwa saat ini adalah sebagai presiden RI.Megawati sebenarnya lebih enak, karena apapun yang dilakukan atau statement yang diikeluarkan, adalah seratus persen sebagai ketua umum PDIP. Beliau boleh dan sah mengenakan atribut PDIP. Sedangkan SBY untuk saat ini adalah seorang presiden RI, yang tidak bisa setiap saat mengeluarkan statement atau bertindak membawa bendera Partai Demokrat.
Ketika masing-masing bisa memahami posisi dan tahu batas-batas kepantasan, tentu pertarungan akan semakin seru. Dan disinilah pembelajaran politik bagi rakyat Indonesia, ketika para tokoh utama dari panggung demokrasi berlaga secara ’sportif’.Wah..pak Pray.. bahasa perumpaaan saya apa tidak terlalu amburadul nih..? Saya sekedar menyampaikan komentar yang ada saja sih.. Mohon dikoreksi ya..
prayitno ramelan,
— 11 Januari 2009 jam 5:32 am
Novrita, terima kasih tanggapannya, memang menarik kompetisi antara keduanya, karena yg satunya presiden, yg satunya mantan presiden. Yang satunya mempunyai fasilitas yang satunya tidak punya. Megawati bebas bergerak dan membawa bendera partai, sementara SBY tidak bebas karena masih menjadi presiden. Jadi itulah kondisi dunia perpolitikan di negara kita. Memang sebaiknya seseorang kalau duduk atau menjabat sebagai presiden atau wakil presiden sebaiknya melepaskan jabatan di parpolnya. Bagus istilah yg disampaikan, kalu masing2 memahami posisi dan tahu batas2 kepantasan….Jadi kita tunggu perkembangan politik lebih lanjut yang saya kira akan semakin ramai dan bersemangat ya. Salam.Pray
mahendra,
— 11 Januari 2009 jam 9:49 am
selamat pagi pak pray,wah dari kemarin persaingan yg seru baru 2 orang ini ya? terus yang lain belum ada kabarnya ya? pak rizal ramli itu kayaknya kok terkesan di dzalimi? dijadikan tersangka atas demo rusuh menuntut penurunan bbm, wah jangan-jangan nanti malah jadi kuda hitam juga nich, bisa melonjak tuh popularitasnya. saya juga percaya kemampuan beliau untuk menjadi capres, beliau sepertinya memiliki visi n misi yang cemerlang. mudah2an saja bisa maju jadi capres. kalo cuma 2 orang itu saja mending enggak dech,,,udah pernah semua. apakah begitu pak pray??salam.
Prayitno Ramelan,
— 11 Januari 2009 jam 11:48 am
Mas Mahendra, maaf baru balas nih, dari td pg sibuk terus…maklum sbg ketua Er-Te dikomplek harus buat acara temu warga, meningkatkan rasa kekeluargaan, agar tercipta rasa saling menghormati dan memperhatikan, maklum di ibukota banyak yg tidak saling mengenal…individualis gitu kan. Nah ke pokok bahasan, Rizal Ramli ya bisa saja maju, hanya keberanian dan keyakinan saja rasanya kurang cukup kali ya, saya pikir pemilu dan pilpres masa kini sangat berat, baik bagi caleg maupun capres-cawapres. Semakin maju dan diatur UU-nya oleh partai besar. Jadi nanti yang kemungkinan akan sukses, caleg yang terkenal atau yg punya uang….dia tinggal di Ibukota tapi nyalegnya nun jauh disana, bagaimana mau dipilih, rakyat saja tidak kenal. Yg untung ya artis2 itu sudah “beken” dan punya penggemar, seperti Eko Patrio mungkin akan masuk ke parlemen. Demikian juga untuk capres, Rizal itu sulit melawan SBY atau Mega, ia harus didukung aturan yg 20% atau 25% itu, partai apa yg bisa diyakinkan?Karena parpol2 juga mempunyai calon sendiri kan. Tapi bisa saja nanti ada capres alternatif (entah siapa) kira2 akan terlihat setelah ada hasil pemilu legislatif. Amin Rais mengatakan siap maju melalui poros penyelamat bangsa, terus siapa yg mau dukung? Hidayat Nur Wahid sudah punya elektabilitas, tapi PKS mau koalisi dengan siapa?Sri Sultan yg elektabilitasnya cukup tinggi, apakah Golkar mau mendukungnya?Wiranto?Prabowo?Din Syamsuddin?Sutrisno Bahir?Jadi gambaran capres ketiga harus nunggu ya Mas. Kalau parpol2 menengah berfikir sudah koalisi saja dengan yg kuat, maka kelihatannya hanya akan ada dua capres. Sangat mungkin kasus Pilkada DKI bisa terulang, mayoritas parpol bergabung disatu sisi, dan ada dua atau tiga parpol menjadi kompetitornya. Demikian Mas Mahendra perkiraan saya. Mau tidak mau, suka tidak suka bisa terjadi seperti itu. Nanti di 2014 baru ramai dengan para calon yg muda2, rame tuh. Rasanya jd ingin cepat2 pemilu nih…Salam ya. Pray.
ibas,
— 11 Januari 2009 jam 12:20 pm
Selamat Siang pak Pray,Senang sekali membaca ulasan-ulasan anda, mungkin saya agak melenceng dari apa yang di bahas anda saat ini.Saya hanya tergelitik mengenai keputusan MK tentang calon terpilih anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota menggunakan suara terbanyak. Kalau bisa Pak Pray ulas secara mendalam mengenai keputusan ini, dampak apa saja yang mungkin terjadi pada masa depan perpolitikan kita. Saya jadi berpikir, dengan keputusan ini maka di masa yang akan datang jumlah partai politik di Indonesia akan lebih sedikit, karena orang tidak lagi perlu mengejar nomor urut dan saya kira fungsi DPD sudah tidak perlu lagi, toh anggota DPR RI yang terpilih berdasarkan suara terbanyak sudah merupakan presentasi masyarakat di daerah. Karena tidak mungkin seseorang terpilih menjadi anggota DPR RI apabila tidak mempunyai basis masa yang luas di daerah pemilihannya seperti masa lalu.Salam.
Prayitno Ramelan,
— 11 Januari 2009 jam 5:30 pm
Mas Ibas, entah umur anda berapa saya pangggil Mas saja ya, karena sy sudah simbah2 nih, biasanya kalau memanggil anak terkecilpun dengan tambahan Mas. Saya kira anda juga bukan putranya pak SBY yg terkecil, Eddy Baskoro, panggilannya juga “Ibas”. Saya senang dan bersyukur kalau anda suka dengan ulasan2 yg saya buat, karena tujuannya sebagai sumbang pemikiran saja tentang gambaran politik dinegara kita, tanpa ada rasa keberpihakan sedikitpun. Itu ya Mas Ibas posisi saya. Tentang keputusan Mahkamah konstitusi tentang menggunakan suara terbanyak yang menggantikan nomor urut, wah ini jelas menggentarkan para caleg2 yang sudah didaftarkan akan maju.
Pengaruhnya sangat2 besar, karena selain caleg suatu parpol bersaing denga caleg parpol lain, juga terjadi persaingan diinternal parpol itu sendiri. Mereka juga agak gentar menghadapi persaingan popularitas dengan artis-artis politik. Bahkan muncul pendapat kalau mereka nanti jadi, maka mereka merasa suksesnya bukan karena parpolnya, tapi karena upayanya sendiri. Nah bisa kesetiaan kpd parpolnya bisa tidak 100%, karena yg dikejar adalah posisi jabatan, fasilitas yg dia terima, belum lagi mungkin saja ada target harus mengembalikan modal yg sudah dikeluarkan…ini gosip2 sih. Nanti deh mungkin suatu saat bisa diulas lebih jauh ya.
Jumlah parpol pada masa mendatang saya kira kemungkinan juga akan semakin sedikit, karena UU yang dibuat demikian beratnya bagi sebuah parpol untuk dapat terus eksis. Tentang DPD saya kira akan tetap ada, karena UU menentukan demikian, DPD adalah bagian dari Trias politika dalam fungsi legislatif disamping MPR dan DPR, kita kan juga meniru faham demokrasi dinegara Barat sana, ada senat dan kongres. Walaupun topik bahasan bukan tentang DPD, tidak ada salahnya deh kita refresh sedikit tentang DPD ya :
Dewan Perwakilan Daerah (disingkat DPD) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang anggotanya merupakan perwakilan dari setiap provinsi yang dipilih melalui Pemilihan Umum. DPD memiliki fungsi : Pengajuan usul, ikut dalam pembahasan dan memberikan pertimbangan yang berkaitan dengan bidang legislasi tertentu. Pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang tertentu. Anggota DPD dari setiap provinsi adalah 4 orang. Dengan demikian jumlah anggota DPD saat ini adalah 128 orang. Masa jabatan anggota DPD adalah 5 tahun, dan berakhir bersamaan pada saat anggota DPD yang baru mengucapkan sumpah/janji.
Tugas dan wewenang yang penting menurut saya adalah “Mengajukan kepada DPR Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran, dan penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam, dan sumber daya ekonomi lainnya serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. DPR kemudian mengundang DPD untuk membahas RUU tersebut.”
Oleh karena itu karena karena sistem di Indonesia sudah menentukan demikian, maka untuk menghilangkan fungsi DPD kelihatannya akan sangat sulit, rapat2nya pasti lamaaaa sekali….itu posisi yang bagus juga kan?. Saya kira demikian ya Mas Ibas. Salam.Pray.
anto,
— 12 Januari 2009 jam 12:18 pm
Selamat siang Pak Pray..Kalo menurut saya pak, karakter kita nih biasanya suka “heboh” di saat-saat terakhir..Kalo ada ujian belajarnya sistem kebut semalam, bikin tugas juga suka deket-deket batas akhir, nyampaiin spt mepet 31 maret, yang terbaru kemarin Sunset Policy nya DJP heboh di akhir tahun sampai akhirnya diperpanjang…Saat pemilu nanti juga saya yakin akan terjadi hal seperti ini, siapa yang hebat di saat-saat terakhir dialah yang menjadi pemenang…Saya sendiri sih lebih berharap yang paling “heboh” itu KPU pak pray. Berkampanye agar setiap orang berlomba-lomba menggunakan hak pilihnya. Jadi setiap orang sadar bahwa dengan hak pilihnya dia bisa menentukan nasib negaranya.Maaf pak pray, hanya pendapat pribadi, terinspirasi dari filmnya Kevin Costner, “Swing Vote”
Prayitno Ramelan,
— 12 Januari 2009 jam 5:20 pm
Mas Anto, Selamat sore…baru bisa balas nih, bagus sekali pendapatnya tu…Iya betul, kalau kampanye jelas akan heboh saat-saat terakhir, karena banyak yang berfikir itulah saat yang paling tepat, tapi ada yang lupa bahwa sesuatu yang terburu-buru didunia perpolitikan bukan cara yang tepat. Kini masyarakat lebih “melek” politik, sejak keran kebebasan dibuka, secara tidak sadar bangsa ini memiliki kemajuan, ya belajar politik, belajar dari globalisasi, belajar neoliberalisme, belajar menjadi kapitalisme, belajar berdemo, belajar merubuhkan pagar, belajar bakar ban, mogok makan…pokoknya belajar macam-macam. Oleh karena itu, kalau para elit parpol waspada, pembentukan citra dan opini tidak bisa dikerjakan dalam waktu yang sangat pendek, tetapi butuh waktu yang lama. Apa yang akan dilihat rakyat pada akhirnya…konsep capres itu, nah kalau tadinya tidak pernah bicara dan mempraktekkan konsepnya…maka rakyat akan bisa menterjemahkan…partai ini pasti hanya akan membohongi saja, janji manis saat pemilu, tujuannya merebut kekuasaan. Saya setuju sekali agar KPU yjuga harus heboh, bagaimana meminimalisir Golput. Saya belum nonton Swing Vote nya Kevin Costner tu..bagus ya??Saya pernah membuat artikel tentang Golkar, karena terispirasi filmnya Kevin Costner “The Bodyguard”. Begitua dulu ya Anto.Salam>Pray.
nda ndot,
— 12 Januari 2009 jam 10:40 pm
malem pak Pray,
wah akhirnya sempet juga nulis komen nya.memang sampai saat ini bisa dibilang hanya megawati satu2nya capres penantang incumbet yang paling poluper dibanding kandidat lain. nama besar bung karno dan ter-kuyo2 nya mega di masa orde baru adalah faktor terbesar yang menyebabkan mega mendapat tempat di masyarakat. terlebih lagi trade mark pdip sebagai partai wong cilik adalah faktor lain, meski trade mark ini bisa dikatakan hanya label saja.
dalam suatu course tentang cross culture, saya mendapati bahwa masyarakat indonesia adalah “masyarakat masa lalu” yang senang mengenang kebesaran masalalu. kejayaan majapahit, kebesaran sriwijaya, darah biru, anak si anu, keturunan si itu dsb. begitu bangganya pada masa lalu sering kita lupa bahwa kita tidak sejaya majapahit, tidak sebesar sriwijaya, si anu tidak sehebat buyutnya dsb. bahkan ada orang yang berani mengajukan diri menjadi pemimpin bangsa ini hanya karena dia menikah dengan cucu salah satu pahlawan besar negeri ini….!!!
mestinya kita lebih rasional, bahwa yang dihadapi bangsa ini adalah krisis multidimensi yang tak berkesudahan, yang kita butuhkan adalah pemimpin yang benar2 tangguh dan berkomitmen pada rakyat.
kans megawati akan tetap besar mengingat kultur masyarakat kita. akan tetapi seiring makin cerdasnya masyarakat kita, tentu ini akan menjadi tantangan sendiri untuk megawati dan pdip nya. mega harus mampu meyakinkan publik akan kapabilitasnya yang banyak diragukan berbagai kalangan. tak kurang, wapres JK menyatakan salah satu sebab kekalahan mega pada pemilu 2004 adalah kurangnya mega tampil di debat publik. bahkan prof. tjipta lesmana dalam bukunya, “dari soekarno sampai sby : intrik dan lobi politik para penguasa” mengungkapkan bahwa daya konsentrasi mega dalam berdiskusi yang menyangkut rakyat atau pekerjaan nya sebagai presiden sangatlah terbatas. mega justru lebih tahan jika ngobrol masalah shoping dan berkebun.jika ini masih terjadi, maka tak ada gunanya popularitas kosong yang bersandar pada kebesaran masa lalu. sekali lagi, sekarang kita butuh pemimpin tangguh, karena tantangan ke depan makin berat, dan kita menggantungkan harapan, bahkan hidup kita pada pemimpin yang kita pilih.
oleh karena itu, mega dan pdip harus membuktikan kepada publik bahwa ia memang layak memimpin negeri ini karena ia capable, mampu melaksanakan tugas2 mahaberat sebagai pemimpin negeri yang carut marut ini.
Prayitno Ramelan,
— 13 Januari 2009 jam 6:41 pm
Nda Ndot, terima kasih tanggapannya, memang selama ini banyak fihak selalu mengatakan bahwa Mega itu kurang capable, kurang bisa bicara, nah dia pernah muncul di Kick Andy, mencoba mengatakan inilah aku…menurut saya boleh juga beliau menjawab pertanyaan2 berat dari Andy Noya. Memang yang sebaiknya kita pilih adalah pemimpin, kita bukan mau memilih seorang rektor universitas kan yg harus bergelar ini dan itu. Tapi kita akan memilih seorang pemimin yang bijaksana, mengerti tentang permasalahan bangsa ini dan pemimpin yang bisa mengambil keputusan bagaimana yang terbaik. Jelas pemimpin sebuah bangsa tidak akan mampu menguasai semua masalah kan, seorang ekonom belum tentu mampu apabila kita ajak berdiskusi mengenai masalah politik. Saya pikir ya Nda Ndot (kok lucu sekali sih namanya?), kita harus memilih pemimpin, mau tidak mau siapa nanti yang akan maju, itulah pilihan yang harus diambil, pemimpin yang mampu memimpin, kalau yg ahli ya dipilih dari para ilmuwan disini. Nah, nanti katanya akan ada acara debat terbuka atau apalah, semacam pemaparan visi, misi….disitu akan terlihat, siapa calon yang pantas menjadi pemimpin, paling tidak dia tahu apa masalah mendasar dari bangsa ini, dan bagaimana konsepnya. Dia tdk usah menerangkan sampai detail angka-angka….tapi mengetahui semua masalah baik IPOLEKSOSBUD Hankam, kalau dia tidak faham secara garis besar….ya forget it kali Ndot. Salam>Pray.
Hingga kini banyak pengamat, elit politik, lembaga survei memperkirakan bahwa yang akan bertarung memperebutkan kedudukan sebagai pimpinan nasional pada pilpres 2009 adalah SBY dan Megawati. SBY adalah incumbent, masih menduduki jabatan sebagai presiden RI, sementara Mega adalah penantangnya dan partainya PDIP tetap konsisten menjadi oposisi pemerintah. Kalau diamati, maka popularitas atau elektabilitas keduanya turun naiknya selalu berbanding terbalik. Artinya kalau SBY menjadi lebih populer maka popularitas Mega pasti turun, juga sebaliknya bila SBY kurang populer maka Mega akan menjadi lebih populer.
Dari pendapat beberapa elit politik dan pengamat, dikaitkan dengan UU pilpres, maka nanti dalam pilpres 2009 kelihatannya yang akan bersaing hanya ada tiga pasangan capres-cawapres.
Persyaratan 20% kursi DPR atau 25% suara Nasional untuk pengajuan calon, baik sendiri maupun berkoalisi dirasa sangat berat. Hingga kini yang diperkirakan akan maju baru SBY dan Megawati. Untuk calon ketiga hingga kini belum dapat ditentukan, kekuatan parpol masih remang-remang menunggu hingga didapatnya hasil pemilu legislatif. Oleh karenanya maka dalam pembahasan ini hanya akan dilakukan terhadap kedua calon unggulan tersebut.
Dari peta kekuatan, SBY mempunyai kekuatan sebagai incumbent yang memegang kekuasaan, tiap kebijakan yng dinilai positif oleh masyarakat secara otomatis akan menaikkan elektabilitasnya. Tapi demikian juga sebaliknya, apabila terdapat kebijakan yang dinilai rakyat memberatkan, merugikan maka elektabilitasnya juga otomatis akan turun. Popularitas SBY masih cukup tinggi, beberapa aspek rasional yang dinilai positif mencakup kepuasan atas kinerja pemerintah, kondisi politik, keamanan, penegakan hukum, ekonomi nasional, program pemberantasan korupsi, program sosial meliputi bantuan langsung tunai, dana biaya operasional sekolah, dan penurunan harga bahan bakar minyak. Sementara Megawati sebagai oposan hanya menyampaikan serangan kurangnya perhatian pemerintah terhadap rakyat, seperti naiknya harga BBM, tingginya harga sembako.
Sebagai incumbent SBY telah mampu menciptakan sebuah opini dimana dia dan Partai Demokrat adalah suatu kesatuan, artinya setiap kebijakan positif yang diambilnya juga terkesan di masyarakat adalah kebijakan dari partainya. Bahkan Golkar yang direpresentasikan JK serta beberapa menteri di kabinet dalam beberapa waktu terakhir tidak mendapat penghargaan masyarakat, terlihat dari hasil beberapa lembaga survei, elektabilitas Golkar merosot dan berada dibawah partai demokrat. Dilain sisi Mega jauh lebih menyatu dengan konstituennya yang disebut “wong cilik”. Kemampuan Demokrat yang menggunakan sektor periklanan lewat media massa juga mampu diimbangi oleh PDIP.
Bagaimana dengan kerawanan SBY? Seperti telah diungkap oleh penulis pada beberapa artikel terdahulu, kerawanan SBY terutama karena dia menjadi patron, “pusat” segala-galanya dari Demokrat. Begitu nanti SBY mendapat gempuran, atau timbul masalah serius yang berkaitan dengan kondisi negara, maka otomatis elektabilitas keduanya akan turun. Sementara Mega dilain sisi tidak punya beban tanggung jawab atas pemerintahan, serangan terhadap Mega selama ini lebih diarahkan terhadap kekurang mampuannya. Beberapa saat yang lalu Mega telah berani membuktikan dan angkat bicara pada acara Kick Andy, yang oleh banyak pihak dipuji dengan kekaguman.
Posisi SBY di Partai Demokrat adalah Ketua Dewan Pembina, kedua SBY terikat pada aturan sebagai presiden menyebabkan gerakannya menjadi terbatas, kunjungan lebih bersifat formal, berbeda dengan Megawati yang bebas menyapa konstituen hingga ke pelosok-pelosok tanah air. Mega sejak tahun 2007 telah aktif melakukan safari keliling, diantaranya ke Sumatera, pada bulan November 2008 safari keliling Jawa, bahkan juga sampai ke daerah kasus lumpur Lapindo Sidoarjo. Yang terakhir pada tanggal 6-9 Januari 2009 Mega melakukan safari ke KTI (Kawasan Timur Indonesia), yaitu Makassar, Manado, Sorong, Timika dengan tema “Silaturahmi dan Tali Kasih Mama Mega ke Indonesia Timur”.
Dengan melihat beberapa fakta diatas, terlihat bahwa PDIP dan Megawati sangat serius dalam upayanya mencoba merebut kembali posisinya sebagai parpol pemenang pemilu dan sekaligus menjadikan capres Megawati menjadi presiden. Memang banyak pihak meremehkan Megawati, tetapi perlu diingat bahwa kini capres yang terkuat pada posisi kedua hingga saat ini adalah Megawati, begitu SBY tergelincir atau popularitasnya menurun maka posisi teratas akan diduduki oleh Megawati.
Pembangunan hubungan batiniah antara parpol, capres dengan konstituen sebaiknya dilakukan dengan dua jalan yaitu iklan dan kunjungan. Setelah iklan ditebar, maka konstituen harus didatangi, tidak bisa hanya dari kejauhan, rakyat ingin lebih disapa, ingin lebih diperhatikan oleh para calon pemimpinnya. Rakyat menginginkan pemimpinnya mendengar apa keluhan dan kesulitan mereka. Dan hal ini tidak bisa hanya dilakukan dalam waktu sekejab, dibutuhkan waktu yang cukup lama, karena yang harus disentuh adalah hati manusia. Dalam kondisi masa kini, dimana rakyat lebih “melek” politik, mereka akan sangat mendengar siapa yang mendatangi mereka. Apabila pemilih tradisional tidak dijaga, mereka akan lari ketempat lain.
Popularitas SBY tinggi karena sebagai incumbent yang mampu memberikan kesejahteraan, sementara elektabilitas Mega sebagai kompetitor yang kuat tidak didapat begitu saja, tetapi melalui sebuah usaha yang cukup lama dikerjakan. PDIP tanpa disadari telah selangkah lebih maju, pada akhir bulan Januari ini kelihatannya hanya PDIP yang berani mengumumkan pasangan capres-cawapres. Oleh karena itu SBY dan Partai Demokrat memang harus mewaspadainya. Partai Demokrat jangan terlalu percaya diri dan terjebak dalam kemelut yang kemungkinan akan terjadi dengan partner koalisinya Golkar. Pertanyaannya apakah Golkar akan tetap setia menjadi partner koalisi?. Perlu diingat dalam tubuh Golkarpun sudah terdapat kekuatan yang menginginkan bersatunya Golkar dengan PDIP. Kalau Golkar melepaskan diri dan pindah, bukankah Demokrat akan agak melemah?.
Seperti permainan catur, hati-hati dengan langkah kuda, sekali di “schak mat” maka ratunya tidak bisa geser dan akan tumbang. Dengan meng-”underestimate” PDIP dan Mega, sejarah 2004 dapat saja terulang, saat itu SBY yang tidak diunggulkan justru yang menjadi presiden. Bisa saja ini terjadi pada Mega. Maaf pak, ini hanya pendapat blogger tua di Kompasiana…mungkin ada salahnya. Mudah-mudahan ada manfaatnya.
PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.
function fbs_click() {u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u='+encodeURIComponent(u)+'&t='+encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');return false;}
html .fb_share_link { padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?2:26981) no-repeat top left; }
Share on Facebook Share on Twitter
20 tanggapan untuk “Incumbent Harus Hati-Hati, PDIP Dan Mega Sangat Serius.”
ojodumeh,
— 9 Januari 2009 jam 5:27 pm
memang analaisa seperti itu perlu dicermati dan kemungkinan bisa menjadi tolok ukur dalam menjalankan misi - misi berikut guna mencapai suatu keberhasilan dimasa yang akan datang, jangan sampai terlena karena sebagai incrumben. Justru harus lebih maju kedepan dibanding dengan yang lain, akan tetapi tetap harus fairplay. dengan itikad baik dan adil.
aramichi,
— 9 Januari 2009 jam 6:05 pm
Yth pak Prayitno Ramelan
Saya setuju dengan pendapat om, memang saingan paling kuat dari sby itu megawati. Megawati dan PDIP punya pendukung fanatik istilahnya pejah gesang nderek Bung Karno, nah pendukung fanatik BK ini melihat personifikasi BK pada diri Megawati, kenapa hanya Mega saya juga kurang mengerti. Tetapi kalau kita lihat dari sejarah PDIP berakar pada PNI yang sudah berurat berakar di seluruh penjuru tanah air basisnya terutama di Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur daerah mataraman dan surabaya, Bali, Lampung dan Indonesia Timur. Memang orang bilang politik aliran seperti yang dicetuskan oleh Cliford Geertz sudah kadaluarsa tetapi ternyata politik aliran tetap eksis sampai sekarang meskipun terjadi pergeseran2. Daerah Jawa Tengah dan bali seperti tidak bisa diutak utik seberapapun kuatnya SBY di masa lalu dan sekarang.
Dengan kondisi seperti tersebut sebenarnya modal Mega sudah ada tinggal perlu dipertajam kelebihannya dan ditutupi kekurangannya. Saya tidak melakukan survei tapi saya banyak mendengar obrolan di masyarakat bahwa kekecewaan yang besar itu terjadi pada kasus penjualan Indosat ini bukan masalah benar atau salah tapi begitu persepsi masyarakat yang saya tangkap, kadang kadang persepsi memang lebih penting dari realitas. Sosok Taufik Kiemas juga menjadi sorotan di masyarakat sekali lagi ini masalah persepsi dan persepsi masyarakat adalah negatif. Kemudian kesalahan yang fatal pada pemilu 2004 adalah slogan “coblos moncong putih ” slogan yang berupa instruksi padahal masyarakat tidak semuanya suka diperintah seperti itu, mungkin untuk kelompok masyarakat tertentu cocok tapi masyarakat yang lain butuh alasan kenapa harus mencoblos moncong putih, apa yang akan dia dapatkan kalau memilih moncong putih, hal ini yang alpa disampaikan seharusnya selain instruksi juga ada persuasi, mengajak.
Mengenai sembako murah yang ditawarkan sekarang juga saya tidak melihat PDIP menjelaskan bagaimana cara mencapainya, kalau saya lihat kenapa sembako itu mahal ya karena sistem perdagangannya memang tidak efisien buktinya inflasi di indonesia selalu tinggi kalau inflasi tinggi berarti kan sistemnya tidak efisien. Jadi bukan hanya masalah external ( internasional ) saja tapi internalnya juga bermasalah. Hal ini yang tidak dijelaskan bagian bagian mana yang akan diberantas untuk mencapai tujuan tersebut. Kemunculan intelektual dari PDIP juga sekarang agak kurang tidak seperti ketika jaman pak Kwik, saya pernah ngobrol2 dengan sopir taksi ternyata dulu dia memilih PDIP karena di PDIP ada pak Kwik yang dianggapnya cerdas. Jadi saya kira intelektualitas itu bisa menarik pemilih disamping tentu saja artis2, nah tinggal harus diteliti lebih efektif mana intelektualitas atau selebritas.
Tapi kalau menurut perspektif saya SBY vs Mega ini masih rame kansnya saya lihat 50-50 tergantung wapresnya siapa dulu. Kalau SBY- JK duel sama Megabuwono saya kira akan rame nih….
timur,
— 9 Januari 2009 jam 6:33 pm
Jari jemari ini sangat tajam bisa memecahbelah apa saja yang tersirat maupun tersurat, saya rasa tidak ada hubungannya antara yang baik2 untuk demokrat dan yang jelek2 untuk golkar sehingga popularitasnya menurun, itu terlalu dipotilisir.Saya dan keluarga tetap coblos golkar namun untuk presiden 2009-2014 tetap SBY-JK. untuk presiden 2014-2019 JK-Anas Urbaningrum……….Insyaallah.
Abuga,
— 9 Januari 2009 jam 6:58 pm
Karakter masyarakat kita itu masih aneh. Masyarakat yang lupa sejarah dan peristiwa masa lalu apalagi mau belajar dari mereka. Ini karena sebagian besar komposisi masyarakat kita masih sibuk bergulat dengan kehidupan hari ini. Persis ungkapan yesterday was history today is gift and tomorrow we don’t know. May be yes may be no ha…….. ha……..Contoh gamblangnya begini kalau saat ini susah makan terus ada orang yang ngasih beras ya memuji kepada yang ngasih beras. Tidak perlu ingat bahwa yang membuat kita tidak bisa makan karena sawah kita dijual oleh orang yang memberi kita beras sat ini. Kira - kira begitu Pak Pray.
Gambaran di atas juga berlaku pada partai politik kita yang suka berpikir pada saat pemilu saja. Idealnya sebagai partai besar golkar berani unjuk gigi dengan capres dan cawapres. Padahal dia punya banyak tokoh mumpuni. Nah karena berpikir sesaat saja maka impian kader dan konstituennya buyar. mereka berpikir bahwa golkar tidak gentelmen. Saya senang fenomena ini dengan demikian tenggelamnya golakr tdk memerlukan waktu lama lagi. Alangkah indahnya jika JK-Buwono tampil dari Golkar. Nah misalnya kalah saat ini kalah namanya masih harum di mata konstituiennya dan ini modal pemilu 2014. Kata Cak Nun “kudu jembar pikirane….kudu padhang rembulane…”
Mega memang kuda hitam apalagi kalau dia bisa dan mau merangkul Prabowo sebagai cawapres. Nah Prabowo ini diproyeksikan Pilpres 2014 dari PDIP. Bisa saja nanti Gerindra buyar karena tidak punya suara yg significant semua dukungan Prabowo menjadi milik PDIP. Kalau saat ini PDIP akan sulit mengegolkan jagonya melawan incumbent satu ini. Jadi harusnya berpikir setelah bu Mega itu siapa?? Krena ada 2014 bu Mega sudah tua dan itulah pertarungan yang sebenarnya ‘the road to istana merdeka’.
SBY memang oye saat ini. Lihat tampangnya saja ibu2 kesengsem jadi magnitnya luar biasa. Apalagi sebagai incumbent dia masih mempunyai membuat kebijakan yang populis. Bila dia berpadu dengan mbak Ani wa jos tenan.
Jika itung2an saya di atas benar Insya Allah kita akan memulai kehidupan demokrasi dengan parpol yang elektabilitasnya tinggi karena memang eligible dan kredible di mata rakyat. Parpol sekarang tak ubahnya pedagang sapi jadi bagi rakyat yg tidak berkepentingan mendingan golput. Wong sama saja setali tiga uang ujung2nya koalisi dan bagi - bagi posisi.
Ini itung2an wong ndeso lho Pak Pray nah terus gimana nasib Pak Wiranto, Rizal Ramli dan Bang Yos??
Salam
lemontea,
— 9 Januari 2009 jam 7:05 pm
Sebenarnya saya kecewa dengan Ibu Mega ketika ia menjadi presiden. Tapi setelah saya melihat komitmen partainya untuk menjadi oposisi dalam pemerintahan pusat, kekecewaan itu terobati. Tidak gampang lho berperan sebagai oposisi itu, tapi PDIP menjalankannya dengan baik, tidak haus akan uang dan kekuasaan dalam pemerintahan pusat. Saya akan memilih PDIP dan Ibu Mega di pemilu yang akan berlangsung ini.
uyungs,
— 9 Januari 2009 jam 8:02 pm
Menurut survei Kompas, yg diharapkan rakyat adalah capres generasi yg lebih muda. Hanya karena pilihan jawaban pada angketnya mungkin tdk mencantumkan nama2 tadi, akhirnya kembali pilihan jatuh pd SBY, Mega, Prabowo, Wiranto,Sultan, Amin dst. Dari data survei juga, mereka yg undecided kurang lebih mencapai 40 sd 50 persen. Sy kira golput akan berkisar pada angka 20-an persen, jadi masih tersisa 20-30 persen swing voters yang patut diperhitungkan oleh para tim sukses capres.
Saya pribadi sangat terkesan dg peran dan prestasi JK dalam pemerintahan koalisi ini, namun sy juga tidak tahu persisnya kenapa elektabilitasnya kok menurut survei kurang begitu mengesankan. Apakah kedekatannya dg Bakrie (dalam 2 peristiwa setidaknya: kasus lumpur Lapindo dan kasus suspensi BUMI) turut berperan dalam kecenderungan preferensi masyarakat?Namun kalau menurut analisa saya, justru positioning atau sikap Golkar yang kurang jelas dalam hal penegakan hukum, pemberantasan korupsi/KKN, reformasi birokrasi-lah yang akan terus menggerus kepercayaan masyarakat thd partai Golkar.
Jadi SBY mungkin sudah waktunya pula menimbang2 cawapres alternatif, seperti Sultan (meski kemarin ada insiden tak mengenakkan), Sutrisno Bachir, Hidayat Nur Wahid atau bahkan Sri Mulyani yang mampu mengerek kinerja ekonomi pemerintahan SBY-JK serta cukup sukses mencegah keadaan yang lebih buruk di tengah2 ancaman krisis global. Rakyat cukup menaruh perhatian pada kasus heboh BUMI Resources dan sangat apresiatif dg ketegasan dan sikapnya yang tidak ‘ngeman jabatan. Masalah popularitas dan pencitraan mbak Ani yang belum merata bergaung sampai ke pelosok2 negeri bisa disiasati dengan gencarnya iklan teve dll. Justru akan mwnjadi rival berat bagi SBY kalau Sutrisno Bachir atau Hidayat Nur Wahid (siapa pun capres yg dimunculkan oleh poros partai2 menengah) kalau Sri Mulyani dirangkul sebagai cawapresnya.
Berbeda dg pilcaleg yg lebih ideologis, pilcapres lebih diwarnai oleh sentimen masyarakat yg terbentuk oleh konteks ancaman krisis global dan harapan masyarakat terhadap terwujudnya visi Indonesia 2030 yang kadung populer. Situasi mirip2 pilcapres Amerika bisa saja terulang kembali di sini, kalau parpol2 menengah cukup cerdas membaca sentimen masyarakat pemilih. Yaitu memunculkan calon muda yg cukup kompeten, lumayan teruji dlm msalah kenegaraan dan piawai mengemas pesan2 perubahan dalam tawaran politiknya, serta bisa dipercaya omongandan janji2nya. Akankah itu harus menunggu tahun 2014? bisa saja itu terjadi dalam pemilu tahun ini! Beberapa clue-nya adalah ’sukses’ Dede Yusuf di Jabar, Khofifah (lumayan sukses) di Jatim, Dicky Chandra di Garut, Rustriningsih di Jateng, dst. Maaf Pak Pray, obrolan warung kopinya, itung2 buat obat ngantuk
Ranto Ferry,
— 9 Januari 2009 jam 10:58 pm
Apapun pilihannya …… tetep SBY FOR THE PRESIDENT 2009-2014
fadli,
— 9 Januari 2009 jam 11:11 pm
Kalau kita melihat pada tahun 2004. dimana survei 1 tahun sebelum pemilu sudah menunjukkan kemenangan SBY dibandingkan Mega. Jelas jika kita lihat kondisi sekarang masih cukup jauh buat Mega utk mengejar apalagi survei rata-rata di January masih mengunggulkan SBY lebih dari 15%. Tetapi, bagi tim partai demokrat tetap harus hati2, pemilih Indonesia terkadang pelupa. Prestasi yg sudah dibuat bertahun-tahun akan bisa hilang dalam waktu singkat. Sebaliknya, prestasi buruk orang akan terlupa dalam waktu singkat. Kondisi yg harus diawasi adalah ekonomi karena acuan utama pemilih menurut 1 survei. Harga BBM misalnya jika sampai dinaikkan maka akan memberikan kesan yg buruk dalam tahun ini. Untuk mengatasi ini, saya membaca adanya kelebihan dana dari tahun 2008 sebesar 50 trilyun. Sebaiknya, dana ini digunakan sebagai buntalan untuk mengatasi pergerakan BBM. Jika tidak ada kejadian atau kebijakan kontroversial kemungkinan besar SBY di 2009.
Relax,
— 9 Januari 2009 jam 11:59 pm
Klo aq udah punya pilihan.Yg jelas aq gamau pilih calon presiden yg skr jdi mantan presiden yg waktu pemerintahanya bnyak menjual aset negara.Kabinetnya bnyk yg korupsi bagi2 uang,kurang tegas.Yg ku pilih clon presiden yg sehat jasmani rohani.Tdi cuma main komentar dan merem melek.
prayitno ramelan,
— 10 Januari 2009 jam 12:09 am
@Ojodumeh, terima kasih atas tanggapannya, pokok bahasan dan analisa-analisa yang berada dijalur netral saat ini dirasa sangat diperlukan, agar kita bersama terbiasa mengikuti perkembangan dunia perpolitikan menjelang akan dilaksanakannya pesta demokrasi dinegara kita tercinta. Saya setuju, harus fair, yang penting semuanya demi kemajuan bangsa ini. Salam>Pray.
@Aramichi, saya suka kalau anda menanggapi, bagus menambah lengkap topik bahasan, rajin baca ya?Kalau orang suka dengan masalah politik, harus suka membaca masalah politik, dan perkembangan yg ada. Saya memang khusus mengangkat topik PDIP dan Partai Demokrat, karena ini dua parpol nasionalis yang segmennya luas, sehingga peluang menangnya juga besar. Khusus pemilih dari kalangan minoritas, saya melihat dua hari yang lalu dibahas di Metro TV bahwa PDIP merupakan pilihan pertama dari golongan minoritas, pilihan kedua adalah Partai Demokrat. Jadi memang kedua parpol ini bertanding dengan pola yang sama. Hanya PDIP saya pandang lebih luwes dan menggigit, karena Ketua Umum Parpolnya yang turun langsung ke Masyarakat bawah, sedang di Demokrat, SBY bukan Ketua Umum, tapi Ketua Dewan Pembina, sehingga kalau disandingkan PDIP akan jauh lebih unggul dalam persaingan dilapangan. Dilain sisi SBY tidak bisa mendekati konstituen saat ini karena jabatannya sebagai presiden yang harus berdiri disemua golongan. Nah, hal-hal yang sepertinya sederhana, kecil seperti ini biasanya kurang diperhatikan, tapi nanti pada saatnya akan mempunyai efek yang besar saat pemilu ataupun pilpres. Saya hargai perspektif anda bahwa kans SBY-JK masih sama, dan tergantung siapa cawapresnya….kembali PDIP menurut saya lebih confident akan menentukan cawapresnya Mega pada akhir Januari. Hal prinsip yang akan lebih menguntungkan dalam mensosialisasikan. Demikian Aramichi.Salam>pray.
@Mas Timur, terima kasih pendapatnya. Justru akhir-akhir ini diantara elit parpol Demokrat, Golkar serta beberapa parpol pendukung pemerintah saling mengklaim bahwa keberhasilan pemerintah karena disebabkan dukungan parpol-parpol tersebut. Hal ini wajar, karena mendekati pemilu, masing-masing parpol harus menunjukkan apa kinerja mereka yang dinilai membawa kebaikan bagi rakyat. Dengan tidak terasa mulai timbul persaingan diantara parpol2 tersebut, termasuk antara Golkar dan Demokrat. Yang perlu diingat bahwa parpol penguasa adalah Partai Demokrat, Golkar adalah parpol pendukung, yang kadang-kadang justru memprotes pemerintah. Kasus Pilkada Maluku Utara adalah contoh yang jelas. Terlebih ditubuh Golkar kini terdapat Faksi Surya Paloh yang menginginkan Golkar bergabung dengan PDIP, belum lagi ada kelompok muda dengan Yuddy Chrisnandy, ada lagi pendukung Sri Sultan, Marwah Daud, Fadel, Ginanjar. Ini semua merupakan kemelut diinternal Golkar yang menjadi pekerjaan rumah JK. Demikian ya Mas Timur, saya mencoba mengingatkan dan membuka sebuah pandangan saja, intinya didalam kita berpartai semuanya berawal dari sebuah kepentingan ini yg menjadi pegangan, tidak ada koalisi yang abadi, yang mutlak adalah kepentingan partai itu sendiri. Saya menghargai keyakinan Mas Timur yang akan tetap memilih Golkar, dan semoga saja seperti yg anda harapkan bahwa SBY akan tetap bersama dengan JK. Saya hanya memberikan analisa “worst condition” kepada Partai Demokrat, istilahnya agar tidak terkena pendadakan apabila hal itu memang terjadi. Begitu ya Mas Timur.Berbahagialah Golkar mempunyai pemilih setia seperti anda. Salam>Pray.
@Abuga, apa kabar?. Tanggapan-tanggapan anda itu bagus-bagus, mengalir enak…kenapa kok tidak membuat artikel, tentang Doha, ATP, Gulf sport atau apa saja, kan menarik. Nah kalau ungkapan anda “yesterday was history, today is gift and tomorrow we don’t know”, maka saya juga punya ungkapan nih “tomorrow not today hear the lazy people say”. Kalau anda berkaitan dengan beras dan sawah…maka saya mengungkapkan bahwa banyak dari kita itu yang malas, bagaimana besok aja deh, kira2 begitu. Nah seperti yg anda katakan terkait denganpemilu, banyak yang malas dan tidak peduli dengan pesta demokrasi ini. Oleh karenanya saya sangat hormat kepada para penanggap tulisan saya, kok ternyata masih ada yang peduli ya….?Seperti yang anda katakan, Golkar ini sayang, ini tidak mempunyai tokoh kuat sebagai capres, terkesan hanya mau jadi cawapres saja. Saya pada tulisan terdahulu saya uga mengutarakan kalau Mega lebih baik mengambil Prabowo sebagai cawapresnya….SBY yang mantan Jenderal, harus diimbangi dengan Jenderal juga, kalau Mega mengambil sipil, maka rakyat bisa menilai kalah “bobot”. Sementara begitu dulu ya Abu.Salam>Pray.
@Lemontea…wah beruntung PDIP mendapat pendukung baru nih. Memang masyarakat bersimpati kepada parpol atau Capres dengan banyak cara…diantaranya seperti yang terjadi pada Lemontea, simpati kepada konsisten sebagai oposisi. Salam deh Lemontea.>Pray.
@Mas Uyung, terima kasih pendapatnya. Kadang hasil survei tidak sesuai dengan keinginan. Untuk Golput kelihatannya akan lebih besar dari 20%, bahkan ada yang memprkirakan bisa mencapai 50%, kecuali seperti di AS, kharisma Obama telah meningkatkan jumlah pemilih yang tadinya Golput. Mudah2an di Indonesia juga para Golput juga berfikir lebih poitif, kalau bukan kita yang menyukseskan pesta demokrasi itu, terus siapa lagi kan?. Tentag SBY, semua kebijakan Partai Demokrat tentang pilpres akan ditentukan kelihatannya bulan Mei 2009, setelah ada hasil pemilu. Kok sepertinya “mepet” ya, tapi saya kira hal ini sudah diperhitungkan. Kalau untuk tahun 2009, kelihatanya masih berat calon muda akan muncul, karena kemungkinan koalisi alternatif, para capres yang akan muncul ya masih yang tua-tua. Ada beberapa misalnya Amin Rais, Sutrisno Bahir, Wiranto, Prabowo, Sri Sultan, Sutiyoso, Din Syamsudin, Hidayat Nur Wahid, yah paling-paling yang itu-itu juga ya…agak beda dengan Pilkada yang persyaratannya ringan. Bayangkan parpol-parpol harus berkoalisi untuk memenuhu syarat 20% kursi DPR atau 25% suara sah nasional. Saya kira begitu ya Uyung.Obrolan warung kopi kita ini enak bukan, karena kita berdiskusi dengan santun…jadi nyaman kan.Salam>Pray,
Novrita,
— 10 Januari 2009 jam 11:08 pm
Kelebihan sebagai incumbent adalah jika memang membuat kebijakan yang populis akan segera di respon positf, namun sebaliknya jika kebijakannya dianggap kurang sesuai dengan harapan rakyat tentu saja akan langsung drop.. Begitu juga sebagai pesaing terberat (kalau bisa dibilang seperti itu), Megawati dengan posisi sebagai ketua umum dan sentral PDIP bisa memanfaatkan sisi kelemahan incumbent.Jika kita hanya berbicara tentang SBY versus Megawati..(dengan asumsi bahwa untuk sementara yang lain dikesampingkan dulu), memang keduanya harus memainkan strategi yang cantik. Terlalu menohok kelemahan pesaing akan menampilkan kesan tidak bisa kooperatif dan kurang dewasa. Namun memanfaatkan celah kelemahan adalah suatu manuver yang bisa langsung mengena. Jadi musti pintar melemparkan kritik sebagai bagian untuk mempromosikan diri serta menawarkan solusi demi menghadirkan simpati.Gerak SBY kelihatannya lebih enak karena apapun kebijakannya akan langsung diserap dan direspon, tapi ya itu sedikit saja salah maka respon publik langsung menghujam. Selama ini menurut saya SBY cukup hati-hati dan berhitung dalam setiap kebijakannya, terlebih menjelang pemilu ini. Beliau cukup sadar bahwa saat ini adalah sebagai presiden RI.Megawati sebenarnya lebih enak, karena apapun yang dilakukan atau statement yang diikeluarkan, adalah seratus persen sebagai ketua umum PDIP. Beliau boleh dan sah mengenakan atribut PDIP. Sedangkan SBY untuk saat ini adalah seorang presiden RI, yang tidak bisa setiap saat mengeluarkan statement atau bertindak membawa bendera Partai Demokrat.
Ketika masing-masing bisa memahami posisi dan tahu batas-batas kepantasan, tentu pertarungan akan semakin seru. Dan disinilah pembelajaran politik bagi rakyat Indonesia, ketika para tokoh utama dari panggung demokrasi berlaga secara ’sportif’.Wah..pak Pray.. bahasa perumpaaan saya apa tidak terlalu amburadul nih..? Saya sekedar menyampaikan komentar yang ada saja sih.. Mohon dikoreksi ya..
prayitno ramelan,
— 11 Januari 2009 jam 5:32 am
Novrita, terima kasih tanggapannya, memang menarik kompetisi antara keduanya, karena yg satunya presiden, yg satunya mantan presiden. Yang satunya mempunyai fasilitas yang satunya tidak punya. Megawati bebas bergerak dan membawa bendera partai, sementara SBY tidak bebas karena masih menjadi presiden. Jadi itulah kondisi dunia perpolitikan di negara kita. Memang sebaiknya seseorang kalau duduk atau menjabat sebagai presiden atau wakil presiden sebaiknya melepaskan jabatan di parpolnya. Bagus istilah yg disampaikan, kalu masing2 memahami posisi dan tahu batas2 kepantasan….Jadi kita tunggu perkembangan politik lebih lanjut yang saya kira akan semakin ramai dan bersemangat ya. Salam.Pray
mahendra,
— 11 Januari 2009 jam 9:49 am
selamat pagi pak pray,wah dari kemarin persaingan yg seru baru 2 orang ini ya? terus yang lain belum ada kabarnya ya? pak rizal ramli itu kayaknya kok terkesan di dzalimi? dijadikan tersangka atas demo rusuh menuntut penurunan bbm, wah jangan-jangan nanti malah jadi kuda hitam juga nich, bisa melonjak tuh popularitasnya. saya juga percaya kemampuan beliau untuk menjadi capres, beliau sepertinya memiliki visi n misi yang cemerlang. mudah2an saja bisa maju jadi capres. kalo cuma 2 orang itu saja mending enggak dech,,,udah pernah semua. apakah begitu pak pray??salam.
Prayitno Ramelan,
— 11 Januari 2009 jam 11:48 am
Mas Mahendra, maaf baru balas nih, dari td pg sibuk terus…maklum sbg ketua Er-Te dikomplek harus buat acara temu warga, meningkatkan rasa kekeluargaan, agar tercipta rasa saling menghormati dan memperhatikan, maklum di ibukota banyak yg tidak saling mengenal…individualis gitu kan. Nah ke pokok bahasan, Rizal Ramli ya bisa saja maju, hanya keberanian dan keyakinan saja rasanya kurang cukup kali ya, saya pikir pemilu dan pilpres masa kini sangat berat, baik bagi caleg maupun capres-cawapres. Semakin maju dan diatur UU-nya oleh partai besar. Jadi nanti yang kemungkinan akan sukses, caleg yang terkenal atau yg punya uang….dia tinggal di Ibukota tapi nyalegnya nun jauh disana, bagaimana mau dipilih, rakyat saja tidak kenal. Yg untung ya artis2 itu sudah “beken” dan punya penggemar, seperti Eko Patrio mungkin akan masuk ke parlemen. Demikian juga untuk capres, Rizal itu sulit melawan SBY atau Mega, ia harus didukung aturan yg 20% atau 25% itu, partai apa yg bisa diyakinkan?Karena parpol2 juga mempunyai calon sendiri kan. Tapi bisa saja nanti ada capres alternatif (entah siapa) kira2 akan terlihat setelah ada hasil pemilu legislatif. Amin Rais mengatakan siap maju melalui poros penyelamat bangsa, terus siapa yg mau dukung? Hidayat Nur Wahid sudah punya elektabilitas, tapi PKS mau koalisi dengan siapa?Sri Sultan yg elektabilitasnya cukup tinggi, apakah Golkar mau mendukungnya?Wiranto?Prabowo?Din Syamsuddin?Sutrisno Bahir?Jadi gambaran capres ketiga harus nunggu ya Mas. Kalau parpol2 menengah berfikir sudah koalisi saja dengan yg kuat, maka kelihatannya hanya akan ada dua capres. Sangat mungkin kasus Pilkada DKI bisa terulang, mayoritas parpol bergabung disatu sisi, dan ada dua atau tiga parpol menjadi kompetitornya. Demikian Mas Mahendra perkiraan saya. Mau tidak mau, suka tidak suka bisa terjadi seperti itu. Nanti di 2014 baru ramai dengan para calon yg muda2, rame tuh. Rasanya jd ingin cepat2 pemilu nih…Salam ya. Pray.
ibas,
— 11 Januari 2009 jam 12:20 pm
Selamat Siang pak Pray,Senang sekali membaca ulasan-ulasan anda, mungkin saya agak melenceng dari apa yang di bahas anda saat ini.Saya hanya tergelitik mengenai keputusan MK tentang calon terpilih anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota menggunakan suara terbanyak. Kalau bisa Pak Pray ulas secara mendalam mengenai keputusan ini, dampak apa saja yang mungkin terjadi pada masa depan perpolitikan kita. Saya jadi berpikir, dengan keputusan ini maka di masa yang akan datang jumlah partai politik di Indonesia akan lebih sedikit, karena orang tidak lagi perlu mengejar nomor urut dan saya kira fungsi DPD sudah tidak perlu lagi, toh anggota DPR RI yang terpilih berdasarkan suara terbanyak sudah merupakan presentasi masyarakat di daerah. Karena tidak mungkin seseorang terpilih menjadi anggota DPR RI apabila tidak mempunyai basis masa yang luas di daerah pemilihannya seperti masa lalu.Salam.
Prayitno Ramelan,
— 11 Januari 2009 jam 5:30 pm
Mas Ibas, entah umur anda berapa saya pangggil Mas saja ya, karena sy sudah simbah2 nih, biasanya kalau memanggil anak terkecilpun dengan tambahan Mas. Saya kira anda juga bukan putranya pak SBY yg terkecil, Eddy Baskoro, panggilannya juga “Ibas”. Saya senang dan bersyukur kalau anda suka dengan ulasan2 yg saya buat, karena tujuannya sebagai sumbang pemikiran saja tentang gambaran politik dinegara kita, tanpa ada rasa keberpihakan sedikitpun. Itu ya Mas Ibas posisi saya. Tentang keputusan Mahkamah konstitusi tentang menggunakan suara terbanyak yang menggantikan nomor urut, wah ini jelas menggentarkan para caleg2 yang sudah didaftarkan akan maju.
Pengaruhnya sangat2 besar, karena selain caleg suatu parpol bersaing denga caleg parpol lain, juga terjadi persaingan diinternal parpol itu sendiri. Mereka juga agak gentar menghadapi persaingan popularitas dengan artis-artis politik. Bahkan muncul pendapat kalau mereka nanti jadi, maka mereka merasa suksesnya bukan karena parpolnya, tapi karena upayanya sendiri. Nah bisa kesetiaan kpd parpolnya bisa tidak 100%, karena yg dikejar adalah posisi jabatan, fasilitas yg dia terima, belum lagi mungkin saja ada target harus mengembalikan modal yg sudah dikeluarkan…ini gosip2 sih. Nanti deh mungkin suatu saat bisa diulas lebih jauh ya.
Jumlah parpol pada masa mendatang saya kira kemungkinan juga akan semakin sedikit, karena UU yang dibuat demikian beratnya bagi sebuah parpol untuk dapat terus eksis. Tentang DPD saya kira akan tetap ada, karena UU menentukan demikian, DPD adalah bagian dari Trias politika dalam fungsi legislatif disamping MPR dan DPR, kita kan juga meniru faham demokrasi dinegara Barat sana, ada senat dan kongres. Walaupun topik bahasan bukan tentang DPD, tidak ada salahnya deh kita refresh sedikit tentang DPD ya :
Dewan Perwakilan Daerah (disingkat DPD) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang anggotanya merupakan perwakilan dari setiap provinsi yang dipilih melalui Pemilihan Umum. DPD memiliki fungsi : Pengajuan usul, ikut dalam pembahasan dan memberikan pertimbangan yang berkaitan dengan bidang legislasi tertentu. Pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang tertentu. Anggota DPD dari setiap provinsi adalah 4 orang. Dengan demikian jumlah anggota DPD saat ini adalah 128 orang. Masa jabatan anggota DPD adalah 5 tahun, dan berakhir bersamaan pada saat anggota DPD yang baru mengucapkan sumpah/janji.
Tugas dan wewenang yang penting menurut saya adalah “Mengajukan kepada DPR Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran, dan penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam, dan sumber daya ekonomi lainnya serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. DPR kemudian mengundang DPD untuk membahas RUU tersebut.”
Oleh karena itu karena karena sistem di Indonesia sudah menentukan demikian, maka untuk menghilangkan fungsi DPD kelihatannya akan sangat sulit, rapat2nya pasti lamaaaa sekali….itu posisi yang bagus juga kan?. Saya kira demikian ya Mas Ibas. Salam.Pray.
anto,
— 12 Januari 2009 jam 12:18 pm
Selamat siang Pak Pray..Kalo menurut saya pak, karakter kita nih biasanya suka “heboh” di saat-saat terakhir..Kalo ada ujian belajarnya sistem kebut semalam, bikin tugas juga suka deket-deket batas akhir, nyampaiin spt mepet 31 maret, yang terbaru kemarin Sunset Policy nya DJP heboh di akhir tahun sampai akhirnya diperpanjang…Saat pemilu nanti juga saya yakin akan terjadi hal seperti ini, siapa yang hebat di saat-saat terakhir dialah yang menjadi pemenang…Saya sendiri sih lebih berharap yang paling “heboh” itu KPU pak pray. Berkampanye agar setiap orang berlomba-lomba menggunakan hak pilihnya. Jadi setiap orang sadar bahwa dengan hak pilihnya dia bisa menentukan nasib negaranya.Maaf pak pray, hanya pendapat pribadi, terinspirasi dari filmnya Kevin Costner, “Swing Vote”
Prayitno Ramelan,
— 12 Januari 2009 jam 5:20 pm
Mas Anto, Selamat sore…baru bisa balas nih, bagus sekali pendapatnya tu…Iya betul, kalau kampanye jelas akan heboh saat-saat terakhir, karena banyak yang berfikir itulah saat yang paling tepat, tapi ada yang lupa bahwa sesuatu yang terburu-buru didunia perpolitikan bukan cara yang tepat. Kini masyarakat lebih “melek” politik, sejak keran kebebasan dibuka, secara tidak sadar bangsa ini memiliki kemajuan, ya belajar politik, belajar dari globalisasi, belajar neoliberalisme, belajar menjadi kapitalisme, belajar berdemo, belajar merubuhkan pagar, belajar bakar ban, mogok makan…pokoknya belajar macam-macam. Oleh karena itu, kalau para elit parpol waspada, pembentukan citra dan opini tidak bisa dikerjakan dalam waktu yang sangat pendek, tetapi butuh waktu yang lama. Apa yang akan dilihat rakyat pada akhirnya…konsep capres itu, nah kalau tadinya tidak pernah bicara dan mempraktekkan konsepnya…maka rakyat akan bisa menterjemahkan…partai ini pasti hanya akan membohongi saja, janji manis saat pemilu, tujuannya merebut kekuasaan. Saya setuju sekali agar KPU yjuga harus heboh, bagaimana meminimalisir Golput. Saya belum nonton Swing Vote nya Kevin Costner tu..bagus ya??Saya pernah membuat artikel tentang Golkar, karena terispirasi filmnya Kevin Costner “The Bodyguard”. Begitua dulu ya Anto.Salam>Pray.
nda ndot,
— 12 Januari 2009 jam 10:40 pm
malem pak Pray,
wah akhirnya sempet juga nulis komen nya.memang sampai saat ini bisa dibilang hanya megawati satu2nya capres penantang incumbet yang paling poluper dibanding kandidat lain. nama besar bung karno dan ter-kuyo2 nya mega di masa orde baru adalah faktor terbesar yang menyebabkan mega mendapat tempat di masyarakat. terlebih lagi trade mark pdip sebagai partai wong cilik adalah faktor lain, meski trade mark ini bisa dikatakan hanya label saja.
dalam suatu course tentang cross culture, saya mendapati bahwa masyarakat indonesia adalah “masyarakat masa lalu” yang senang mengenang kebesaran masalalu. kejayaan majapahit, kebesaran sriwijaya, darah biru, anak si anu, keturunan si itu dsb. begitu bangganya pada masa lalu sering kita lupa bahwa kita tidak sejaya majapahit, tidak sebesar sriwijaya, si anu tidak sehebat buyutnya dsb. bahkan ada orang yang berani mengajukan diri menjadi pemimpin bangsa ini hanya karena dia menikah dengan cucu salah satu pahlawan besar negeri ini….!!!
mestinya kita lebih rasional, bahwa yang dihadapi bangsa ini adalah krisis multidimensi yang tak berkesudahan, yang kita butuhkan adalah pemimpin yang benar2 tangguh dan berkomitmen pada rakyat.
kans megawati akan tetap besar mengingat kultur masyarakat kita. akan tetapi seiring makin cerdasnya masyarakat kita, tentu ini akan menjadi tantangan sendiri untuk megawati dan pdip nya. mega harus mampu meyakinkan publik akan kapabilitasnya yang banyak diragukan berbagai kalangan. tak kurang, wapres JK menyatakan salah satu sebab kekalahan mega pada pemilu 2004 adalah kurangnya mega tampil di debat publik. bahkan prof. tjipta lesmana dalam bukunya, “dari soekarno sampai sby : intrik dan lobi politik para penguasa” mengungkapkan bahwa daya konsentrasi mega dalam berdiskusi yang menyangkut rakyat atau pekerjaan nya sebagai presiden sangatlah terbatas. mega justru lebih tahan jika ngobrol masalah shoping dan berkebun.jika ini masih terjadi, maka tak ada gunanya popularitas kosong yang bersandar pada kebesaran masa lalu. sekali lagi, sekarang kita butuh pemimpin tangguh, karena tantangan ke depan makin berat, dan kita menggantungkan harapan, bahkan hidup kita pada pemimpin yang kita pilih.
oleh karena itu, mega dan pdip harus membuktikan kepada publik bahwa ia memang layak memimpin negeri ini karena ia capable, mampu melaksanakan tugas2 mahaberat sebagai pemimpin negeri yang carut marut ini.
Prayitno Ramelan,
— 13 Januari 2009 jam 6:41 pm
Nda Ndot, terima kasih tanggapannya, memang selama ini banyak fihak selalu mengatakan bahwa Mega itu kurang capable, kurang bisa bicara, nah dia pernah muncul di Kick Andy, mencoba mengatakan inilah aku…menurut saya boleh juga beliau menjawab pertanyaan2 berat dari Andy Noya. Memang yang sebaiknya kita pilih adalah pemimpin, kita bukan mau memilih seorang rektor universitas kan yg harus bergelar ini dan itu. Tapi kita akan memilih seorang pemimin yang bijaksana, mengerti tentang permasalahan bangsa ini dan pemimpin yang bisa mengambil keputusan bagaimana yang terbaik. Jelas pemimpin sebuah bangsa tidak akan mampu menguasai semua masalah kan, seorang ekonom belum tentu mampu apabila kita ajak berdiskusi mengenai masalah politik. Saya pikir ya Nda Ndot (kok lucu sekali sih namanya?), kita harus memilih pemimpin, mau tidak mau siapa nanti yang akan maju, itulah pilihan yang harus diambil, pemimpin yang mampu memimpin, kalau yg ahli ya dipilih dari para ilmuwan disini. Nah, nanti katanya akan ada acara debat terbuka atau apalah, semacam pemaparan visi, misi….disitu akan terlihat, siapa calon yang pantas menjadi pemimpin, paling tidak dia tahu apa masalah mendasar dari bangsa ini, dan bagaimana konsepnya. Dia tdk usah menerangkan sampai detail angka-angka….tapi mengetahui semua masalah baik IPOLEKSOSBUD Hankam, kalau dia tidak faham secara garis besar….ya forget it kali Ndot. Salam>Pray.
Jumat, 09 Januari 2009
Mega Mulai Mengimbangi SBY

Oleh : Prayitno Ramelan - 20 Desember 2008
Sumber : kompasiana,com- Dibaca 751 Kali
Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang disampaikan oleh Denny JA pada (19/12) menyebutkan bahwa PDIP kembali menempati posisi sebagai partai pilihan rakyat nomor satu dengan 31,0%, Partai Demokrat di posisi kedua dengan 19,3% dan Partai Golkar diposisi ketiga mendapat 11,9%. Menurut Denny, kini muncul persepsi negatif terhadap SBY dalam bidang ekonomi, masyarakat yang merasa ekonominya semakin sulit lebih banyak (35,2%) dibandingkan yang merasa ekonomi semakin baik.
Lebih khusus muncul ketidak puasan masyarakat dalam pemenuhan terhadap sembako yang harganya semakin mahal. Sekitar 63% masyarakat menganggap pemerintahan SBY gagal dalam pemenuhan kebutuhan atas sembako. Selain itu responden juga menyatakan kecewa terhadap pemenuhan kebutuhan atas kesempatan kerja yang dianggap tidak berhasil (61,4%), yang mengganggap berhasil 33,7%. Pemerintahan SBY dianggap berhasil di bidang kesehatan (74,1%) dan pendidikan (68,3%). Kepuasan tertinggi dibidang keamanan (75%), bidang hukum (68%).Dibidang ekonomi kepuasan hanya 36,7%, yang tidak puas 59,5%. Dalam bidang ekonomi ini popularitas SBY mengalami defisit kepuasan hingga 22,8%.
SBY dinilai masih mendapat apresiasi positif dari publik sebagai presiden pilihan apabila capresnya hanya berdua dengan Megawati. Jika calonnya hanya dua maka sebanyak 42,9% publik akan memilih SBY, sementara Megawati dipilih oleh 40,7%.
Dari data survei Lingkaran Survei Indonesia tersebut terlihat bahwa PDIP dengan mengiklankan masalah sembako murah telah kembali terangkat keposisi teratas hingga 31%. Rekor ini dinilai cukup tinggi dan positif dalam persiapan menghadapi pemilu 2009 nanti. Sementara Partai Demokrat dengan perolehan yang memperoleh dukungan 19,3% semakin memperlihatkan kelasnya untuk mencoba merebut posisi sebagai parpol papan atas. Partai Demokrat terlihat mulai menggeser kedudukan Partai Golkar yang mulai terpuruk ke posisi ketiga agak jauh dari posisi kedua.
Sementara ini diperkirakan kemungkinan keterpuruknya Golkar disebabkan karena timbulnya konflik internal, dimana ada empat kadernya yang mencalonkan diri sebagai capres diluar struktur partai. Para pemilih kini terlihat jenuh dengan konflik pada parpol, yang jelas menurunkan pencitraan. Suatu hal yang perlu dilakukan Golkar untuk mendongkrak suara adalah dengan mengimbangi upaya mengiklankan partai di media massa. PDIP dan Demokrat yang secara konsisten sudah bermain disektor iklan sejak beberapa waktu belakangan ini terlihat lebih menonjol dan stabil.
Dalam masalah pemilihan calon presiden, Megawati yang apabila diadu secara “head to head” dengan SBY walaupun masih kalah, terlihat mulai mengimbangi. Kerawanan SBY yang perlu mendapat perhatian terletak pada turunnya kepuasan publik atas masalah ekonomi, karena menurut survei LSI publik menganggap isu pentingnya kesejahteraan ekonomi mencapai 72,7%, isu korupsi (hukum) hanya 12,5% dan isu keamanan hanya 4,1%. Dengan kondisi perekonomian global yang diperkirakan akan semakin sulit, menurut pengamat ekonomi juga akan berimbas kepada perekonomian Indonesia, maka isu ini sangat perlu mendapat perhatian utama dari kubu SBY. Menurunnya dukungan publik terhadap SBY dalam masalah ekonomi akan menaikkan dukungan terhadap Megawati yang mulai lebih taktis mensikapi perkembangan situasi.
Pemilu masih tersisa sekitar tiga bulan lebih, kini mulai terlihat gambaran persepsi kekuatan parpol yang akan menduduki papan atas dan kekuatan capres yang sementara ini masih didominasi oleh dua kubu SBY dan Megawati yang masih ketat dalam persaingan. PDIP terlihat mulai lebih menemukan “ritme” baik menghadapi pemilu legislatif maupun pilpres. Mendatang, kubu yang pandai dan piawai dalam membaca perkembangan situasi dan mengangkat “kunci” melalui media massa lah yang akan memenangkan peperangan. Kunci tersebut adalah “masalah perekonomian”.
PRAYITNO RAMELAN.Guest Blogger Kompasiana.
20 tanggapan untuk “Mega Mulai Mengimbangi SBY”
ayi,
— 20 Desember 2008 jam 3:00 pm
ah Ibu, semakin memahami tebar Pesona yang ibu ciptakan sendiri, inget dong zamannya ibu mega jadi presiden ?Iklan Sembako murah akan jadi obral mual aja ..kebiasaan PDIP kan begitu.Saat ini masih blm ada yg lebih baik daripada SBY, aku nunggu yg lebih baik kalo ada.daripada bu Mega… mendingan milih bu RT saya, orangnya jujur ndak kayak ibu.
— 20 Desember 2008 jam 3:00 pm
ah Ibu, semakin memahami tebar Pesona yang ibu ciptakan sendiri, inget dong zamannya ibu mega jadi presiden ?Iklan Sembako murah akan jadi obral mual aja ..kebiasaan PDIP kan begitu.Saat ini masih blm ada yg lebih baik daripada SBY, aku nunggu yg lebih baik kalo ada.daripada bu Mega… mendingan milih bu RT saya, orangnya jujur ndak kayak ibu.
ari,
— 20 Desember 2008 jam 6:02 pm
Ah ibu Mega belum pernah terlihat cerdas saat berbicara. Hanya bicara tolong pilih yang cantik saja. Coba sekali-kali bicara ekonomi, teknologi or rencana masa depan buat Indonesia.
— 20 Desember 2008 jam 6:02 pm
Ah ibu Mega belum pernah terlihat cerdas saat berbicara. Hanya bicara tolong pilih yang cantik saja. Coba sekali-kali bicara ekonomi, teknologi or rencana masa depan buat Indonesia.
adi,
— 20 Desember 2008 jam 6:21 pm
lebih baik sby, ha ha ha ha ha, bagiku ngak ada yang lebih baik, baik sby maupun mega,gusdur ataupun habibie, dan terutama suharto, ngak ada yang lebih baik, mereka sama2 jelek di maataku
— 20 Desember 2008 jam 6:21 pm
lebih baik sby, ha ha ha ha ha, bagiku ngak ada yang lebih baik, baik sby maupun mega,gusdur ataupun habibie, dan terutama suharto, ngak ada yang lebih baik, mereka sama2 jelek di maataku
Junanto Herdiawan,
— 20 Desember 2008 jam 6:46 pm
Pak Prayit, ini sebenarnya yang menjadi ciri khas pemilih kita. “Easy to forget and forgive”. Mungkin mbak Ayi banyak benarnya. Suasana kekinian yang dibangun melalui harapan dalam iklan, kata-kata, dan janji, lebih mengedepan ketimbang mengingat hal-hal nyata yang pernah ada di masa lalu. Mungkin ini yang dimaksud para psikolog dengan “psychological present tense”. Secara psikologis kita selalu berada di suasana masa kini, tanpa punya konteks histori dan visi. Mega sudah pernah jadi presiden, Gus Dur juga sudah pernah jadi presiden, dan SBY saat ini presiden. Rasionya kita sudah bisa membaca karena semua ada. Menurut hukum alam, tak akan jauh hasilnya nanti. Tapi pak, inilah realita kita di jaman serba bungkusan. Seperti kata bapak, membaca perkembangan situasi dan mengangkat “kunci” melalui media massa lah yang akan memenangkan peperangan. Bukan hanya “kunci”, tapi “media massa” melalui periklanan menjadi penting, terlepas dari apa yang dikerjakan. Mudah-mudahan siy tidak begitu ya pak. Kita mencari pemimpin yang bukan hanya bungkusan, tapi juga yang dalemnya bagus. Kalau tidak, Indonesia hanya akan sekedar utopia…
— 20 Desember 2008 jam 6:46 pm
Pak Prayit, ini sebenarnya yang menjadi ciri khas pemilih kita. “Easy to forget and forgive”. Mungkin mbak Ayi banyak benarnya. Suasana kekinian yang dibangun melalui harapan dalam iklan, kata-kata, dan janji, lebih mengedepan ketimbang mengingat hal-hal nyata yang pernah ada di masa lalu. Mungkin ini yang dimaksud para psikolog dengan “psychological present tense”. Secara psikologis kita selalu berada di suasana masa kini, tanpa punya konteks histori dan visi. Mega sudah pernah jadi presiden, Gus Dur juga sudah pernah jadi presiden, dan SBY saat ini presiden. Rasionya kita sudah bisa membaca karena semua ada. Menurut hukum alam, tak akan jauh hasilnya nanti. Tapi pak, inilah realita kita di jaman serba bungkusan. Seperti kata bapak, membaca perkembangan situasi dan mengangkat “kunci” melalui media massa lah yang akan memenangkan peperangan. Bukan hanya “kunci”, tapi “media massa” melalui periklanan menjadi penting, terlepas dari apa yang dikerjakan. Mudah-mudahan siy tidak begitu ya pak. Kita mencari pemimpin yang bukan hanya bungkusan, tapi juga yang dalemnya bagus. Kalau tidak, Indonesia hanya akan sekedar utopia…
Prayitno Ramelan,
— 20 Desember 2008 jam 7:09 pm
@Ayi, pada saat ini sedang musim kampanye…jelas semua partai akan membeberkan semua terbaik apa yg bisa mereka berikan dan janjikan pada m,asa mendatang…itulah relita dinegara kita, nanti saja kita lihat, siapa yg menang…apakah benar atau seperti lagu lama yg berbunyi “janji palsu belaka, manis dimulut saja, pandai mainkan lidah”…semoga tidak begitu harapan kita ya. Mari kita doa bangsa ini akan mendapat pemimpin terbaik yg mendapat ridho dan perlindungan Allah SWT. Tks ya tanggapannya>salam>Pray.
— 20 Desember 2008 jam 7:09 pm
@Ayi, pada saat ini sedang musim kampanye…jelas semua partai akan membeberkan semua terbaik apa yg bisa mereka berikan dan janjikan pada m,asa mendatang…itulah relita dinegara kita, nanti saja kita lihat, siapa yg menang…apakah benar atau seperti lagu lama yg berbunyi “janji palsu belaka, manis dimulut saja, pandai mainkan lidah”…semoga tidak begitu harapan kita ya. Mari kita doa bangsa ini akan mendapat pemimpin terbaik yg mendapat ridho dan perlindungan Allah SWT. Tks ya tanggapannya>salam>Pray.
@ Yunanto, tks koment nya. saya setuju, kalau pemimpin akan sulit berubah, karena masing2 mempunyai kepribadian, habbit, karakter yg sudah terbentuk dan dimilikinya sejak dia kecil. Jadi ya kira2 akan tidak jauh plus minusnya kalau dia nanti menang pada 2009, kecuali ada sebuah stimulus yang demikian mempengaruhinya, baru dia akan berubah. Ttg kunci yg saya sebutkan tadi, adalah sebuah realita, dalam konteks pertempuran demi pertempuran yg harus dimenangkan oleh masing2 parpol, hanya menilai saja kok Yun,sebagai pihak luar yg ikut mengamati dan mencoba membahas, dimana letak kuncinya agar para petarung lebih mawas diri dan waspada….Yg kuat di media massa yg akan mendominasi, karena inilah perkembangan dan kemajuan jaman. Memang saya setuju sekali yg kita cari adalah pemimpin yang benar2 mampu, mempunyai dedikasi, loyalitas, pengabdian, rela berkorban, berjanji kepada dirinya dan Tuhan akan membawa bangsa ini menuju ke cita-cita luhur, makmur dan sejahtera…kembali saya tulis nij..gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo. Gitu ya…Salam>Pray.
lufki,
— 20 Desember 2008 jam 7:10 pm
Saya setuju dengan 2 saudara di atas…kalau kita mau jujur sama diri kita sendiri tanpa di campur adukkan dengan isu politik dan saya sendiri bukan orang dari partai manapun. dari Presiden kita yang pertama sampai yang sekarang bisa dilihat secara riil dan konkrit hasil kerja mereka masing2. dan saya melihat kalau Presiden kita yang sekarang masih lebih baik dari para pendahulunya terutama maaf kalau saya berterus terang..jauh lebih baik dari kepemimpinan Gusdur dan Mega dulu. yang hanya bisa ngomong dan mengkritik tetapi ketika dihadapkan dengan masalahnya malah bingung sendiri dan lupa sama janji2 mereka waktu kampanye sebelum jadi Presiden. jadi untuk saya biarkan Presiden kita yang sekarang ini yaitu SBY untuk menyelesaikan Semua Program2 serta Visi dan Misi yang di Rancang sedemikian rupa yaitu 4 tahun mendatang..dan walaupun saya tidak bisa membaca hati dan pikiran Presiden SBY tapi saya merasa bahwa beliau lebih serius, bersih, tegas, bijaksana, dan tenang dalam menyesaikan berbagai masalah di negara yang kita cintai ini dan yang lebih utama dia selalu mengutamakan takut TUHAN…Insya Allah kalau Pemimpin kita takut TUHAN mereka akan lebih hati2 dalam menjalankan Amanat dari Rakyat indonesia ini yang akan dipertanggung jawabkan di AKhirat nanti…sekali lagi saya tekankan saya ini bukan orang partai demokrat saya hanya melihat hasil kerja para presiden kita yang dulu dan sekarang dan saya juga saat ini sedang berdomisili di USA dan banyak juga saudara2/i kita disini merasa lebih puas dan percaya dengan kepemimpinan SBY..
— 20 Desember 2008 jam 7:10 pm
Saya setuju dengan 2 saudara di atas…kalau kita mau jujur sama diri kita sendiri tanpa di campur adukkan dengan isu politik dan saya sendiri bukan orang dari partai manapun. dari Presiden kita yang pertama sampai yang sekarang bisa dilihat secara riil dan konkrit hasil kerja mereka masing2. dan saya melihat kalau Presiden kita yang sekarang masih lebih baik dari para pendahulunya terutama maaf kalau saya berterus terang..jauh lebih baik dari kepemimpinan Gusdur dan Mega dulu. yang hanya bisa ngomong dan mengkritik tetapi ketika dihadapkan dengan masalahnya malah bingung sendiri dan lupa sama janji2 mereka waktu kampanye sebelum jadi Presiden. jadi untuk saya biarkan Presiden kita yang sekarang ini yaitu SBY untuk menyelesaikan Semua Program2 serta Visi dan Misi yang di Rancang sedemikian rupa yaitu 4 tahun mendatang..dan walaupun saya tidak bisa membaca hati dan pikiran Presiden SBY tapi saya merasa bahwa beliau lebih serius, bersih, tegas, bijaksana, dan tenang dalam menyesaikan berbagai masalah di negara yang kita cintai ini dan yang lebih utama dia selalu mengutamakan takut TUHAN…Insya Allah kalau Pemimpin kita takut TUHAN mereka akan lebih hati2 dalam menjalankan Amanat dari Rakyat indonesia ini yang akan dipertanggung jawabkan di AKhirat nanti…sekali lagi saya tekankan saya ini bukan orang partai demokrat saya hanya melihat hasil kerja para presiden kita yang dulu dan sekarang dan saya juga saat ini sedang berdomisili di USA dan banyak juga saudara2/i kita disini merasa lebih puas dan percaya dengan kepemimpinan SBY..
Prayitno Ramelan,
— 20 Desember 2008 jam 7:35 pm
@Ari, Nah Ari nanti ada waktunya pada saat acara debat menjelang pilpres, setelah pemilu legislatif, kita tunggu dan lihat bagaimana ya. Tks ya.Pray
— 20 Desember 2008 jam 7:35 pm
@Ari, Nah Ari nanti ada waktunya pada saat acara debat menjelang pilpres, setelah pemilu legislatif, kita tunggu dan lihat bagaimana ya. Tks ya.Pray
@Adi, saya percaya ini mesti golput, ya kini sih boleh menurut UU, memilih untuk tidak ikut memilih, tapi kalau nanti dinyatakan golput “haram” wah…, mosok jadi golput mesti masuk neraka ya. Pray.
@Lufki yg di AS, terima kasih tanggapannya. Memang kalau kita menilai kemampuan presiden SBY, terlebih saat berada di luar negeri wah presiden kita ini bisa dibanggakan, bahasa Inggrisnya faseh, mampu bergaul dan menempatkan diri dalam pergaulan internasional. Pendek kata pinter…tapi ya Lufki pada kenyataannya rakyat kita yg memang membutuhkan pemimpin pintar, kebanyakan justru konstituen berada dibawah garis rata2 pendidikan, maksudnya banyak yg kurang melek huruf dan kurang melek politik. Merekalah ini yg akan menentukan dan memilih siapa pemimpin kita dimasa mendatang. Jadi kita harus mendasarkan kepada realitas yg ada ya Lufki,kondisinya memang begitu. Kini ada dua calon terkuat, SBY dan Mega, dan masing2 punya strategi pemenangan sendiri2. Jadi kita sebagai orang yg tidak terlibat langsung akan melihat perjalanan bangsa ini pada th 2009. Saya di Kompasiana hanya berdedikasi memberikan sebuah informasi dan sedikit analisa sedikit dari kemampuan saya, dengan tidak memihak, “jujur”, agar para netter dan pembaca dimanapun berada mempunyai gambaran tentang situasi yang sedang berlangsung, tanpa informasi, artinya kita berjalan dilorong yg gelap, bisa kesasar tuh…Itu saja kok Lufki, dengan harapan semoga isi Kompasiana ini bermanfaat bagi kita semua…saya melihat apa yg saya kerjakan sebagai bagian dari ibadah saya pada usia senja ini. OK, salam>Pray.
Novrita,
— 20 Desember 2008 jam 9:15 pm
Waduuh..waduuh.. baru lihat dari hasil survei saja kok sudah banyak yang mencela bu Mega. Saya sendiri bukan pengagum beliau dan bukan juga simpatisan PDIP, tapi kok kasihan kalau banyak yang mencela para mantan presiden kita. Susah lho jadi presiden Indonesia itu…
Seperti yang ada di komentar pak Pray bahwa “pada kenyataannya rakyat kita yg memang membutuhkan pemimpin pintar, kebanyakan justru konstituen berada dibawah garis rata2 pendidikan, maksudnya banyak yg kurang melek huruf dan kurang melek politik. Merekalah ini yg akan menentukan dan memilih siapa pemimpin kita dimasa mendatang. ” saya jadi khawatir kalau para pemilih yang kebanyakan kurang melek politik akan memilih pemimpin yang salah. (Semoga tidak ya…)Dengan adanya pemasangan iklan yang bagus dan gencar, seseorang bisa menokohkan dirinya sebagai yang terbaik dan menancapkan hal tersebut di benak orang-orang yang menontonnya(saya gak tahu apa istilahnya tentang hal ini. Apakah secara psikologis orang seperti dihipnotis…? ). Ada beberapa tokoh yang membuat iklan yang bagus yang selalu tayang di layar kaca, dan tentu saja hal tersebut memakan biaya yan amat besar. Saya akui iklan tersebut amat bagus dan menarik untuk dilihat. Tapi apakah cukup hanya dengan melihat tontonan tersebut kita akan menilai bahwa tokoh tertentu adalah yang paling baik untuk bisa memimpin Indonesia..?Saya jadi sedih kalau para pemilih di negeri ini cuma terpukau dari tontonan di media dan iklan2 saja tanpa menilisik lebih dalam. Takut kalau mereka nanti salah pilih, yang kecewa kan juga mereka sendiri nantinya…
— 20 Desember 2008 jam 9:15 pm
Waduuh..waduuh.. baru lihat dari hasil survei saja kok sudah banyak yang mencela bu Mega. Saya sendiri bukan pengagum beliau dan bukan juga simpatisan PDIP, tapi kok kasihan kalau banyak yang mencela para mantan presiden kita. Susah lho jadi presiden Indonesia itu…
Seperti yang ada di komentar pak Pray bahwa “pada kenyataannya rakyat kita yg memang membutuhkan pemimpin pintar, kebanyakan justru konstituen berada dibawah garis rata2 pendidikan, maksudnya banyak yg kurang melek huruf dan kurang melek politik. Merekalah ini yg akan menentukan dan memilih siapa pemimpin kita dimasa mendatang. ” saya jadi khawatir kalau para pemilih yang kebanyakan kurang melek politik akan memilih pemimpin yang salah. (Semoga tidak ya…)Dengan adanya pemasangan iklan yang bagus dan gencar, seseorang bisa menokohkan dirinya sebagai yang terbaik dan menancapkan hal tersebut di benak orang-orang yang menontonnya(saya gak tahu apa istilahnya tentang hal ini. Apakah secara psikologis orang seperti dihipnotis…? ). Ada beberapa tokoh yang membuat iklan yang bagus yang selalu tayang di layar kaca, dan tentu saja hal tersebut memakan biaya yan amat besar. Saya akui iklan tersebut amat bagus dan menarik untuk dilihat. Tapi apakah cukup hanya dengan melihat tontonan tersebut kita akan menilai bahwa tokoh tertentu adalah yang paling baik untuk bisa memimpin Indonesia..?Saya jadi sedih kalau para pemilih di negeri ini cuma terpukau dari tontonan di media dan iklan2 saja tanpa menilisik lebih dalam. Takut kalau mereka nanti salah pilih, yang kecewa kan juga mereka sendiri nantinya…
Saya sangat cinta negeri ini… saya berharap bahwa siapapun presidennya bisa membawa kebaikan negeri ini. Partai apapun (yang termasuk mayoritas) bisa menampung dan menyalurkan jeritan hati rakyat Indonesia.Saya berharap bahwa semua partai …semua calon presiden.. semua calon pemimpin bangsa…mempunyai niat yang tulus dan ikhlas untuk mengemban amanah menjaga dan menuntun bangsa ke masa depan yang makmur sejahtera. Jangan ada yang MEMANFAATKAN ‘rasa nasionalisme’nya untuk kekuasaan semata.
Mudah-mudahan 2009 rakyat Indonesia tidak salah pilih dan kita bisa mendapatkan pemimpin yang tangguh, cerdas, mumpuni dan disegani semua bangsa. Amiin..
Mudah-mudahan 2009 rakyat Indonesia tidak salah pilih dan kita bisa mendapatkan pemimpin yang tangguh, cerdas, mumpuni dan disegani semua bangsa. Amiin..
Prayitno Ramelan,
— 20 Desember 2008 jam 10:17 pm
Novrita, terima kasih ya tanggapannya. Yah memang demikian kalau kita membicarakan masalah politik itu, ada pro kontra ada suka dan tidak suka, pokoknya banyak sekali pernak dan perniknya. Ada yg suka Pak SBY, ada yg suka Bu Mega, demikian juga sebaliknya. Tapi apapun kata orang maka masa depan bangsa ini akan ditentukan lagi pada bulan April dan Juli 2009, oleh sebahagian besar dari kita, setuju atau tidak pemilu dan pilpres akan tetap dilaksanakan. Yg saya katakan tadi memang sebenarnya sebahagian besar pemilih berada di level agak bawah, 60% pemilih berada di pulau Jawa. Nah, kini di kompasiana kan boleh dikatakan pembaca, terlebih penanggap adalah orang2 yg cukup terpelajar, mengerti tentang politik, lihat saja komentar2nya. Kini, saya memberikan informasi yg perlu diketahui oleh para netters agar tidak salah membaca situasi dan kondisi yg sedang berlaku…kenapa?karena saya menulis hanya mendedikasikan pikiran dan sedikit apa yg saya miliki tanpa adanya pengaruh dari siapapun. Maaf, mungkin agak berbeda dengan beberapa yg memang menulis karena adanya suatu kepentingan. Itu ya Novrita. Terus memang kenyataan sekarang seperti tulisan saya terdahulu sedang terjadi silent revolution, dimana media sangat berperan dalam kompetisi ini. Saya sangat menghargai tanggapan akhir anda, mudah2an rakyat tidak salah dalam memilih dan kita mendapatkan pemimpin yang tangguh, cerdas dan mumpuni…(bersumpah kepada Allah akan memajukan dan mensejahterakan bangsa ini). Salam.Pray
— 20 Desember 2008 jam 10:17 pm
Novrita, terima kasih ya tanggapannya. Yah memang demikian kalau kita membicarakan masalah politik itu, ada pro kontra ada suka dan tidak suka, pokoknya banyak sekali pernak dan perniknya. Ada yg suka Pak SBY, ada yg suka Bu Mega, demikian juga sebaliknya. Tapi apapun kata orang maka masa depan bangsa ini akan ditentukan lagi pada bulan April dan Juli 2009, oleh sebahagian besar dari kita, setuju atau tidak pemilu dan pilpres akan tetap dilaksanakan. Yg saya katakan tadi memang sebenarnya sebahagian besar pemilih berada di level agak bawah, 60% pemilih berada di pulau Jawa. Nah, kini di kompasiana kan boleh dikatakan pembaca, terlebih penanggap adalah orang2 yg cukup terpelajar, mengerti tentang politik, lihat saja komentar2nya. Kini, saya memberikan informasi yg perlu diketahui oleh para netters agar tidak salah membaca situasi dan kondisi yg sedang berlaku…kenapa?karena saya menulis hanya mendedikasikan pikiran dan sedikit apa yg saya miliki tanpa adanya pengaruh dari siapapun. Maaf, mungkin agak berbeda dengan beberapa yg memang menulis karena adanya suatu kepentingan. Itu ya Novrita. Terus memang kenyataan sekarang seperti tulisan saya terdahulu sedang terjadi silent revolution, dimana media sangat berperan dalam kompetisi ini. Saya sangat menghargai tanggapan akhir anda, mudah2an rakyat tidak salah dalam memilih dan kita mendapatkan pemimpin yang tangguh, cerdas dan mumpuni…(bersumpah kepada Allah akan memajukan dan mensejahterakan bangsa ini). Salam.Pray
henky,
— 20 Desember 2008 jam 10:57 pm
saya warga keturunan dan sudah 3 tahun ini sekolah di luar negeri.. Selama ini hidup di negara yang lebih maju, membuat hati saya berkata kapan negara saya bisa seperti ini…? Sangat disayangkan hingga saat ini negara kita masih terpuruk dari berbagai aspek kehidupan karena kita semua tahu negara Indonesia benar2 negara yang kaya akan SDA, itu kenyataan, seharusnya negara Indonesia bisa menjadi jauh lebih bae dan mungkin saja menjadi negara kuat di Asia, jika pengelolaanya dispilin. Yang saya harapkan siapapun presiden yang akan datang, benar2 bekerja keras dalam mengelola dan membawa ke jalur yang benar. Yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan, hukum masih harus lebih ditegaskan lagi! aturi aturan hukum dan PRAKTEKKAN! kalo bisa korupsi dihukum mati! karena korupsi di Indonesia benar2 sudah berakar dari atasan sampai bawahan. dari pusat sampai daerah. Sudah berapa banyak korupsi yang dilakukan koruptor Indonesia? Tidak ada yang mampu menjawabnya kan.. karena sudah benar2 keterlaluan! Negara kita menjadi melarat! menurut saya penegakkan hukum benar2 langkah pertama untuk kebangkitan Indonesia, harus tegas seperti hukum di malaysia ataupun brunei. Semoga saja dengan berlakunya hukum yang tegas untuk selanjutnya kita bisa mengerjakan pr2 laen, yaitu ekonomi, transportasi, pendidikan dan kesehatan. Setahap demi setahap. Untuk SBY, kalo saja terpilih lagi nanti, saya harapkan bapak SBY lebih tegas lagi dalam hukum dan di dalam pemerintahan itu sendiri. Maju Indonesia.
— 20 Desember 2008 jam 10:57 pm
saya warga keturunan dan sudah 3 tahun ini sekolah di luar negeri.. Selama ini hidup di negara yang lebih maju, membuat hati saya berkata kapan negara saya bisa seperti ini…? Sangat disayangkan hingga saat ini negara kita masih terpuruk dari berbagai aspek kehidupan karena kita semua tahu negara Indonesia benar2 negara yang kaya akan SDA, itu kenyataan, seharusnya negara Indonesia bisa menjadi jauh lebih bae dan mungkin saja menjadi negara kuat di Asia, jika pengelolaanya dispilin. Yang saya harapkan siapapun presiden yang akan datang, benar2 bekerja keras dalam mengelola dan membawa ke jalur yang benar. Yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan, hukum masih harus lebih ditegaskan lagi! aturi aturan hukum dan PRAKTEKKAN! kalo bisa korupsi dihukum mati! karena korupsi di Indonesia benar2 sudah berakar dari atasan sampai bawahan. dari pusat sampai daerah. Sudah berapa banyak korupsi yang dilakukan koruptor Indonesia? Tidak ada yang mampu menjawabnya kan.. karena sudah benar2 keterlaluan! Negara kita menjadi melarat! menurut saya penegakkan hukum benar2 langkah pertama untuk kebangkitan Indonesia, harus tegas seperti hukum di malaysia ataupun brunei. Semoga saja dengan berlakunya hukum yang tegas untuk selanjutnya kita bisa mengerjakan pr2 laen, yaitu ekonomi, transportasi, pendidikan dan kesehatan. Setahap demi setahap. Untuk SBY, kalo saja terpilih lagi nanti, saya harapkan bapak SBY lebih tegas lagi dalam hukum dan di dalam pemerintahan itu sendiri. Maju Indonesia.
Prayitno Ramelan,
— 20 Desember 2008 jam 11:58 pm
Hengky yang sedang sekolah di LN, terima kasih tanggapannya. memang betul kita mempunyai kekayaan yang diberikan Tuhan demikian banyaknya, tetapi banyak yg heran kenapa rakyat kita banyak yang miskin. Karena sistem, atau karena manusianya. diantaranya karena kasus korupsi. Dan juga saya setuju kalau Law Enforcement perlu ditegakkan, akan banyak membantu mensejahterakan bangsa ini. Saya kira itu ya keinginan anda.Ok Hengky, selamat menempuh pendidikan, semoga sukses. Salam>Pray.
— 20 Desember 2008 jam 11:58 pm
Hengky yang sedang sekolah di LN, terima kasih tanggapannya. memang betul kita mempunyai kekayaan yang diberikan Tuhan demikian banyaknya, tetapi banyak yg heran kenapa rakyat kita banyak yang miskin. Karena sistem, atau karena manusianya. diantaranya karena kasus korupsi. Dan juga saya setuju kalau Law Enforcement perlu ditegakkan, akan banyak membantu mensejahterakan bangsa ini. Saya kira itu ya keinginan anda.Ok Hengky, selamat menempuh pendidikan, semoga sukses. Salam>Pray.
mahendra,
— 21 Desember 2008 jam 9:56 am
kalau calon presiden presiden cuma SBY dan MEGA kayaknya kurang seru! gimana kalo ada presiden dr jalur independen? capresnya anak muda yg ganteng n cawaprenya sandra dewi (yang artis cantik itu loh?) pasti seru dech..! dari pada perseteruan 2 kandidat itu yang makin lama makin mbosenin juga kayaknya…
— 21 Desember 2008 jam 9:56 am
kalau calon presiden presiden cuma SBY dan MEGA kayaknya kurang seru! gimana kalo ada presiden dr jalur independen? capresnya anak muda yg ganteng n cawaprenya sandra dewi (yang artis cantik itu loh?) pasti seru dech..! dari pada perseteruan 2 kandidat itu yang makin lama makin mbosenin juga kayaknya…
Prayitno Ramelan,
— 21 Desember 2008 jam 1:45 pm
Mas Mahendra, sebenarnya bisa juga tuh ide, kan sudah mulai ada selebriti yg jadi politisi…kalau ada jalur independen…kenapa jauh2, saya mau nyalonkan orang kompasiana saja…itu ada mbak marissa guest blogger kita, terkenal, selebriti, intelektual, …mas pepih gimana nih?
— 21 Desember 2008 jam 1:45 pm
Mas Mahendra, sebenarnya bisa juga tuh ide, kan sudah mulai ada selebriti yg jadi politisi…kalau ada jalur independen…kenapa jauh2, saya mau nyalonkan orang kompasiana saja…itu ada mbak marissa guest blogger kita, terkenal, selebriti, intelektual, …mas pepih gimana nih?
balog helmi,
— 23 Desember 2008 jam 7:37 am
Saya sangat setuju dengan komentar Novrita,mari kita doakan agar pemilu tahun 2009 dapat berjalan lancar aman,tertip,bebas rahsia.Semoga dapat tepilih pimpinan yang dapat menyatupadukan rakyat Indonesia untuk menghadapi dampak badai krisis financial global di tahun-tahun mendatang.mulailah dari diri kita sendiri ,untuk dapat meningkatkan kepekaan krisis financial ini, sehingga minimal ekonomi keluarga tidak terjngkal, maaf komentarnya ngak nyambung ,tapi apa boleh buat inilah yg ada dalam pikiran saya yg cetek,
salam mas Pray dan Novrita, balog.
— 23 Desember 2008 jam 7:37 am
Saya sangat setuju dengan komentar Novrita,mari kita doakan agar pemilu tahun 2009 dapat berjalan lancar aman,tertip,bebas rahsia.Semoga dapat tepilih pimpinan yang dapat menyatupadukan rakyat Indonesia untuk menghadapi dampak badai krisis financial global di tahun-tahun mendatang.mulailah dari diri kita sendiri ,untuk dapat meningkatkan kepekaan krisis financial ini, sehingga minimal ekonomi keluarga tidak terjngkal, maaf komentarnya ngak nyambung ,tapi apa boleh buat inilah yg ada dalam pikiran saya yg cetek,
salam mas Pray dan Novrita, balog.
viant,
— 23 Desember 2008 jam 4:25 pm
suka gak suka gambaran semua pemimpin kita saat ini sama, atau mungkin bisa jadi saat ini seluruh pemimpin dunia ini sama, apa yang sama.. semua hanya menyelamatkan dirinya sendiri beserta kawan2nya (baik yang di partai atau luar partai), tapi rakyat kita juga begitu, giliran ada kampanye berbondong-bondong seakan-akan ikut mensukseskan kampanye (entah benar2 apa tidak) dengan segala atribut kesenangannya (hiburan, dangdut, game, dll..), tiba waktunya memilih blank akhirnya, akhirnya terpilihlah pemimpin asal2an. kita rakyat memang WAJIB untuk memilih pemimpin (apalagi seorang muslim), tapi perhatikanlah sebenar-benarnya…, jangan nanti sudah terpilih gak suka demo atau saat pemilihan gak mau ikut milih (golput katanya) tapi kalau di ajak demo ikut demo juga (ngerusak lagi), jadi kita ini sebagai rakyat yang menentukan pemimpin (katanya..) kapan kita mau belajar sebenar-benarnya agar pemimpin kita gak salah lagi nantinya, itu yang kita perlu sebagai rakyat (memahami sesuatu)dan informasi yang sejujur2nya dari calon pemimpin.
— 23 Desember 2008 jam 4:25 pm
suka gak suka gambaran semua pemimpin kita saat ini sama, atau mungkin bisa jadi saat ini seluruh pemimpin dunia ini sama, apa yang sama.. semua hanya menyelamatkan dirinya sendiri beserta kawan2nya (baik yang di partai atau luar partai), tapi rakyat kita juga begitu, giliran ada kampanye berbondong-bondong seakan-akan ikut mensukseskan kampanye (entah benar2 apa tidak) dengan segala atribut kesenangannya (hiburan, dangdut, game, dll..), tiba waktunya memilih blank akhirnya, akhirnya terpilihlah pemimpin asal2an. kita rakyat memang WAJIB untuk memilih pemimpin (apalagi seorang muslim), tapi perhatikanlah sebenar-benarnya…, jangan nanti sudah terpilih gak suka demo atau saat pemilihan gak mau ikut milih (golput katanya) tapi kalau di ajak demo ikut demo juga (ngerusak lagi), jadi kita ini sebagai rakyat yang menentukan pemimpin (katanya..) kapan kita mau belajar sebenar-benarnya agar pemimpin kita gak salah lagi nantinya, itu yang kita perlu sebagai rakyat (memahami sesuatu)dan informasi yang sejujur2nya dari calon pemimpin.
Prayitno Ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 10:01 pm
@Mas Helmi, Terima kasih ya tanggapannya, yah kmari kita sama2 berdoa agar pemilu th 2009 berjalan dengan aman dan tertib, Amin.Salam>Pray.
— 23 Desember 2008 jam 10:01 pm
@Mas Helmi, Terima kasih ya tanggapannya, yah kmari kita sama2 berdoa agar pemilu th 2009 berjalan dengan aman dan tertib, Amin.Salam>Pray.
@Viant, terima klasih tanggapannya, semoga pemimpin yang dipilih nanti bisa memenuhi apa keinginan rakyatnya, dan rakyat juga berperilaku baik demi kemajuan bangsa ini.Salam>Pray.
Rahardjo,
— 24 Desember 2008 jam 10:21 am
Saya pengagum berat SBY yang telah terbukti 4 tahun lebih ini membawa perubahan dan kesegaran terutama dalam membrangus para koruptor yang selama ini menggrogoti uang rakyat. Insya Allah SBY terpilih lagi, pemerintah yang berani membrangus koruptor itulah yang akan membawa kesejahteraan rakyat. Mudah2ah kalau terpilih lagi dapat lebih mendengarkan suara rakyat kecil, saya percaya kok kalau nanti SBY akan menutupi kekurangannya selama ini. Bu Mega kurang pintar dan gampang disetir orang2 disekelilingnya. beliau banyak didukung karena PDIPnya bukan program2nya, terbukti teman2 tukang sayur, tukang ojek dan prt disekeliling saya banyak yang tidak tahu programnya tapi penggemar berat Bu Mega, iklan sembako menurut saya akan menjadi bumerang, nggak gampang nurunkan harga sembako, Prabowo itu hebat tapi kalau jadi Presiden terus First ladynya siapa?.Salam hormat Pak Pray ….
— 24 Desember 2008 jam 10:21 am
Saya pengagum berat SBY yang telah terbukti 4 tahun lebih ini membawa perubahan dan kesegaran terutama dalam membrangus para koruptor yang selama ini menggrogoti uang rakyat. Insya Allah SBY terpilih lagi, pemerintah yang berani membrangus koruptor itulah yang akan membawa kesejahteraan rakyat. Mudah2ah kalau terpilih lagi dapat lebih mendengarkan suara rakyat kecil, saya percaya kok kalau nanti SBY akan menutupi kekurangannya selama ini. Bu Mega kurang pintar dan gampang disetir orang2 disekelilingnya. beliau banyak didukung karena PDIPnya bukan program2nya, terbukti teman2 tukang sayur, tukang ojek dan prt disekeliling saya banyak yang tidak tahu programnya tapi penggemar berat Bu Mega, iklan sembako menurut saya akan menjadi bumerang, nggak gampang nurunkan harga sembako, Prabowo itu hebat tapi kalau jadi Presiden terus First ladynya siapa?.Salam hormat Pak Pray ….
prayitno ramelan,
— 24 Desember 2008 jam 11:11 am
@Mas Rahardjo, pengagum berat SBY, terlebih ibu2 itu ya, sudah gagah, pinter katanya, memang memberangus koruptor upayanya yg bagus. Tapi sayangnya yg berhasil ditekan baru dari kalangan Kelompok Politisi yg disebut sebagai Kekuasaan Kelompok Kepentingan,terbukti langsung lumpuh begitu di tetapkan sebagai tersangka. Tetapi para pelaku ekonomi (Hegemoni Elit) yang terkait dalam kasus BLBI itu sebenarnya target utama menurut saya, konon ada 600 trilyun yg dibawa kabur, baru berapa banyak sih yg bisa dikembalikan ke negara?Butuh keberanian ekstra melawan sindikat tersebut, karena jaringannya sudah sangat luas. Contoh kecil sudah ada bukan “Artalyta”, hanya pucuk kecil dari jaringan gurita itu, itupun sudah melibatkan dan mampu mempengaruhi banyak orang kan mas. Tentang Bu Mega, kalau dikatakan kurang pintar sebenarnya tidak juga, ini saya katakan jujur, saya bukan pendukung Mega, saya sedang kembali akan menulis ttg Mega. Tapi yah yang sekarang terbentuk opini Mega ini kurang pintar, jauh dibandingkan SBY…begitu kali ya. Kalau Prabowo sebaiknya diambil bu Mega jadi Cawapresnya, dia yg akan bisa menandingi SBY nanti, kualitasnya hampir sama tuh. Ok Mas Rahardjo,terimakasih banyak ya.Salam>Pray.
— 24 Desember 2008 jam 11:11 am
@Mas Rahardjo, pengagum berat SBY, terlebih ibu2 itu ya, sudah gagah, pinter katanya, memang memberangus koruptor upayanya yg bagus. Tapi sayangnya yg berhasil ditekan baru dari kalangan Kelompok Politisi yg disebut sebagai Kekuasaan Kelompok Kepentingan,terbukti langsung lumpuh begitu di tetapkan sebagai tersangka. Tetapi para pelaku ekonomi (Hegemoni Elit) yang terkait dalam kasus BLBI itu sebenarnya target utama menurut saya, konon ada 600 trilyun yg dibawa kabur, baru berapa banyak sih yg bisa dikembalikan ke negara?Butuh keberanian ekstra melawan sindikat tersebut, karena jaringannya sudah sangat luas. Contoh kecil sudah ada bukan “Artalyta”, hanya pucuk kecil dari jaringan gurita itu, itupun sudah melibatkan dan mampu mempengaruhi banyak orang kan mas. Tentang Bu Mega, kalau dikatakan kurang pintar sebenarnya tidak juga, ini saya katakan jujur, saya bukan pendukung Mega, saya sedang kembali akan menulis ttg Mega. Tapi yah yang sekarang terbentuk opini Mega ini kurang pintar, jauh dibandingkan SBY…begitu kali ya. Kalau Prabowo sebaiknya diambil bu Mega jadi Cawapresnya, dia yg akan bisa menandingi SBY nanti, kualitasnya hampir sama tuh. Ok Mas Rahardjo,terimakasih banyak ya.Salam>Pray.
Fadli,
— 27 Desember 2008 jam 4:05 pm
Saya takut negeri kita mengalami kemunduran jika Mega berkuasa. Apakah Aceh bisa damai seperti sekarang jika Mega berkuasa? Apakah negara kita tidak akan dipermalukan lagi didunia international seperti Sipadan Ligitan? Apakah tidak ada lagi penjualan asset penting dan penjualan gas murah? pembunuhan aktivis? negara kita akan mengalami lagi kemunduran…saatnya pesan2 seperti ini disebarluaskan keseluruh pemilih..supaya seperti kata Sukarno “jangan sekali kali melupakan sejarah” bisa kita ingat..Jika ada yg mau membuat iklan utk mengingatkan hal tersebut saya bersedia menyumbang…
— 27 Desember 2008 jam 4:05 pm
Saya takut negeri kita mengalami kemunduran jika Mega berkuasa. Apakah Aceh bisa damai seperti sekarang jika Mega berkuasa? Apakah negara kita tidak akan dipermalukan lagi didunia international seperti Sipadan Ligitan? Apakah tidak ada lagi penjualan asset penting dan penjualan gas murah? pembunuhan aktivis? negara kita akan mengalami lagi kemunduran…saatnya pesan2 seperti ini disebarluaskan keseluruh pemilih..supaya seperti kata Sukarno “jangan sekali kali melupakan sejarah” bisa kita ingat..Jika ada yg mau membuat iklan utk mengingatkan hal tersebut saya bersedia menyumbang…
Prayitno Ramelan,
— 27 Desember 2008 jam 9:18 pm
Wah, ini ada Mas Fadli mau nyumbang kalau ada yang mau buat iklan anti Mega, coba hubungi saja parpol2 lawan politik yang rata-rata sedang kesulitan dana, mesti pada bersemangat tuh Mas. Salam>Pray.
— 27 Desember 2008 jam 9:18 pm
Wah, ini ada Mas Fadli mau nyumbang kalau ada yang mau buat iklan anti Mega, coba hubungi saja parpol2 lawan politik yang rata-rata sedang kesulitan dana, mesti pada bersemangat tuh Mas. Salam>Pray.
PKB Yang Dulu Hebat, Kini…?

Oleh : Prayitno Ramelan - 19 Desember 2008
Pada artikel terdahulu telah dibahas bahwa sejak pemilu tahun 1955 hingga pemilu 2004 belum sekalipun ada partai yang berbasis Islam mampu mengalahkan perolehan suaranya dari partai nasionalis. Salah satu kelemahan partai Islam diantaranya karena sistem pengelolaan partai dilakukan secara tradisional, upayanya lebih terfokus dalam menarik konstituen tradisional yang beragama Islam.
Apabila diperhatikan, sebenarnya PKB sebagai partai Islam pada pemilu 1999 pernah berhasil membuktikan bahwa manajemen parpol secara modern, dikaitkan dengan “patron” akan mampu menarik konstituen. PKB dibawa bergeser ketengah dengan pintar dan demokratis. Upaya dan keberhasilan PKB pada dua pemilu yang lalu menjadi sebuah fenomena yang kiranya perlu dijadikan sebuah pelajaran bagi partai Islam lainnya, dan dicontoh untuk kemajuan masing-masing.
PKB dideklarasikan pada tanggal 23 Juli 1998 dihalaman depan kediaman KH Abdurrahman Wahid dihadapan ribuan warga NU, disaksikan perwakilan partai dan juga dihadiri dua mantan petinggi ABRI Jenderal Try Sutrisno dan Jenderal Edy Sudradjat (Alm). Gus Dur yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU menetapkan KH Ma’ruf Amin sebagai Ketua Dewan Syura dan H Matori Abdul Djalil (alm) sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz, sebagai Sekjen diangkat Drs Muhaimin Iskandar.
Nama PKB sesungguhnya sudah digunakan oleh leluhur NU pada tahun 1916 saat mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Bangsa). Kebangkitan adalah terjemahan dari kata “nahdlah” yang digunakan NU (Nahdlatul Ulama), kata “Bangsa” dipilih dengan pemikiran strategis, dikaitkan dengan kondisi bangsa Indonesia yang terdiri dari dari beragam agama, suku dan golongan, diharapkan bersatu dalam payung atas nama bangsa Indonesia.
Dibawah kepemimpinan Pak Matori, PKB dikelola secara modern, para pengurus mendapat pesan khusus Matori agar menjauhkan PKB dari kesan “terbelakang”. PKB bekerja sama dengan Matari Advertising, menggarap logo, stempel, kop surat, kartu nama dan atribut PKB yang diformat dengan sentuhan artistik, semuanya disesuaikan dan diseragamkan. Logo PKB dibedah, disesuaikan lebih cantik serta berfilosofi dengan memberi 9 goresan. Angka 9 sudah melekat dikalangan NU, mulai bintang sembilan, wali sembilan, panutan Nabi Muhammad, 4 khalifah dan 4 madzhab juga berjumlah sembilan.
Dibawahnya logo ditambah slogan “Maju Tak Gentar, Membela Yang Benar”, dengan dasar pemikiran dan harapan PKB akan menjadi pilihan semua orang. Matori menciptakan yel-yel dengan isyarat jari jempol dan telunjuk diacungkan keatas. Jika isyarat sudah diacungkan dan diucapkan, “PKB Membela yang Benar”, maka massa akan menjawab,”Benr,Benar,Benar…!”. Yel-yel dan slogan itu sempat menjadi “tagline” di mana-mana. Dalam kampanye pemilu 1999, iklan di TV yang menampilkan Matori dan Gus Dur, menjadi iklan favorit. Matori mampu mempopulerkan “Maju Tak Gentar,Membela Yang Benar” identik dengan PKB.
Nah, hal-hal diatas tidak pernah dipikirkan oleh politisi biasa saat itu, semua sentuhan modern dilakukan Matori dan Matari. Hajatan pertama di Senayan, dahsyat, diisi sambutan Gus Dur yang karena sakit tidak dapat hadir, ditampilkan melalui rekaman video ”Meski saya tidak bisa melihat, namun saya dapat mendengar bangsa Indonesia sedang bernyanyi…., mari kita bangkit dan maju tak gentar membela yang benar bersama PKB!” demikian sambutan Gus Dur yang disambut tangis dan teriakan haru membahana dari seluruh yang hadir. Peresmian atribut PKB divisualisasikan secara dramatik, dan berhasil membangkitkan kepercayaan diri serta kebanggaan pada PKB.
Demikian juga saat peresmian DPW dan pelantikan 28.855 pengurus cabang, ranting seluruh Jawa Timur, acara dihadiri ratusan ribu simpatisan, dimeriahkan berbagai atraksi kesenian, termasuk kesenian “Cina”, barongsai, liong yang sebelumnya ditabukan. Penyebaran PKB kedaerah-daerah dan wilayah sangat cepat, selain dikelola secara profesional, juga didukung infrastuktur NU yang sudah mapan diseluruh Indonesia.
Dari semua jerih payah Matori dan pengurus, maka pada pemilu 7 Juli 1999 yang diikuti oleh 48 Partai politik, hanya 21 yang lolos ke Senayan, PKB menduduki “tiga besar”. PDIP meraih 35.689.73 suara (33,74%), Golkar 23.741.758 (22,44%) dan PKB diurutan ketiga memperolah 13.336.982 (12,61%). Sementara PPP sebagai partai lama mendapat 10,71% (kehilangan 31 kursi dibanding pemilu 1997) dan PAN mendapat 7,12%.
Pada pemilu 2004, PKB masih berada diposisi ketiga perolehan suara nasional terbanyak. Dengan urutan Golkar posisi pertama (21,58%), PDIP (18,53%), PKB (10,57%), PPP (8,15%), Partai Demokrat (7,45%), PKS (7,34%), PAN (6,44%).
Sebagai parpol yang baru saja terjun pada pemilu 1999, keberhasilan PKB disebabkan karena tiga hal, PKB dibentuk oleh PBNU yang mempunyai massa “nahdliyin” yang jelas di bawah “network” pesantren-pesantren NU. PKB dikelola secara profesional dan modern oleh Ketua Dewan Tanfidz “Matori Abdul Djalil’ (Alm), PKB memiliki tokoh sentral “Gus Dur” yang dikalangan nahdliyin kedudukannya sangat dihormati. Dikalangan nahdliyin berkembang mitos bahwa ditanah Jawa terdapat dua keturunan “darah biru”, yaitu darah biru keturunan raja Jawa dan darah biru Islam keturunan KH Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU.
Para keturunan KH Hasyim Asy’ari disebut sebagai kiai “Nasab”, umumnya dipanggil dengan gelar “Gus” (Gus Dur, Gus Coi, Gus Sholah, Gus Ipul dan lainnya). Selain kiai nasab dikalangan NU juga terdapat kiai karier yaitu orang biasa yang belajar dan memperdalam ilmu ke Islaman hingga mendapat gelar kiai, diantaranya adalah KH Hasyim Muzadi. Sebagai kiai nasab Gus Dur sangatlah dihormati, bahkan diperlakukan bak seorang raja di antara nahdliyin. Oleh karena itu maka begitu PKB diterjunkan pada pemilu 1999, langsung menyedot nahdliyin, dan PKB langsung berada di posisi “tiga besar”.
Sejak pemilu 1999-2004 seperti biasa, terjadi konflik berat, Matori dipecat oleh Gus Dur karena langkah politiknya, Alwi Shihab melanjutkan kepemimpinan di PKB, dan dengan sisa kharisma Gus Dur PKB masih berada di posisi tiga besar, tapi perolehan suaranya merosot dari 12,61% menjadi 10,57%. Konflik terus berlanjut, Alwi Shihab juga dipecat, Muhaimin Iskandar (keponakan Gus Dur) menggantikan Alwi. Kasus terparah Cak Imin juga dipecat, dan bersama Lukman Edy melakukan perlawanan hukum, hingga akhirnya Cak Imin disyahkan oleh pemerintah dan KPU sebagai pimpinan PKB yang sah.
Diakui ataupun tidak secara langsung massa PKB mulai jenuh dengan konflik yang tak kunjung usai. Kemerosotan PKB terlihat dari Pilkada Jawa Tengah dan Jawa Timur, calon gubernur yang diusung PKB hanya menduduki posisi bawah, PKB menjadi “lumpuh” di sarangnya sendiri. Kini masih beruntung dua kandidat cagub/cawagub Jatim yang bertarung masih berbau kaum Nahdlatul Ulama.
Nah, dari perjalanan suramnya, masih mampukah PKB kembali duduk sebagai tiga besar pada pemilu 2009?. Ini pertanyaan yang menggelitik. Konflik masih berlanjut, bingungnya nahdliyin, turunnya kharisma kepemimpinan, hilangnya “patron”, politik bumi hangus Gus Dur yang menyerukan golput, bergesernya Gus Dur ke posisi parpol lain, pendirian Ormas GATARA oleh Gusdur pada 3 Desember 2008. Semua itu seharusnya disadari oleh elit PKB, untuk segera melakukan langkah-langkah penyelamatan.
Konstituen pemilu masa kini terlepas dari asas apapun sudah lebih memahami kondisi politik dimana dia akan menyalurkan haknya. Perubahan pola komunikasi yang mengutamakan media massa sebagai sarana harus disikapi dengan cerdik. Kalau tidak, PKB hanya akan mendapat suara tradisional dari kaum nahdliyin yang dikontrol kiai. Walau secara hukum sang raja “Gus Dur” sudah dibuat tidak berdaya, tapi pengikut fanatisnya masih cukup besar, inilah tantangan berat yang harus diatasi oleh Muhaimin Iskandar.
Sangat disayangkan, sebenarnya PKB sebagai partai yang pernah menjadi juara dua kali pemilu dikalangan partai Islam kini terlihat kurang meyakinkan, elitnya kurang mampu mengatasi “manajemen konflik” Gus Dur sebagai pemain utamanya. Maka massa PKB sebagai “ikan-ikan” gemuk akan dituai oleh PPP, PKNU dan partai Islam lainnya. Mari kita lihat bagaimana kemampuan Cak Imin dan Lukman Edy menjaga ini semua. Mampukan dalam sisa waktu tiga bulan meniru gurunya Pak Matori? Selamat berjuang, ingat slogan keramatnya : “PKB Membela Yang Benar”…Benar,Benar,Benar…tapi maaf nggih, benar ingkang pundi???. Teriring salam hormat penulis untuk Mbah Dim (KH Dimyati Rais, Kaliwungu).
16 tanggapan untuk “PKB Yang Dulu Hebat, Kini…?”
Pepih Nugraha,
— 19 Desember 2008 jam 10:02 am
Waduh, lengkap dan mantapppp sekali postingan Pak Pray tentang PKB ini. Terus terang, mungkin karena saya luput baca saja, baru kali ini saya mendapat pencerahan politik soal PKB. Peran Pak Matori yang kemudian mendirikan PKD setelah dipecat Gus Dur ternyata begitu besar, sesuatu yang jarang atau belum terungkap selama ini.
— 19 Desember 2008 jam 10:02 am
Waduh, lengkap dan mantapppp sekali postingan Pak Pray tentang PKB ini. Terus terang, mungkin karena saya luput baca saja, baru kali ini saya mendapat pencerahan politik soal PKB. Peran Pak Matori yang kemudian mendirikan PKD setelah dipecat Gus Dur ternyata begitu besar, sesuatu yang jarang atau belum terungkap selama ini.
Dalam perjalanan liputan politik periode 1996-2001, saya kebetulan pernah bersinggungan dengan Gus Dur, Matori, Alwi Shihab, dan bahkan Muhaimin Iskandar. Dengan Cak Imin kalau bertemu di tempat keramaian (malaum dia sudah jadi orang penting dan terus dikawal-kawal), saya teriakan saja “EDUSKUNTA”, Cak Imin pasti akan menoleh dan tahu persis siapa yang meneriaki kata sandi untuk kami berdua. Memang tugas berat bagi Cak Imin yang dipundaknya saat ini harus bertarung di pileg dan pilpres. Pileg April nanti akan menjadi ujian terberatnya, apakah PKB mampu (setidak-tidaknya) tetap menduduki posisi tiga, atau paling tidak perolehan kursi (suara) tidak melorot dari dua pileg sebelumnya.
Tahun 2006 saat terjadi kerusuhan Tuban, jawa Timur, pasca pilkada, saya bertemu dengan komunitas Tionghoa yang sangat menghormati Gus Dur (di mata mereka Gus Dur adalah pahlawan). Warga Tionghoa pasar sampai elit menyatakan mencoblos PKB karena Gus Dur. “Katakan Gus Dur bikin partai lain, kami akan pilih partai lain itu,” demikian kata tokoh warga Tionghoa Tuban saat saya wawancarai. Saya tidak berkesempatan mewawancara warga pesantren. Tetapi saya rasa, para santri tentulah menokohkan Gus Dur sebagai panutan utama mereka dalam tataran politik praktis.
Bukan bermaksud mendahului kalau saya katakan tugas Cak Imin dengan PKB nya saat ini teramat sangat berat. “Politik bumi hangus” Gus Dur yang menggiring pengikutnya untuk golput pastilah sangat berpengaruh, meski saya tidak tahu sebesar apa pengaruhnya. Secara de jure untuk konteks PKB, Gus Dur memang kalah. Tetapi de facto, tokoh mana di kalangan Nahdliyin saat ini yang mampu mengatasi popularitas dan kharisma Gus Dur? Maaf kalau saya katakan, belum ada.
Suka atau tidak, meskipun kita (pers) mendorong terciptanya suatu “partai politik modern” yang tidak boleh bergantung pada satu figur sentral dan harus terdepan karena program-programnya, tetap saja figur ini masih mendominasi ruang pikir para pemilih saat hendak menyalurkan suaranya. Artinya, PKB sebenarnya masih sangat bergantung pada figur Gus Dur. Ketika Gus Dur sudah menyatakan politik bumi hangus (aduh serem sekali istilahnya) dan menegaskan tidak mendukung PKB lagi, kita bisa mengira-ngira hasilnya. Saya cenderung mengatakan perolehan suaranya “turun” untuk tidak mengatakan “anjlok”. Semoga kesimpulan saya keliru….
eepkhunaefi,
— 19 Desember 2008 jam 11:29 am
Berat dan berat sekali perjuangannya. Dalam kondisi seperti ini saya punya keyakinan kuat perolehan suara PKB di bawah PKS yang semakin cerdas dalam berkampanye, salah satunya dengan diadakannya PKS Award.
Ayo PKB berdamailah agar saya senang lagi pada Anda! Agar bapak saya yang dulu fanatik kembali lagi ke pangkuanmu. Buat Gus Dur, bersabarlah! Buat Cak Imin, mampukah Anda meyakinkan pendukung PKB bahwa tanpa Gus Dur partai ini akan tetap eksis dan meraih suara bagus dalam pemilu nanti. Kita tunggu ya.
Buat Pak De, saya tunggu selalu karya-karya Anda. Semakin uzur kian produktif aja nih.
Buat Pak De, saya tunggu selalu karya-karya Anda. Semakin uzur kian produktif aja nih.
Prayitno Ramelan,
— 19 Desember 2008 jam 11:40 am
Mas Pepih, terima kasih sekali tanggapannya yang sangat melengkapi dan juga memperkuat argumentasi yang saya sampaikan. Kalau dipikir sayang ya dengan PKB ini…partai lain setengah mati untuk mendapatkan konstituen, eh…PKB yang konstituennya sudah jadi kok melalaikannya. Tapi yah itulah…Pak Matori pernah bercerita kepada saya bahwa saat beliau akan menjadi Ketua PKB pertama yg ditentang beberapa tokoh di PBNU, Gus Dur membela mati2an dan mengatakan “tidak apa2, kalau tidak ada perbedaan pendapat bukan di NU” dan Gus Dur akan mendirikan partai lain kalau Matori ditolak.
— 19 Desember 2008 jam 11:40 am
Mas Pepih, terima kasih sekali tanggapannya yang sangat melengkapi dan juga memperkuat argumentasi yang saya sampaikan. Kalau dipikir sayang ya dengan PKB ini…partai lain setengah mati untuk mendapatkan konstituen, eh…PKB yang konstituennya sudah jadi kok melalaikannya. Tapi yah itulah…Pak Matori pernah bercerita kepada saya bahwa saat beliau akan menjadi Ketua PKB pertama yg ditentang beberapa tokoh di PBNU, Gus Dur membela mati2an dan mengatakan “tidak apa2, kalau tidak ada perbedaan pendapat bukan di NU” dan Gus Dur akan mendirikan partai lain kalau Matori ditolak.
Jadi sejak awal pembentukan jelas sudah terjadi konflik ditubuh bayi PKB. Itulah yang menurut saya suatu kelemahan sebuah partai dengan budaya pesantren, disana peran kiai sangat kuat, sementara sebagai suatu partai PKB harus bergerak sesuai dengan dinamika politik yang sedang terjadi. Dua pemikiran yang sulit dipertemukan tadi menurut saya diantaranya yang sangat berpengaruh terhadap pecahnya PKB. Cak Imin dan Lukman Edy adalah sebuah bukti pemberontakan anak muda terhadap kultur budaya pesantren yang sangat ketat tadi. Sebagian kekuatan PKB telah pecah menjadi PKNU, sebagian ke Cak Imin dan sebagian ke Gus Dur. Mereka yang sulit dipersatukan atau mungkin tidak sadar sengaja ada memecah? Berat memang tugas “EDUSKUNTA” yg Mas Pepih sebut tadi. Salam>Pray.
Prayitno Ramelan,
— 19 Desember 2008 jam 11:44 am
@Mas Eep, semoga bisa terpuaskan ya membaca artikel ini, kan anda juga yang minta saya nulis tentang PKB, nah hanya sebegitulah kira-kira kemampuan saya memberikan fakta dan analisis. Semoga tanggapan anda dibaca oleh para elit PKB itu>Terima kasih.Pray
Novri,
— 19 Desember 2008 jam 4:41 pm
Terima kasih pak Pray…Saya jadi ada pengetahuan baru tentang PKB dan seluk beluk internalnya.. Selama ini yang saya tahu ada konflik di tubuh PKB dan tokoh sentral PKB ya Gus Dur. Ya cuma itu thok… Apalagi pengetahuan saya tentang politik masih samar-samar (belum bisa dibilang dangkal, karena memang blasss belum tahu)Jadi ya.. baca tulisan pak Pray dan baca komentar yang masuk, bisa bikin saya mlek PKB.
Comment saya sih..(orang yang awam politik) : Kalau di internal aja ada konflik, gimana bisa menampung dan memanage aspirasi luar..
Nuwun sewu kalau saya salah.
— 19 Desember 2008 jam 4:41 pm
Terima kasih pak Pray…Saya jadi ada pengetahuan baru tentang PKB dan seluk beluk internalnya.. Selama ini yang saya tahu ada konflik di tubuh PKB dan tokoh sentral PKB ya Gus Dur. Ya cuma itu thok… Apalagi pengetahuan saya tentang politik masih samar-samar (belum bisa dibilang dangkal, karena memang blasss belum tahu)Jadi ya.. baca tulisan pak Pray dan baca komentar yang masuk, bisa bikin saya mlek PKB.
Comment saya sih..(orang yang awam politik) : Kalau di internal aja ada konflik, gimana bisa menampung dan memanage aspirasi luar..
Nuwun sewu kalau saya salah.
prayitno ramelan,
— 19 Desember 2008 jam 9:02 pm
Novri, syukur kalau tulisan itu bermanfaat sebagai penambah wawasan, saya kebetulan pernah mendampingi Pak Matori saat beliau jadi Menhan selama 2,5 tahun, ya otomatis jadi mengikuti gerak langkahnya saat berkonflik dengan Gus Dur. Jadi itulah kira2 gambaran PKB, pada kesimpulannya tulisan saya buat berdasarkan pengamatan saya dikalangan PKB. Saya bukan warga PKB, tapi tentara tulen yg berprinsip NKRI yg berdasarkan Pancasila dan UUD45 adalah final, kebetulan saya ikut masuk mendampingi beliau ke pesantren2 dan kesemua jaringan PKB. Sehingga sedikit banyak mengetahui kultur didalamnya. Ya begitulah, sangat disayangkan memang PKB sebagai Partai Islam terunggul akhirnya tercerai berai karena ambisi dan kultur serta sikap tidak mau mengalah para elitnya. Saya belum melihat kini seorang pimpinan partai yg berfikir jauh kedepan, modern dan mempunyai kemampuan sehebat Pak Matori. Saya setuju Novri pendapat anda, kalau didalam saja terus berkonflik…bagaimana mau maju (saya tambah dikit ya.). Salam>Pray.
Junanto Herdiawan,
— 20 Desember 2008 jam 6:03 pm
Pak Prayit, tulisan yang sungguh mencerahkan. Pandangan Bapak sebagai orang dalam sekaligus bukan warga PKB menjadikan tulisan ini memiliki bobot dan kredibilitas. Seperti mengungkap hal yang belum terungkap. Saat ini calon presiden yang memiliki massa fanatik hanya dua, Gus Dur dan Mega. Keduanya memiliki massa yang “pejah gesang nderek bapak/ibune”. Apapun kata pimpinan, kami taklid, ngikut. Untuk karakter bangsa kita saat ini, sifat itu sungguh wajar. Bukan irrasional, tapi metarasional. Tak bisa dijelaskan dengan rasio, seradikal apapun rasio kita. Oleh karenanya, sungguh sayang apabila PKB memang tidak memanfaatkan metarasionalitas para pemilih itu. Mungkin di masa-masa depan menarik tuh pak kalau dibuat buku, judulnya “PKB, riwayatmu dulu…”. Buat mengenang bahwa PKB dulu pernah ada (di tiga besar) dan jaya…. Salam pak.
Prayitno Ramelan,
— 20 Desember 2008 jam 6:32 pm
@Yunanto, justru itu, sebenarnya pkb bisa diharapkan sebagai sebuah partai yg moderat, dia oleh Gus Dur tadinya sudah benar dibawa ketengah, menampung beragam etnik dan agama, tapi akhirnya Gus Durpun juga tergelincir kurang menerapkan kepemimpinan dengan kulturnya dalam sebuah kehidupan politik…nah akhirnya terjadi konflik yg berlanjut, dengan siapa saja, pak Matori, Alwi dan Muhaimin. Semuanya kurang menyadari konflik cepat atau lambat akan merusak parpol itu sendiri. Dan kenyataannya ya demikian bukan,kini secara perlahan akan terpuruk, padahal partai ini yg tadinya bisa diharapkan sebagai parpol Islam unggulan, sudah dua kali pemilu berada diposisi ketiga…entah 2009 dia akan duduk diposisi berapa. Padahal kabarnya warga nahdliyin jumlahnya lebih dari 30 juta…dan mereka tidak mampu memanfaatkan yg anda sebut itu metarasionalitas para pemilih, karena tokohnya sudah berada diluar sistem. Saya kira bagus kalau dibuat buku dengan judul itu, PKB, riwayatmu dulu. Terima kasih tanggapannya ya.Salam>Pray
Gi,
— 21 Desember 2008 jam 1:57 pm
Salam,
Semakin menarik, bahasan parpol berimbang, terfokus dan mendalam. Sesuai dengan fakta di lapangan.
Apa mungkin bapak akan membahas ke-38 kontestan parpol Pemilu 2009 ini nanti, hehe…
PKB di mata saya pribadi, memanglah parpol besar (peringkat 3 di Pemilu 2004) dengan suara 11 juta suara lebih (lumbungnya di Jawa Timur dan sebagian Kalimantan Selatan). Memang disayangkan banyak terjadi konflik internal yang tak berujung. Sehingga melahirkan peranakan-prenakan baru PPNUI (2004), PKNU (2009), dan yang bungsu baru terlahir GATARA (2009) namun bukan (belum) menjadi kontestan, mungkin di 2014? Entahlah… Politik pastinya akan tetap dinamis dan banyak hal yang tak terduga dalam waktu singkat.
Salam,Gi
prayitno ramelan,
— 21 Desember 2008 jam 9:51 pm
Gi, terima kasih pendapatnya, saya kira tidak cukup waktu nij untuk membahas 38 parpol, wah mengumpulkan data beberapa parpol saja mata sudah berat Gi, maklum mata sudah agak umur nih, tidak terlalu tahan dimuka layar PC lama-lama, belum lagi kan membalas tanggapan para sahabat2 dan teman2 baik itu yg saya sangat hargai. Begitu ya Gi.Salam>Pray
mahendra,
— 22 Desember 2008 jam 8:28 am
PKB memang membuat saya merinding waktu dulunya pertama kali berdiri… tapi lama kelamaan semakin tidak memberikan kesan yang berarti, itu knp pak? konflik berkepanjangan kah? atau kebijakannya mungkin? tapi yang jelas PKB tanpa Gus Dur seperti tubuh tanpa nyawa, lihat saja nanti PKB muhaimin untuk memcapai 5 besar saja kayaknya sulit bukan main.malah nanti yang menduduki urutan nomer 3 adalah golput yang di serukan gusdur. (maaf pak pray ya, ini cuma tebakan saya aja yang sok tau)
prayitno ramelan,
— 22 Desember 2008 jam 8:41 am
Mas Mahendra, memang sayang ya melihat PKB yang akhirnya tercerai berai, kalau mau besar lgi, Gus Dur dan Muhaimin harus kembali bersatu, saya pernah membuat artikel dan ditayangkan di Koran SINDO dengan judul “Imbauan Kepada Gus Dur”…saya setuju PKB akan tidak bisa menduduki tiga besar…lima besar juga saya setuju sulit seperti yg dikatakan Mas Mahendra. Tks ya>Salam>Pray.
aramichi,
— 22 Desember 2008 jam 9:49 pm
Yth Pak Prayitno
NU dan PKB memang sesuatu yang unik pak, kalau saya lihat dari dulu massa yang paling soliditu massa NU. Pemilu 1955 NU nomor 3 padahal petingginya sering diremehkan sebagai kaum sarungan berbeda dengan petinggi Masyumi yang berpendidikan Barat, Tahun 1971 NUdibulldozer tapi tetap eksis perlawanan dilakukan oleh Subhan ZE , demikian juga tahun 1977 dan tahun 1982. Tahun 1987 PPP digembosi NU dan hasilnya suara PPP merosot drastis di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kemudian seperti yang bapak sampaikan 1999 dan 2004 PKB tetap No 3 tapi ada keganjilan di sini sekalipun suaranya no 3 kursi DPRnya selalu di bawahnya, tahun 1999 no 4 setelah PDIP, Golkar dan PPP. Tahun 2004 lebih parah lagi No 6 setelah Golkar, PDIP, PPP, Partai Demokrat, PAN. Padahal PKB itu 10,57 % tapi kursi DPR bisa kalah dengan PAN yang 6,44 %, PAN 53 kursi PKB hanya 52 kursi. Berarti sistem pemilu tidak menguntungkan untuk partai dengan karakteristik seperti PKB, sistem pemilu lebih menguntungkan untuk partai seperti PPP dan PAN yang suaranya menyebar di seluruh penjuru Tanah Air karena ada yang disebut sisa suara, jadi kursi DPR yang didapatkan dari hasil sisa suara yang tidak habis dibagi .
Itu kalau kita lihat dari sistem pemilu, kalau kita lihat dari pindahnya kiai Khos lebih parah lagi, kiai yang pindah ke PKNU itu adalah patron di daerah masing masing. Kalau kita melihat Madura saja biarpun Gusdur bilang PKB itu keluar dari ayam ( maksudnya NU ) tetap saja di Sampang dan Pamekasan PPP bisa unjuk gigi itu karena peran kiai lokal seperti Alawy Muhammad. Tahun 2004 KH Fawaid As’ad pindah dari PKB ke PPP dan suara PPP di Situbondo yang tadinya terpuruk tiba tiba melejit, sekarang saya dengar Lora Cholil As’ad bergabung ke PKNU. Simpul PKB itu Kiai dan pondok pesantren kalau simpul sudah lepas kondisi akan berat biarpun ditopang Gusdur sekalipun apalagi kalau Gusdur menyerukan penggembosan bisa bisa kejadian yang dialami PPP tahun 1987 terjadi pada PKB tahun 2009. Kalau prediksi saya kemungkinan besar suara PKB akan turun dan kursi DPR juga turun jadi kemungkinan nilai tawar PKB akan lebih rendah dari 2004 tapi kalau “kiprah di pemerintahan seperti sekarang ” saya rasa masih dapat tergantung apakah calon yang didukung PKB bisa jadi presiden atau tidak.
prayitno ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 11:12 pm
Aramichi, wah bagus sekali tanggapannya, terima kasih sudah semakin melengkapi tulisan tentang PKB itu, yah memang sama perkiraan kita itu, pada pemilu 2009, PKB akan berat sekali untuk kembali muncul sebagai juara dikalangan parpol yang berasas Islam. PKNU bisa2 cukup besar suaranya ya…Ok deh, tks.Salam>Pray.
adhy,
— 24 Desember 2008 jam 2:44 pm
begitulah nasib partai-partai yang bersandar kpd Figur… PKB, PAN. siapa lagi akan menyusul ?
PDIP juga rentan. 2014 apakah PDIP jg masih sekuat sekarang? kalo 2009 Mega jadi presiden lg mungkin umur PDIP masih akan bertahan agak lama. tp kalo gagal…
waktu saya kuliah pernah ikut latihan kepemimpinan. dapat ilmu, bahwa pemimpin yang sukses adalah bukan dilihat pada karyanya yg banyak ketika memimpin, tapi siapa dan bagaimana pengganti setelahnya.kalo penerusnya lebih buruk dg dirinya, maka sebesar apapun berkembang organisasi dibawahnya akan hancur tak bersisa oleh penerusnya.
Prayitno Ramelan,
— 24 Desember 2008 jam 3:54 pm
Adhy, iya saya setuju memang lebih baik kalau partai tidak bersandar pada satu figur, rentan,mudah diserang, PKB sekarang agak lemah saya kira karena figurnya tersingkirkan. Dan bagus itu, memang benar bahwa pemimpin yang baik harus mampu mengkaderisasi. Kita lihat nanti tahun 2014 mudah2an kaderisasi sudah berjalan dan capres2 muda yg akan bersaing. OK, salam>Pray
Langgan:
Entri (Atom)
